Oleh: Gugun Gunardi*
Pengantar:
Bahasa adalah alat komunikasi utama pada masyarakat manusia. Tanpa bahasa, komunikasi antar sesama manusia terasa pincang. Dengan bahasa, hubungan antar individu manusia terasa lebih bermakna. Melalui bahasa, gagasan dan pendapat, serta kemauan manusia yang satu dengan yang lainnya dapat dipahami dengan maksimal.
Bahasa merupakan media komunikasi yang hanya ada pada masyarakat manusia. Komunikasi pada lingkungan binatang terbentuk karena insting dan naluri saja. Mereka (binatang), tidak dapat bertutur seperti manusia karena mereka tidak dilengkapi dengan alat-alat ucap seperti manusia. Meskipun mereka bisa bersuara, suara mereka tidak terbentuk di dalam struktur suara bahasa, melainkan hanya sesuatu yang mencirikan perbedaan jenis binatang saja.
Binatang berbeda dengan manusia. Pada manusia, meskipun memiliki struktur tubuh sama seperti binatang, manusia dilengkapi dengan alat-alat yang bisa menghasilkan ucapan yang tidak dimiliki oleh binatang.
Secara alamiah, manusia diberi peralatan tubuh yang sama seperti binatang. Ia diberi mulut, bibir, gigi, lidah, tenggorokan, langit-langit, dan paru-paru. Fungsi primernya nyaris sama antara binatang dan manusia. Akan tetapi, pada manusia peralatan tersebut memiliki fungsi sekunder yaitu sebagai alat-alat penghasil suara bahasa. Sementara bagi binatang hanya menghasilkan suara saja (suara binatang).
Melalui bahasa, produk kebudayaan manusia didokumentasikan. Dokumentasi budaya dapat berupa tulisan, dapat pula berupa rekaman suara. Semua produk budaya tersebut dapat didokumentasikan lewat penguasaan bahasa. Jadi, bahasa merupakan alat yang utama, di dalam rangka manusia memelihara kebudayaan dan mengembangkan kebudayaan.
Pembahasan:
Pertanyaan yang menggelayut hingga saat ini pada para peneliti bahasa,”Mengapa hanya makhluk yang namanya manusia yang berbahasa? Bahasa apakah yang digunakan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa ketika diturunken ke dunia?
Rasa penasaran ini membuat para ilmuwan bahasa mencari jawaban lewat penelaahan pada naskah-naskah kuno yang masih ada. Tetapi pada akhirnya tidak diperoleh jawaban mengenai pertanyaan besar tersebut. Sebab tidak ada satu naskah pun yang menyinggung tentang asal mula bahasa manusia. Kebanyakan tentang teori bahasa hanya asumsi dan perkiraan saja, tidak didukung oleh informasi dan referensi yang aktual. Akan tetapi, jika kita membuka Al-Qur’an dengan terjemahannya, maka jawaban atas pertanyaan tersebut ada jawabnya.
Tafsir Surah Al-Baqarah, ayat 31, merupakan ayat yang mengisahkan hal ihwal penciptaan Nabi Adam. Hal yang penting dikaitkan proses manusia berbahasa adalah bahwa Allah menjadi pendidik pertama yang mengajarkan Adam tentang nama-nama segala sesuatu. Ayat tersebut adalah:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” (QS. al-Baqarah : 31).
Artikel singkat ini fokus untuk lebih memahami ayat “Wa’allama ādama al-asmāa kullahā”. Bahwa Allah mengajari Adam nama-nama segala sesuatu dan jenis-jenis material, misalnya nama-nama tumbuhan, nama-nama benda mati, nama-nama manusia, nama-nama hewan yang ada di dunia.
Penutup:
Penelitian ahli bahasa mengenai proses manusia berbahasa, melalui berbagai naskah kuno peninggalan manusia jaman lampau, tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Jawaban yang mutlak mengenai bagaimana manusia pertama belajar bahasa sangat jelas ada di dalam Al-Qur’an, surat Al Baqoroh, ayat 31.
Adam dapat memberi tahu kepada malaikat tentang nama benda-benda, menjadi bukti bahwa penciptaan Adam (manusia pertama) yang berasal dari tanah diberi keunggulan yang lebih dibandingkan Malaikat, akan tetapi itu semua bukan karena kemampuan Adam atau manusia, tetapi Allah-lah yang memberikannya.
*Dr. Gugun Gunardi, M.Hun., Lektor Kepala, Dosen tetap Univeristas Al Ghifari.
