Sore itu, langit di Desa Home berwarna kelabu. Awan hitam mengepul dimana-mana menutupi cerahnya warna langit biru. Perkiraan cuaca menunjukkan bahwa Desa Home bakal turun hujan. Ternyata benar, awalnya hanya gerimis kecil lalu berubah menjadi hujan lebat yang membasahi Desa Home. Iklim yang tidak bersahabat itu telah memaksa tetangga-tetangga di sekitarku menutup rapat pintu rumah mereka. Semua senyap, hanya nyayian hujan diluar yang mengema di telingaku.

Di kala seperti itu, Kau menjiarahi tempatku, Bilik Merah. Kedatanganmu kali ini bukan yang pertama kalinya. Tapi,  ini adalah ketiga kali-nya. Kedatanganmu yang pertama, kau datang dengan seorang teman-mu. Yang kedua, kau datang bersama ibu-mu, tapi, sayangnya waktu itu aku tak ada, karena aku sedang ke luar ke tempat kost-an teman.

Dan sekarang, kau datang sendirian ke tempatku, Bilik Merah tanpa ditemani oleh siapapun karena kau telah tahu sendiri jalan menuju tempatku Bilik Merah yang posisinya terletak dipinggiran kota Lospalos, tepatnya Home. Jadi, kau tidak perlu ditemani lagi. Cukup melewati beberapa lorong jalan kecil, ambil jalan kiri  lalu belok kiri lagi dan menaiki anak tangga yang jumlahnya sepuluh, maka sampailah kau di Bilik Merah.

Rupanya Bilik Merah tak asing lagi bagimu. Kau bisa melakukan apa saja sesukamu. Ku lihat tangan-mu mulai merayap mengutak-atik dua tumpukan buku-buku-ku yang ku tata rapi disudut dinding tembok. Sepertinya kau mencari-cari judul buku yang sesuai dengan seleramu. Dan pilihanmu jatuh pada buku: yang judulnya “Hantu-Hantu Politik dan Matinya Sosial.” Memang kau perlu banyak membaca buku-buku yang berhubungan dengan Politik, karena sebentar lagi kau akan memulai kuliah perdanamu. Dan kau-pun mulai membuka dan membaca lembar demi lembar dari  isi buku itu. Tapi tak lama kemudian kau hentikan aktivitasmu itu.

“Julio, boleh aku ingin bilang sesuatu sama kamu?” Suara empukmu menyengatku tiba-tiba.

“Iyah, Boleh.” Tapi soal apa?

“Ini soal hubunganku dengan lelaki-ku.”

“Memang, ada apa dengan hubungan kalian?”

“Kau tahu, hubungan kami sekarang ini di ujung tanduk dan aku tak tahu harus bagaimana lagi.”

“Setiap problematika pasti ada solusinya, bila kita menyikapinya dengan bijak. Aku ingin tahu dimana letak titik permasalahan-ya?

Ketika aku menanyakan titik permasalahanya, kau diam dan hanya mengeleng-ngeleng kepalamu. Bilik Merah senyap. Diluar, langit tak habis-habisnya mengencingi Desa Home. Hawa dingin-pun menerobos masuk lewat celah pintu membuat tubuhmu dan tubuhku sedikit mengigil karena di tusuk dingin. Sehingga kau-pun menutup daun pintu yang dari tadi terbuka lebar. Dengan harapan agar sedikit bisa menahan dingin yang menyergap kita. Aku menunggu kau membuka mulut dan mematrikskan perkaramu antara kau dan lelaki-mu. Tapi, kau belum juga bersuara. Lama kau menunduk, barangkali kau sedang memikirkan babak demi babak kisah-mu yang kau lewati bersama lelakimu yang sangat kau cintai itu. Tiba-tiba kau  menarik nafasmu dan mulai berkisah:

“Begini, Julio. Aku sangat mencintai lelakiku, dan hubungan kami sudah berjalan tujuh bulan lamanya. Aku menilai lelaki-ku adalah tipe pria yang ideal bagiku. Dia selalu ada ketika aku membutuhkan bantuanya, dan dia sangat mempengaruhi pola pikirku sehingga aku bisa seperti ini. Dan satu hal lagi, dia adalah cinta pertamaku. Dari dia aku mulai mengenal apa yang namanya cinta, dari dia pula aku dapat merasakan betapa indahnya cinta itu. Hatiku selalu berbunga-bunga bila bersamanya. Dia telah memberikan warna yang lain dalam hidup-ku. Pendeknya, bersama dia, aku merasa semuanya terasa menyenangkan”.

“Tapi… aku merasa hubungan yang kami jalani sedang dalam tanda koma. Karena Dia mulai mengacuhkan-ku, memperlakukan aku bukan sebagai perempuanya, bahkan dia  memperlakukan aku seperti orang asing. Aku benar-benar kecewa sama dia. Intinya, aku merasakan intensitas cintanya padaku secara statistik berubah total dari tiga ratus enam puluh derajat menjadi seratus delapan puluh derajat.”

“Kau tahu, Julio.. jujur, aku sangat mencintainya, tapi apa balasanya? Perhatianya padaku tidak seperti dulu lagi. Dia tidak menghubungiku dan menanyakan situasiku. Aku tahu barangkali dia terlalu sibuk dengan aktivitasnya disana… tapi setidaknya dia bisa membalas puluhan smsku yang ku kirimkan kepadanya. Kenapa dia tidak membalas sms-smsku? Kenapa bisa begitu? Apa dia tidak cinta lagi padaku? Apa dia sudah punya perempuan lain? Sekarang aku cuma ingin supaya dia berterus terang padaku. walaupun kejujuranya padaku itu akan memilukanku. Aku akan terima dengan apa adanya. Saat ini, hatiku galau. Aku sedih. Aku perih. Aku sakit…

Kembali kau membatin. Lalu terisak. Kau tak  lagi melanjutkan ceritamu. Matamu menjadi  nanar kemudian berubah menjadi banjir air mata yang mengalir begitu derasnya  membasahi kedua pipimu seperti  deras air hujan di luar yang berjatuhan membasahi Desa Home. Rona wajahmupun berkelabu seperti warna langit Desa Home di sore itu. Aku tak bisa berkata apa-apa kecuali hanya bisa menjadi pendengar setiamu dan menyimak setiap pembicaraanmu.

Aku tahu kau tipe perempuan tomboy yang selalu ceriah dan murah tersenyum.Tapi kau juga sangat peka dan sensitif sekali dalam hal perasaan. Kau terlalu bermain dengan perasaanmu. Kau mudah menitik-kan air mata dan menangis bila membaca atau mendengar cerita-cerita yang menuturkan kisah sedih. Aku baru tahu, ketika aku menceritakan sebuah kisah roman yang ditulis oleh Sastrawan Inggris, James Cameron, yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Titanic”. Kau begitu antusias mendengar dan meresapinya dengan perasaanmu yang lembut sehingga tak ku sangka air matamu berjatuhan tanpa tercegah.

Sore perlahan-lahan merangkak menuju peraduan malam dan di luar hujan belum juga berhenti. Desa Home basah. Angin malampun berdesir begitu kencang. Dan kita dicekik senyap. Lama kita hanya membatin. Dan diam itu telah membawa kita dalam pengembaraan imajinasi kita.

“Julio, sekarang aku mulai merasa hatiku  sedikit lega, karena aku telah muntahkan semuanya disini, dibilik-mu, Bilik Merah.” Suara bariton-mu bergetar mengeledak senyap.

“Linda, sahabatku, aku juga ikut merasa senang, kalau sekarang hatimu sudah lega. Dan aku hanya bilang padamu bahwa cinta itu sebuah proses yang dijalani oleh setiap insan di jagat raya ini.  Dan proses itu akan membawa kita untuk saling mengenal lebih dalam sifat, karakter, dan pribadi masing-masing. Dan cinta itu juga terkadang harus kandas ditengah jalan sebelum sampai ke titik klimaksnya. Apa sebabnya? Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kecocokan. Tapi yakinlah, jika benar di hati lelakimu masih tersimpan sepengal cinta untukmu, maka dia akan kembali padamu. Akan tetapi jika memang tak ada lagi cinta untukmu, maka cinta pula yang akan mempertemukan kamu dengan lelaki lain.”

“Aku sepakat sekali dengan ucapanmu. Julio, terimah kasih banyak, kau adalah sahabat baik-ku yang selalu memberikan motivasi dan saran yang sangat berharga bagiku, sekali lagi terimah kasih.”

“Linda, kau tidak perlu berterimah kasih. Sudah sewajarnya seorang teman membantu temanya yang dilanda problem. Seorang sahabat yang baik itu harus selalu sedia untuk membantu sahabatnya yang terjatuh.

“ Hmm” kau menganguk menadakan kau membenarkan ucapakanku.

Tanpa kita sadari hari sudah bergeser ke malam. Tapi hujan belum juga berhenti. Hawa dingin makin terasa mengerogoti kulit tubuh kita, walau pintu Bilik Merah telah kita tutup rapat. Di tengah badai hujan yang nan dingin, kau-pun berpamitan ingin pulang. Namun aku mencegat-mu untuk menunggu sampai hujan berhenti. Tapi hujan tak mau berhenti juga. Akhirnya, kita keluar menerobos badai hujan yang dingin untuk mengantarmu pulang.

Home, 20 Juni 2010

by prof.EdoSantos’25

(Visited 48 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.