Tugas Polisi itu menolong, tidak boleh Terima apa-apa”

Meriyanti Hoegeng

Aparat kepolisian menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir buntut peristiwa kekerasan, dugaan tak profesional dalam penanganan kasus, hingga keterlibatan dalam tindak kriminal kejahatan terorganisir.

Kita cinta polri yang berwibawa, bersih dan profesional. Sebagai institusi penegak hukum kita pernah mempunyai Kapolri yang tegas, sederhana, berani, bersih.

Lebih dari setengah abad sejak Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Iman Santoso pensiun (1971) belum ada lagi sosok Pengayom Masyarakat yang jujur & lurus dalam menjalankan tugasnya.

Sosok seperti beliau ibarat sebutir beras dalam tumpukan gabah.

Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Iman Santoso adalah adalah satu tokoh kepolisian Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5.

Hoegeng terkenal sebagai polisi paling berani dan jujur ​​di Indonesia oleh media dan masyarakat.

Ia seorang polisi dari Pekalongan. Ayahnya seorang jaksa dan berteman akrab dengan kepala polisi bernama Ating.

Berkat keteladanan dari dua orang inilah Hoegeng bercita-cita menjadi polisi untuk menegakkan keadilan.

Setelah lulus dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada 1952, Jaksa Agung Soeprapto mempercayainya untuk bertugas di Medan dimana marak terjadi penyelundupan.

Begitu turun di pelabuhan Medan (1956), seseorang mendekatinya dan mengaku “ketua panitia penyambutan”, mengatakan bahwa mobil dan rumah untuk Hoegeng sudah disiapkan.

Hoegeng tahu itu gratifikasi dari seorang pengusaha Tionghoa, maka ia menolaknya mentah-mentah.
Pengusaha Tionghoa ini tidak menyerah, tahu Hoegeng akan pindah ke rumah dinas, tempat itu ia penuhi perabotan yang lengkap dan mahal.

Ketika Hoegeng tiba, ia marah dan meminta barang itu diambil kembali tapi pengusaha tersebut tidak melakukannya.

Barang-barang itu akhirnya ia lemparkan ke pinggir jalan.
Hoegeng pernah diangkat menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (1961), Menteri Iuran Negara (1965), dan Sekretaris kabinet (1966), sebelum akhirnya menjadi Kepala Polisi pada masa transisi di 15 Mei 1968.

credit.pic : twitter

Banyak hal yang terjadi selama masa kepemimpinan Kapolri Hoegeng Iman Santoso.

(1). Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru terkesan lebih dinamis dan komunikatif.

(2). Kedua, adalah soal perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian.

Perubahan itu membawa sejumlah konsekuensi untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol.

Demikian pula sebutan Seskoak menjadi Seskopol. Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif, ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.

Pada masa-masa inilah kiprah Hoegeng cukup menonjol, ia merekomendasikan pemakaian helm dan menangani kasus-kasus besar seperti Sum Kuning dan penyelundupan mobil mewah.

Kasus terakhir cukup sulit karena si penyelundup adalah pengusaha Tionghoa bernama Robby Tjahyadi alias Sie Tjie It, yang dekat dengan Soeharto.

Bahkan pada September 1971, Hoegeng melihat sendiri Robby keluar dari ruangan Soeharto.

Sebulan kemudian, Hoegeng ditawari jabatan Dubes oleh Soeharto namun Hoegeng menolak dan meminta ditugaskan di Indonesia saja.

Soeharto mengatakan, ‘tidak ada lowongan untuk anda lagi disini’. Maka Hoegeng pun langsung mengundurkan diri.

Hoegeng Iman Santoso meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Rabu 14 Juli 2004 pukul 00.30 WIB.

Sebelumnya, sejak 13 Mei 2004, ia telah dirawat intensif di RS Polri Kramat Jati, Jakarta akibat mengalami stroke, penyumbatan saluran pembuluh jantung, dan pendarahan bagian lambung.

Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Giritama, Desa Tonjo, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat.

Soegeng sebagai legenda kepolisian yang selalu dijadikan idola, semoga para penegak hukum dapat mengikuti jejak dan sepak terjangnya dalam menjalankan tugas.

Semua kejadian yang menimpa institusi polri, sekarang ini yang hendaknya dijadikan bahan pertimbangan agar tak semakin banyak oknum-oknum yang meruntuhkan wibawa kepolisian republik Indonesia.


Apresiasi setinggi tingginya atas mampunya menyelesaikan kasus tragedi Brigadir J.
Foto Jenderal Soegeng yang terpampang dimabes polri, jangan jadi pajangan saja, tapi ikut jejak dan perbuatannya. Bintangnya selalu menyinari bagi polisi yang jujur dan berani.

Kalau Tak Mampu

Membersihkan Ekor,

Maka….

Kepalanya Yang Saya Potong.

Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kamis, 28 Oktober 2021

Diberdayakan :

Sudirman Muhammadiyah.

Referensi Suntingan:
Santoso, Aris dkk. 2009. Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptor Para Pemimpin Bangsa. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Tempo. 2021. “Hoegeng Bukan Dongeng.”

Baik menjadi orang penting, tetapi jauh lebih penting menjadi orang baik.

Drs.Hoegeng Imam Santoso




https://twitter.com/sutanmangara/status/1560584485896601603?t=fUL1IBToFaiNy4QPhttps://twitter.com/sutanmangara/status/1560584485896601603?t=TWNTz91rQ0ZC8eN6dITOTQ&s=19 mmmmm3mzzgw&s=19
(Visited 761 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

2 thoughts on “Hoegeng Iman Santoso(Polisi Jujur, Berintegritas dan sederhana)”
  1. Kenapa yeah malah sekarang ini sering terjadi kasus yg ditutup-tutupi atau bahkan di kelarin secara instan biar pihak kepolisian cepat selesaikn masalahnya.. why… orang dalam..? Hah
    Contohnya aja yg saat ini masih jdi perbincangan “polisi siap bareskrim”,, alih-alih ntah itu kasuss berencana atau apalah..

    #sangatmemprihatinkan

  2. Kenapa yeah malah sekarang ini sering terjadi kasus yg ditutup-tutupi atau bahkan di kelarin secara instan biar pihak kepolisian cepat selesaikn masalahnya.. why… orang dalam..? Hah
    Contohnya aja yg saat ini masih jdi perbincangan “polisi siap bareskrim”,, alih-alih ntah itu kasuss berencana atau apalah..

    #sangatmemprihatinkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.