Salam Pancasila

Hari ini tepat 1 Juni, sebagai hari lahirnya Pancasila dan bulan kelahiran penulis. Melalui sidang pertama BPUPKI dilaksanakan pada 29 Mei 1945 untuk membahas mengenai tema dasar negara. Bertempat di Gedung Chuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila). Sidang berjalan sampai lima hari. Sampai pada 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan gagasannya mengenai dasar negara yang dinamai Pancasila. Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas. Lima dasar negara yang disebutkan Soekarno yakni: Kebangsaan Internasionalisme atau Perikemanusiaan Demokrasi Keadilan sosial Ketuhanan yang Maha Esa. Pidato pertamanya tentang gagasan Pancasila inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. (Kompas.com)

Berbeda dengan bulan lahir penulis, melalui kesepakatan antara kedua orang tua, dibantu dukun beranak pada saat itu, maka lahirlah penulis tepat pada tanggal 30 Juni 1992 dan diberi nama Andi Akbar Herman (Andi yang berarti petinggi, Akbar yang berarti besar, sedangkan Herman yang berarti air yang mengalir dengan tenang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa harapan kedua orang tua, kelak Andi Akbar Herman tumbuh menjadi sosok pemimpin yang besar dan tetap tawaddhu, rendah diri serta tidak memiliki sifat sombong). Aamiinn

Hmmm tinggalkan soal bulan kelahiran penulis, yuk fokus pada Memaknai Pancasila dihari kelahirannya.

Twibbon tentang selamat Hari Lahirnya Pancasila bertebaran dibanyak media sosial. Saya berfikir bahwa, apakah yang dituliskan tentang hari lahirnya Pancasila sudah sangat tepat menjiwai tema yang diusung oleh BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), “Pancasila Dalam Tindakan, Bersatu untuk Indonesia Tangguh”.

Yuk mari kita lihat fakta dipelosok Negeri:

Banyak orang yang hafal Pancasila tapi tidak menginplementasikan, ada juga orang yang tidak mau hafal dengan Pancasila. Bahkan anak-anak milenial zaman now, saat disuruh hafal Pancasila, banyak yang tidak mau. Mungkin bisa jadi orang yang menyampaikan kurang menarik, ataukah Pancasila bukan sesuatu yang menarik untuk anak.

Bergotong royong sebagai perwujudan nilai Persatuan Indonesia, di sebagian desa sudah mulai pudar. Saat warga diajak gotong royong, sebagian warga menolak untuk ikut, bahkan ada yang menyampaikan kalau anggaran kerja sudah dianggarkan melalui dana Desa.

Semua warga negara Indonesia memiliki hak yang sama dalam pemenuhan kesejahteraan, kehidupan yang layak, persamaan hak dan politik, kesetaraan dalam hukum dan segala bentuk hal-hal tanpa melihat suku dan ras, sebagai perwujudan sila ke 2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Lalu apa yang perlu kita lakukan, sebagai anak bangsa dan sebagai warga negara Indonesia.

Pada dasarnya kita telah bersepakat bahwa Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah dasar negara dan “way of life” petunjuk hidup bagi kehidupan bermasyarakat.

Hadirnya nilai-nilai Pancasila kedalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari sistem pendidikan, politik, pertahanan, kemananan, ekonomi dan kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Pada pokonya, Pemerintah hadir memberi contoh dan teladan, masyarakat hadir dengan membangun relasi sosial dalam kehidupan dengan didasari sikap loyalitas terhadap keberagaman daerah, suku, agama, budaya, ideologi, hubungan spiritual antara manusia sebagai mahluk Tuhan, serta alam sekitanya secara harmonis.

(Visited 36 times, 1 visits today)
One thought on “Memaknai Pancasila di Hari Pancasila”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.