Oleh: Hildayanti Yunus, SE*

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei seharusnya menjadi momentum refleksi terhadap kondisi pendidikan di Indonesia. Namun, pada tahun ini, peringatan tersebut diwarnai oleh berbagai kasus kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2025. Kasus-kasus ini mencerminkan krisis moral yang mendalam di kalangan generasi muda, yang merupakan buah dari sistem pendidikan yang berorientasi pada kapitalisme.
(ANTARA News, Kompas)

Fakta Kecurangan UTBK SNBT 2025

Berbagai modus kecurangan terungkap selama pelaksanaan UTBK SNBT 2025. Kasus yang baru-baru ini menggemparkan publik menunjukkan betapa parahnya degradasi moral generasi muda dalam sistem pendidikan saat ini. Salah satu bentuk kecurangan yang terungkap adalah penggunaan kamera tersembunyi yang dipasang di dalam behel gigi. Modus ini digunakan oleh peserta ujian untuk merekam soal-soal di layar komputer selama ujian berlangsung. Rekaman tersebut kemudian dikirimkan ke pihak luar, yang diduga merupakan jaringan joki profesional. Setelah soal dianalisis dan dijawab, jawabannya dikirimkan kembali ke peserta dengan menggunakan alat komunikasi kecil seperti earpiece tersembunyi. Biaya jasa kecurangan ini bahkan dilaporkan mencapai puluhan juta rupiah.
(Kompas, ANTARA News)

Fenomena ini mencerminkan rusaknya sistem pendidikan yang berlandaskan kapitalisme—sistem yang hanya menilai keberhasilan pendidikan dari sisi nilai dan prestasi akademik semata. Hal ini mendorong siswa dan orang tua untuk menghalalkan segala cara agar bisa masuk ke perguruan tinggi favorit. Persaingan yang ketat, gengsi sosial, dan tekanan dari lingkungan menjadikan anak-anak dididik untuk mengejar hasil, bukan proses. Nilai kejujuran, amanah, dan tanggung jawab ditinggalkan demi status dan keuntungan pribadi.

Dan masih banyak lagi kasus kecurangan pendidikan lainnya, di antaranya:

  • Penggunaan joki yang menggantikan peserta ujian di dalam ruang ujian. (Tempo, detikcom, IDN Times)
  • Pemasangan alat komunikasi seperti transmitter dan receiver pada tubuh peserta untuk menerima jawaban dari luar. (detikcom, Kompas, IDN Times)
  • Pengendalian komputer peserta dari jarak jauh oleh pihak luar. (Kompas)

Kasus-kasus ini tidak hanya melibatkan peserta, tetapi juga pihak-pihak eksternal seperti lembaga bimbingan belajar dan bahkan oknum pegawai kampus.
(Tempo, detikcom, medcom.id)

Dampak Sistem Pendidikan Kapitalisme

Sistem pendidikan yang berorientasi pada kapitalisme menekankan pencapaian nilai tinggi dan persaingan ketat untuk meraih posisi di perguruan tinggi ternama dan pekerjaan bergengsi. Hal ini menimbulkan tekanan yang besar pada peserta didik, yang kemudian mendorong mereka untuk mencari jalan pintas, termasuk melakukan kecurangan.

Pendidikan dalam sistem kapitalisme cenderung mengabaikan pembentukan karakter dan moral peserta didik. Fokus utama adalah pada hasil akhir, bukan proses pembelajaran yang jujur dan berintegritas. Akibatnya, nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab terpinggirkan, dan generasi muda tumbuh dengan mentalitas pragmatis yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Solusi dalam Perspektif Islam

Islam memandang pendidikan sebagai sarana untuk membentuk individu yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjalankan kehidupan sesuai dengan syariat-Nya.

Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad, Kompas)

Dalam sistem pendidikan Islam, nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas ditanamkan sejak dini. Pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan spiritualitas peserta didik. Ilmu dalam pandangan Islam bukan hanya untuk tujuan duniawi, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat bagi umat.

Proses menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah, dan kejujuran merupakan nilai utama yang tidak bisa ditawar. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golonganku.”
(HR. Muslim)

Islam juga memberikan solusi sistemik dalam membangun generasi berakhlak, melalui sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang mengedepankan pembentukan kepribadian, bukan hanya kemampuan akademik.

Kecurangan ini hanyalah salah satu dari banyak bukti bahwa sistem pendidikan sekuler saat ini gagal membentuk generasi yang berintegritas. Momentum Hari Pendidikan Nasional ini semestinya menjadi waktu untuk merenung dan mengevaluasi. Pendidikan yang sukses bukanlah yang melahirkan lulusan-lulusan berprestasi secara nilai, tetapi yang melahirkan manusia beriman, jujur, dan amanah.

Sudah saatnya umat kembali kepada sistem pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak pintar, tetapi juga membentuk karakter yang mulia.

Penutup

Oleh karena itu, solusi untuk mengatasi krisis moral dalam dunia pendidikan adalah dengan menerapkan sistem pendidikan Islam secara menyeluruh, yang menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan dan pembentukan akhlak mulia.

*Penulis adalah Staf Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kolut

(Visited 91 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.