Oleh : Soni Putra*
Menjadi seorang Wali Nagari (Kepala Desa) bukan hanya sekadar harus memiliki kemampuan di bidang pemerintahan. Namun, banyak hal yang harus diketahui dan dipelajari. Wali Nagari khususnya di wilayah Sumatera Barat tepatnya di kabupaten Padang Pariaman sangat dikenal dengan falsafah, “Adaik basandi sarak, sarak basandi kitabullah, manimbang samo barek, maukua samo panjang, membagi sama banyak.
Pada sisi lain, menjadi Wali Nagari itu harus mampu. Mampu dari segi ekonomi bukan berarti memiliki kekayaan harta berlebih, atau hidup mewah. Namun, cukup untuk menghidupi keluarga, dalam artian tidak meminta-minta kepada orang lain.
Mampu dari segi adat bukan berarti harus seorang Datuk atau pemuka adat. Namun, cukup mengetahui dan memahami adat seperti memiliki sifat “alam Laweh ba Padang lapang” yang artinya penyabar, penyayang, tidak arogan, dan tidak emosi.
Mampu dari segi agama bukan berarti seorang alim ulama. Namun, harus tahu dan memahami mana yang hak dan batil, mana yang halal dan haram, dan berani menyampaikannya. Mampu dari segi keadilan bukan berarti harus seorang hakim. Namun, harus bisa mengukur sama panjang, menimbang sama berat, membagi sama banyak.
Dalam point mampu terakhir di atas, saya tidak dapat melaksanakan keadilan itu, dan rasanya tidak akan pernah bisa memberi pelayanan yang bisa memuaskan seluruh masyarakat. Jangankan manusia, Allah Swt saja masih ada manusia yang sering mengatakan Allah itu tidak adil.
Contoh, di saat manusia ditimpa musibah penyakit, kemiskinan harta, bencana alam, dan lain-lainnya. Ada-ada saja yang berkata ya Allah, kenapa cobaan ini Engkau berikan kepadaku. Mengapa Engkau tidak memberikan cobaan ini kepada orang yang pantas menerimanya, Engkau tidak adil ya Allah.
Begitu pula dengan diri sendiri. Saya sudah memaksimalkan mengurus dan melayani masyarakat tanpa membeda-bedakan. Sebagaimana pesan dosen inspiratif kami di kampus bapak Ruslan Ismail Mage bahwa sebagai pemimpin di tingkatan manapun, yang harus dilayani adalah jiwa bukan fisik. Jadi, layanilah setiap jiwa tanpa harus melihat ke tubuh siapa jiwa itu bersemayam. Mau jiwa gelandangan atau jiwa presiden tuntutan alaminya sama, yaitu ingin dihargai dan dihormati.
Dalam menghadirkan pelayanan jiwa yang adil kepada seluruh warga, sampai-sampai terkadang lupa mengurus diri sendiri dan keluarga, masih ada yang menilai saya sebagai Wali Nagari tidak adil. Penilaian tidak adil itu saya maknai dengan keyakinan dan percaya bahwa penilaian tentang ketidakadilan diriku dalam melayani dan mengurus masyarakat, hanya Allah Swt yang mengetahuinya.
*Wali Nagari Kepalo Koto Kabupaten Padang Pariaman
