Oleh: Ghinda Aprilia
Berawal dari teman mengadakan Event yang kebetulan waktu itu pembicaranya seorang Caleg dan Stafnya. Bu Fida begitu aku memanggilnya.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya ibu Fida, tahu no. Teteh dari guru saya pak ustadz Sukeri.” Tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor hp yang tidak aku kenal. Langsung aku membalas dan meneleponnya.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, apa ibu besok yang ngisi event di Tin Hau?”
“Iya, besok ketemu ya,” Jawabnya dengan lemah-lembut terdengar suara dari hpku, menandakan orangnya baik hati dan bersahaja.
Tibalah esok harinya, minggu pagi aku ke sana bersama anak asuhku. Awalnya aku tidak tahu kalau mereka ada di satu Event. Sempat sharing dengan beliau juga ibu Merry.
Dia langsung pulang sementara ibu Merry masih ada tugas di Hongkong. Di saat libur aku mendampingi bu Merry ke Majelis-majelis, hobinya foto-foto dia gunakan untuk koleksi keindahan pemandangan Hongkong.
Di samping itu, aku diberi tugas untuk membuat group team pemenangan Pileg dan Pilpres di Hongkong. Siang itu aku mengantar beliau ke Majelis Al Ikhlas, Taipo. Perasaanku jalannya pelan, tetapi menurut dia aku jalannya kecepatan. Alhamdulillah, sampai juga di Taipo dengan dipandu oleh Bunda Amanah melalui Vc dari mulai Mtr Taipo,menyusuri hulu sungai.
Organisasi ini emang letaknya di bawah jembatan, pinggir sungai. Inilah keunikan di Hongkong, ibadah dan berdakwah di bawah jembatan, pinggir sungai pun jadi. Setelah foto-foto di sana dan memberikan Tausiyah singkat, kami menuju Masjid Tsim Sha Tsui. Di Mtr perjalanan menuju masjid, selesailah tugas membuat team group pemenangan pileg dan pilpres.
Setelah selesai tugas di Masjid, kami bertemu dengan team yang baru aku buat.Walau personilnya belum lengkap,namun pertemuannya menyenangkan, teman-teman yang solid dan care. Alhamdulillah, semakin lama team group kami semakin banyak.
Tibalah saatnya ada event besar. Pengajian banyak sekali yang mengisi saat event itu karena bukan cuma Pengajian tetapi Pemberdayaan buat kami.
Pagi itu sebelum acara mulai, aku dan Mbak Indy diminta untuk meeting. Demi keberhasilan amanah besar kami menurut perintah atasan. Kami terlarang untuk canvasing di daerah Causeway Bay dan Wanchai.
Alhamdulillah, kami punya team yang solid dan care, team TST. Banyak suka duka tentu, ditolak kami pantang mundur, ada juga diantara mereka yang tidak tahu Partai apalagi nama Calegnya yang akan mereka pilih. Mereka pun banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencoblos pilihan mereka.
Kebetulan saat itu tanganku lagi sakit, gara-gara si boss ngasih jaket kekecilan. Demi membahagiakan boss, aku pakai yang membuat tanganku terkilir. Demi ngirit, aku biasakan membawa makanan dari rumah, tentu membuat tanganku kerepotan. Supaya bebanku ringan, aku membawa kereta dorong yang biasa dibawa untuk belanja ke Pasar. Di saat makan siang, terasa sekali keakraban diantara kami. Terkadang kami selingi dengan celetukan segar.
“Semoga nanti di Syurga kita dipertemukan kembali ya teman-teman!” Aku menyemangati mereka yang nampak sudah kedinginan.
“Allahu Akhbar,”seraya teman-teman mengepalkan tangannya ke atas. Tentu bukan hal yang mudah bagi kami, karena ini tugas pertama kalinya dalam hidupku.Bismillaah kami bisa melaluinya.
Kami berbagi tugas, biasanya aku bagian prospek, teman-teman yang lainnya menyebar Brosur, Almanak, Pin dan Kartu nama. Dengan senang hati aku lakukan tugas mulia ini, berharap ada perbaikan untuk negri ini melalui pemimpin pilihan kami.
Tiba saatnya Pemilu tanggal 14 April 2019 untuk Hongkong.Kami berpencar menjadi 3 bagian.Kami team TST tentu bertugas mengawal di TPS TST.Aku sendiri bagian mengawal di luar TPS. MasyaAllah di hari itu hujan lumayan deras dan lama.
Aku bertugas menyusuri para calon pemilih, aku membantu intruksi juga dari polisi atau petugas PPLN yang kebetulan aku mengenalnya. Mungkin panjangnya antrian itu beberapa km, di bawah guyuran hujan tidak mengurangi semangat teman-teman untuk menggunakan hak suaranya. Ada juga pemandangan yang tak lazim, ada kakek-kakek bermata sipit, menyuruh nyoblos nomer yang dia pilih.
“Ngapain nyuruh-nyuruh orang, toh mereka bukan anak kecil, tidak perlulah mempengaruhi.” Gerutu dalam benakku.
Ada teman-teman yang tidak bisa memilih, karena waktunya terbatas. Itu akibat dari mengulur-ngulur waktu. Menyesal itu tak ada gunanya, semua telah terjadi. Malam itu ada pendukung tetangga yang teriak-teriak, karena ada ulah salah satu pendukung mengambil foto di TPS. Aku sendiri menunggu seorang saksi dari team TST sampai jam 10.30.
Tiba saatnya yang dinanti-nantikan, perhitungan suara pada hari Rabu, tanggal 17 April 2019, saya pun turut terlibat dalam saksi perhitungan suara tentu setelah mendapat izin Lopan. Berangkat dari rumah pagi- pagi sekali, menuju penginapan Trio kwek-kwek, sebutan untuk orang-orang hebat di mataku.
Sampai di sana masih ada keperluan yang belum lengkap sambil mempersilahkan sarapan pagi. Setelah sarapan tersedia nasi plus kari kambing menu favorit kami. Langsung aku dan team menuju KJRI. Sesampainya di sana juga tidak langsung bisa masuk, selain harus ngantri, kartu nama kami juga banyak yang belum siap.
Ba’da Dzuhur baru kami bisa memulai, yang diawali pengarahan dari ketua pengawas.
Tiba-tiba pak Konjen Tri nongol dari belakang mengagetkanku
“Tumben teh Ghinda pakai jilbab kuning, biasanya selalu pakai jilbab merah.”
“Haha muhun Bapak, ini lagi mau pakai warna kuning,” jawabku tersipu malu. Dari saksi Koalisi cuma aku dan satu laki-laki dari Partai Demokrat. Itu pun dia gak sampai selesai langsung balik.
Hpku low battery, akhirnya pinjem hp dari orang yang kebetulan juga jadi saksi, supaya Lopan tidak khawatir. Aku coba naik ke atas, menemui bu Merry.
“Bu, bisakah aku pulang sekarang.”
“Jangan Teh, belum boleh pulang kalau belum dapat surat C1.” Aku tergopoh-gopoh lagi turun, sampai nunggu perhitungan selesai.
“Jam berapa kamu balik?” Pesan Lopan via WhatsApp, hpnya sedang aku charger.Kembali aku ke atas lantai satu menemui bu Merry yang sedang sibuk bertugas.
“Bu, Tuan WhatsApp, dia menanyakan kepastian aku pulang. “Dengan nada memelas, aku memohon.
“Tidak bisa Teteh, sebelum C1 didapatkan, tidak boleh pergi.”
“Ettt Dah ini seberapa penting C1?” Gumam pikiran awamku. Belakangan aku tahu surat C1 itu untuk bukti jika ada ketidak beresan. Saya salut trio kwek-kwek juga nunggu sampai pagi.
Aku izin pulang duluan karena sudah jam 1.30, naik taksi dari Causeway Bay, nasib naas sampai di rumah tidak membawa kunci. Ada untungnya boss belum tidur, berkali-kali aku minta maaf atas kejadian ini.
Tidak sia-sia walau banyak teman-teman yang tidak bisa menggunakan hak suaranya, kita mendapat suara 2053. Tetapi sampai dealnya kita cuma dapat 1600 suara yang 453 raib dibawa Jin Ifrit genderuwo beserta keturunannya. Dan suara bu Fida hilang 200 lebih.
Momen yang tak terlupakan bersama teman-teman pengalaman pertama kali ikut terjun langsung dalam Pileg dan Pilpres. Semoga ke depan terpilih pemimpin yang baik dan bertanggung jawab.
