Oleh: H. Tammasse Balla

Bluetooth adalah sejenis jembatan tak terlihat. Ia berjalan di antara gelombang-gelombang sunyi, menyalurkan pesan tanpa kabel, menghubungkan hati-hati elektronik yang sebelumnya terpisah. Dalam senyapnya, ia menyentuh yang jauh tanpa menyentuh. Seperti cinta sejati, yang tak butuh kabel untuk saling tahu, cukup getaran batin yang senada. Bluetooth tak ubahnya doa yang diam-diam melayang dari hati yang penuh setia.

Ia tak bisa dilihat, tapi terasa. Tak bisa digenggam, tapi setia menjaga koneksi. Bila satu gawai telah terhubung padanya, yang lain tak akan bisa mencuri tempat. Ia mengikat dalam diam. Inilah pelajaran pertama dari Bluetooth: kesetiaan. Di dunia yang penuh sinyal bertebaran, ia memilih hanya satu untuk disambungkan. Tidakkah itu cermin pernikahan yang sakinah? Satu hati, satu frekuensi, satu tujuan.

Bluetooth tidak serakah. Ia tidak menyambung ke semua perangkat sekaligus. Ia tahu batas. Ia tahu nilai keterikatan. Seperti suami yang memilih satu perempuan untuk menjadi muara hidupnya. Seperti istri yang menambatkan segenap kasih hanya pada satu bahtera. Ia mengajarkan bahwa cinta bukan perburuan sinyal sebanyak-banyaknya, tapi tentang menyalakan satu koneksi dan menjaganya tetap stabil.

Bluetooth pun tak sembarang menyambung. Ia butuh “izin”. Tak semua perangkat bisa langsung masuk ke ruang hatinya. Ada proses “pairing’, saling kenal, saling percaya, saling cocok. Begitu pula hidup berumah tangga. Tak bisa dipaksakan. Harus ada ketulusan untuk saling membuka, dan kebijaksanaan untuk menolak yang tak sesuai frekuensi jiwa.

Ketika koneksi telah terjalin, ia akan tetap terhubung meski perangkat saling berjauhan, selama tak ada yang memutus. Itulah cinta yang dewasa. Tidak selalu harus dekat-dekatan, tetapi selalu terhubung dalam pengertian dan kepercayaan. Bluetooth tidak mudah baper, tidak posesif. Ia tahu kapan memberi ruang, dan kapan menguatkan sinyal.

Namun bila ada godaan dari perangkat lain yang mencoba menyusup, Bluetooth segera menolak. Ia setia dalam sistemnya. Bukan karena tak mampu menyambung ke banyak, tapi karena ia tahu: satu yang setia lebih berarti dari seribu yang sementara. Seperti cinta yang dijaga Allah, Bluetooth pun menjaga dirinya dari kerusakan moral teknologi.

Ada kalanya Bluetooth pun terganggu. Sinyalnya melemah karena jarak terlalu jauh, atau karena perangkat yang satu mulai membuka diri ke sambungan lain. Di situ, ia patah. Ia putus. Namun, ia tak marah. Ia hanya menunggu, apakah sang pasangan akan kembali memperbaiki hubungan. Inilah pelajaran kesabaran. Dalam cinta pun, seringkali sambungan perlu diperiksa, disetel ulang, dan diperkuat kembali.

Bluetooth tidak perlu suara untuk menyampaikan pesan. Ia tidak butuh kata-kata untuk menyalurkan makna. Ia cukup dengan getaran, dengan sinyal diam. Seperti cinta para kekasih Allah yang berkomunikasi lewat keheningan. Seperti rindu seorang istri yang tak diucapkan, tapi terasa dalam air mata yang jatuh tanpa suara.

Begitulah Bluetooth: kecil, tak tampak, tapi sarat makna. Ia mungkin ciptaan manusia, namun ia menyuarakan hikmah Ilahi. Ia tak bisa mencium, tapi menghubungkan. Ia tak bisa melihat, tapi setia. Ia mengajarkan kita bahwa dalam hidup, cinta bukan tentang seberapa kuat menggenggam, tapi seberapa dalam kita memahami dan menjaga koneksi. Dengan demikian, belajarlah dari Bluetooth—bahwa kesetiaan bukan hanya tentang bersama, tapi tentang memilih untuk tidak berpaling, meski banyak yang datang menawarkan sambungan. (HTB)

Makassar, 1 Juni 2025
Pk. 13 52 WITW

(Visited 49 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.