Oleh: Tammasse Balla
Kita tertidur di satu dunia
dan terbangun di dunia lain
Tiba-tiba Disneyland tidak indah lagi; Paris tidak romantis lagi; Kembang Sakura di Jepang tak semerbak lagi; Air Terjun Niagara tak elok lagi; Colloseum di Roma tak sakral lagi; Patung Liberty di New York tak indah lagi; Swiss bukan lagi kota idaman; Tembok Cina bukan lagi impian; Venesia bukan lagi kota incaran; Dubai bukan lagi kota dambaan; Amsterdam bukan lagi kota impian; Pulau Dewata Bali sepi menyepi, dan Mekah sudah kosong.
Pelukan dan ciuman tiba-tiba menjadi alat penyebar penyakit mematikan.
Tidak mengunjungi orang tua, cara baru untuk hormat dan rasa cinta kasih.
Fenomena terbaru, bersatu kita mati, justru berpisah sementara waktu,
Social distancing kita selamat.
Kekuasaan, kecantikan, dan uang tidak berharga lagi,. Kita tidak bisa menghirup oksigen, meski kita berjuang mendapatkannya.
Dunia dan bumi meneruskan hidupnya yang indah menempatkan manusia di dalam kandang.
Dunia mengirimkan pesan!!!!
Semesta alam tidak memerlukan kita. Udara, bumi, air, dan langit tanpa kita akan baik-baik saja dan bertambah indah.
Ketika semua peringatan telah berlalu, ingatlah kita semua adalah tamu di bumi, bukan penguasa atau pemilik. Bumi ini hanya hak guna pakai, bukan hak milik.
Mari berdoa agar umat manusia selamat
dan belajar dari semua ini.
Jangan sombong. Jangan takabur. Jangan merasa paling benar. Jangan sok hebat. Kita hanyalah debu di kaki-Nya. []

Menyadarkan kita bahwa kita hanya pendatang bukan penghuni awal..