Oleh : HTB*
Sewaktu masih kecil di kampung, aku dikenal sebagai “anak mama”. Bukan berarti anak manja yang diproteksi dan dituruti semua kemauannya. Tidak seperti anak laki-laki lain sebaya yang pada umumnya pergi berenang di sungai, naik ke gunung, memanjat batang mangga, mencari jangkrik di ladang, dan lain-lain. Terutama anak laki-laki suka ke sungai mencari ikan. Apalagi rumahku dekat jalur bentangan Sungai Walanae (biasa juga disebut “Salo Walennae”).
Kalau anak laki-laki suka main layangan di sawah, main lari-lari di jalan raya, aku kurang menyenangi hal-hal seperti itu. Kerjaku hanya di rumah saja, membantu mama di dapur. Nanti aku kelihatan keluar rumah kalau mau pergi ke sekolah, salat di masjid, atau ke lapangan bulutangkis.
Apa saja dilakukan mama di dapur, selalui kubuntuti. Aku selalu menjadi asisten mama, sehingga tidak heran keterampilan mama memasak rupanya menurun kepadaku anak sulungnya ini. Bahkan ada nenekku sambil bercanda mengatakan, “Kenapa ini laki-laki suka memasak, jangan-jangan anak ini perempuan”.
Salah satu menu andalanku adalah membuat telur dadar (telur ceplok). Kedua putriku suka sekali makan menu favoritku itu. Kalau mereka makan telur ceplok, baru seiris kecil dimakan, sudah bisa membedakan buatan Papanya atau bukan. Sudah sekian kali diuji, sekian itu pula berhasil menebak dengan benar. Heran juga dengan keadaan ini. Bahan sama, cara sama, tapi mereka tahu siapa pembuat telur ceplok itu. Mereka pernah iseng-iseng bertanya, campuran apa yang dimasukkan Papa ke dalam telur itu sehingga enak sekali dimakan?
Apakah Papa menambahkan MSG (vetsin)? Kujawab dengan santai, tanpa MSG, sedikit sekali garam. Namun, ada bahan campuran yang banyak kuberikan dan tidak semua orang tahu caranya, yaitu, “ketulus ikhlasan” dalam melakukan pekerjaan itu. Walaupun sementara menonton TV, kalau datang putriku minta dibuatkaan “telur ayam spesial”, langsung dengan tulus kubuatkan. Istilah “telur ayam spesial” itu mereka
telah memberikan nama paten buatan Papanya itu.
Seperti saat menulis catatan ini, kami sekeluarga datang mengunjungi si Sulung yang tengah menyelesaikan pendidikan S2 di Bristol University, UK. Pagi-pagi datang ke apartemen yang disewa selama di Bristol. “Ini ada telur ayam dari super market, Pa! Tolong buatkan “telur ayam spesial”. Sudah jelang 4 bulan tidak pernah lagi makan menu khasnya Papa”. HP yang sementara kuutak-atik, langsung kuletakkan di meja lalu menyelesaikan “order” sang putri, TAS (Telur Ayam Spesial). Dalam hitungan 5 menit, TAS selesai dan disantap bersama dalam suasana lebaran ceria jauh dari tanah air. Itulah kenapa judul tulisan ini telur ceplok Bristol.
*HTB menarasikan dari Kota Bristol, Inggris
