Oleh: Hamsah*
Di penghujung tahun biasanya dijadikan sebagai momentum untuk melihat realisasi dan penyerapan yang telah direncanakan di awal tahun. Termasuk melihat kualitas pekerjaan yang telah kita kerjakan. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan cerita yang dikisahkan oleh seorang pemuda tukang kebun yang bekerja pada seorang tuan pada salah satu kota. Seperti biasa seorang tukang kebun adalah bekerja untuk mengurusi kebun seperti membersihkan rumput, menyiram dan merawat tanaman. Bekerja menjadi tukang kebun menjadi rutinitas pemuda tersebut dan ia pun mendapatkan gaji berdasarkan jam kerja layaknya seperti pekerjaan yang lain.
Sang pemuda bermaksud ingin melihat hasil pekerjaannya yang selama ini ia kerjakan dan bisa hidup dari pekerjaan itu. Maka ia pun datang ke sebuah wartel (warung telepon). Dalam perbincangan telepon tersebut maka terdengar sang pemuda bermaksud ingin menawarkan diri untuk melamar pekerjaan sebagai tukang kebun dengan menjelaskan pengalaman dan komitmennya dalam bekerja. Namun, yang ditelpon dengan berat hati untuk menerima dan ia pun menolak lamaran pemuda tersebut dengan alasan ia telah mempunyai tukang kebun yang sangat dia sukai dan ia pun sangat puas dengan hasil pekerjaannya.
Berdasarkan percakapan pemuda di telepon umum membuat orang lain yang mendengar pasti akan bersimpati kepada pemuda tersebut yang telah ditolak untuk bekerja. Sehingga salah seorang petugas wartel yang mendengar percakapan tersebut langsung menawarkan kepada pemuda tersebut sebuah lowongan pekerjaan. Akan tetapi sang pemuda pun menolak tawaran tersebut. Singkat cerita sang pemilik wartel berkata,” kenapa menolak pekerjaan ini, bukankah tadi dalam perbincangan di telepon, anda sepertinya sangat membutuhkan dan mengharapkan pekerjaan untuk menjadi seorang tukang kebun. Sang pemilik kebun itu menolak Anda karena ia telah memiliki tukang kebun yang hasil kerjanya sangat memuaskan, mengapa Anda tidak ingin mencoba dan menerima tawaran yang saya berikan?”.
Sang pemuda sangat berterima kasih kepada orang yang menawarkan pekerjaan tersebut. Dengan muka tersenyum ia pun menjawab soal percakapannya di telepon. “Sesungguhnya tukang kebun yang bekerja pada orang yang saya telepon tadi itu adalah saya sendiri dan saya hanya ingin mendengar bagaimana hasil pekerjaan saya selama ini”.
Pada dasarnya kita semua telah bekerja dengan kualitas terbaik menurut diri kita sendiri. Menetapkan dan mencapai target pekerjaan yang telah kita tetapkan menjadi ukuran bahwa kita telah maksimal dalam bekerja. Namun, yang luput adalah bagaimana kita melihat kualitas dari pekerjaan yang kita hasilkan. Di sinilah pentingnya kita menguji kualitas pekerjaan meskipun tidak terlalu metodologis.
Berdasarkan cerita di atas, penulis ingin menyampaikan pesan moral bahwa sesungguhnya kualitas pekerjaan bukan ditentukan oleh orang yang bekerja tetapi sejauh mana kepuasan orang yang telah memberikan tanggungjawab atau amanah terhadap sebuah pekerjaan.
*Akademisi Universitas Negeri Manado
