Ladu (bukan nama samaran), generasi X (gen X), lahir di lereng gunung Kuqkuq, perbatasan antara Enrekang dan Tana Toraja. Lebih tepatnya untuk kondisi sekarang, antara kecamatan Baroko (Enrekang) dan kecamatan Rano (Tana Toraja).

Merujuk pada ejaan Ejaan Yang Disempurnakan Edisi Kelima (EYD V) tahun 2022, nama yang diberikan orang tuanya harusnya dieja Soq Laqduq. Dalam bahasa setempat, Laqduq adalah istilah untuk menyebutkan bilah parang tercabut dari gagangnya. Sedangkan Soq adalah kata depan untuk laki-laki di Toraja. Katanya waktu lahir, parang bapaknya tercabut dari gagangnya, sehingga diberi nama itu.

Untuk memudahkan pembaca dalam mengikuti cerita ini, namanya disederhanakan menjadi Ladu, sesuai dengan telinga dan lidah kebanyakan orang Indonesia.

Ladu adalah anak yang baik. Dia lahir, tumbuh dan menjadi dewasa di lingkungan pegunungan yang asri, dengan warga yang hidup rukun, penuh rasa kekeluargaan, dan saling menghormati satu sama lain.

Masa kecilnya berjalan sebagaimana adanya. Dia sekolah, lalu membantu orang tua di kebun, mengaji di masjid di malam hari.

Letak rumah di atas gunung membuatnya hampir setiap pagi menyaksikan awan mengitari lembah, menyisakan pemandangan puncak gunung di seberang awan putih yang tebal. Kelak, dia tahu bahwa ada yang menyebutnya Negeri di Atas Awan.

Kondisi pegunungan menempa Ladu dalam dua hal penting. Satu, berkelahi dengan rasa dingin menusuk tulang. Setiap pagi sebelum ke sekolah, dia harus mandi pagi. Sekitar pukul 05.30 Wita. Lebih sering tidak mandi.

Tiap hari dimarahi orang tua karena jarang mandi, Ladu pernah suatu ketika protes kepada orang tuanya. Katanya, dia capek mandi dalam kedinginan tiap pagi. Dia bosan tidur seperti pistol karena rasa dingin di malam hari meskipun sudah pakai selimut dan sarung secara berlapis.

Dua, dia lelah mendaki gunung tiap hari, waktu itu kendaraan masih langka. Jadi, setiap hari baginya adalah ‘leg day,’ meskipun telinganya tidak terbiasa dengan istilah seperti leg press, squat, lunges, calf raises, atau deadlift. Dia malah pusing mendengar semua itu.

Namun ternyata, naik dan turun gunung membuat kakinya kokoh. Seperti kebanyakan teman sebayanya, Ladu berjalan dan berlari naik dan turun gunung seperti berjalan dan berlari di jalan datar, bahkan di usianya yang belum genap 10 tahun.

Lalu istimewanya apa? Dia tidak tahu. Orang tuanya juga tak pernah berkata apa-apa tentang itu. Mungkin memang tidak kepikiran. Atau mungkin tidak tahu karena hal itu adalah lumrah dalam keseharian.

Lalu 40 tahun kemudian….

Tak disangka penulis ketemu dengan Ladu dalam di sebuah tempat di Jawa Timur, di Gunung Bromo. Rambutnya mulai memutih, ada cekungan di bawah kedua mata. Beberapa flek hitam membuat wajahnya semakin eksotis. Di sebelahnya, berdiri seorang perempuan setengah baya. Dia mengenalkan sebagai istrinya.

Usianya kini mendekati setengah abad. Satu yang tidak berubah, langkah kakinya tetap seperti dulu. Ringan.

Penulis sempat mengira dia rajin main badminton, atau olahraga lainnya. Tapi dia bilang tidak. Kami lalu beriringan berjalan, melintasi lautan pasir yang luas, melewati sebuah pura dan mulai mendaki.

Di usia segitu, tidak masuk akal jika dia dengan lancar tanpa hambatan jalan kaki menyeberangi padang pasir, mendaki bukit terjal penuh debu, lalu melintasi sekitar 250 anak tangga menuju puncak Bromo untuk menyaksikan indahnya kawah.

Tapi itulah yang terjadi. Ladu dengan gagah melangkah, menggandeng tangan istrinya yang katanya 10 tahun lebih muda. Awalnya hanya mencoba melangkahkan kaki sambil melihat sejauh mana berjalan. Sesekali mereka mengabadikan beberapa momen melalui foto dan video. Satu-dua pemilik kuda datang menghampiri, menawarkan tumpangan. Ladu melirik istrinya melihat respon. Tegas perempuan itu menolak naik kuda, meski mulai kelihatan lelah di jalan menanjak.

Saat mendaki naik, mereka didahului dan berpapasan dengan banyak pengunjung lain. Rata-rata berusia muda, meski ada juga yang seusia Ladu atau lebih tua. Terutama tamu mancanegara. Ladu memegang tangan istrinya, memberi semangat untuk terus berjalan. Semakin ke atas, semakin sering berhenti. Akhirnya dengan penuh perjuangan, mereka tiba di titik akhir perjalanan kuda.

Namun ternyata di sini pemberhentian terakhir istrinya Ladu. Dia tidak sanggup lagi melangkah. Mata berkunang-kunang. Ladu memberikan air minum. Sesaat mereka duduk sambil melihat ke kerumunan pengunjung yang duduk berkelompok. Ke arah puluhan kuda yang parkir tak jauh. Ke arah pura yang sudah jauh di bawah. Dan, ke arah ratusan, eh ribuan jeep terparkir rapi yang tampak seperti mobil-mobilan. Juga ke arah Pegunungan Tengger yang beberapa jam sebelumnya dikunjungi untuk menatap matahari terbit.

Lalu istri Ladu perlahan berucap, silakan lanjut ke atas, saya menunggu di sini. Tentu saja Ladu menolak. Bagaimanapun, mereka sudah melangkah jauh, dan dia bertekad, yang dimulai bersama, harus dituntaskan bersama pula. Kita sudah terlalu jauh untuk menyerah. Dia mulai membujuk istrinya. Tapi memang tidak bisa dipaksakan.

Akhirnya dengan berat hati Ladu sambil memegang tangan istrinya, menatap matanya, lalu meminta izin naik ke mulut kawah. Istrinya hanya mengangguk. Perlahan Ladu melangkah, meninggalkan istrinya yang duduk sendiri. Sejurus kemudian dia mengajak penulis berlari kecil menuju tangga naik. Katanya, ada 250 anak tangga menuju puncak. Dan kami melangkah ke tangga pertama sambil mengucap angka satu. Melangkah sambil berhitung.

Di hitungan ke-89, dia berhenti, membalikkan badan lalu melihat istrinya, yang masih duduk di tempat semula. Setelah mengatur napas, dia mengajak untuk melangkah lagi. Dan menghitung, 90, 91, 92, … Agak cepat, rupanya dia tak mau meninggalkan istrinya sendirian terlalu lama, meski masih dalam pantauan pandangan mata.

Di hitungan 146, dia menoleh lagi, dan istrinya kelihatan semakin kecil. Kuda-kuda pun terlihat seperti Alpaca, Llama atau Pygmy. Tidak mau terlalu lama istirahat, dia lawan rasa lelah dan meneruskan menghitung, hingga hitungan terakhir, 243. Bukan 250.

Dalam hati, mungkin salah hitung. Tapi sudahlah, bukan hal penting. Dengan nafas memburu, akhirnya kami sampai di puncak. Menyandarkan dada di pagar, lalu melihat ke bawah. Subhanallah, semua rasa lelah seketika sirna entah ke mana.

Tak membuang waktu lama, Ladu mengambil HP di saku celana, mengambil beberapa foto, lalu video. Tak lupa mengabadikan foto istrinya yang terlihat seperti semut. Kuda-kuda pun seperti kutu berkumpul. Dan mobil jeep itu, terlihat seperti, kotak korek kayu mini. Masih rapi. Tapi satu per satu sudah meninggalkan barisan. Menuju Lembah Widodaren, lalu mendaki Gunung Tengger.

Sekitar 5 menit menikmati keindahan alam di atas kawah, Ladu mengucapkan good bye. Ringan langkah kaki menuruni anak tangga. Setengah berlari. Hanya melambat untuk mendahului pengunjung lain. Kini, kami tak lagi menghitung. Persetan dengan jumlah, dia hanya ingin segera sampai di tempat istrinya duduk. Saat sampai, dia mengatur nafas, lalu mengajak istrinya kembali ke mobil jeep.

Naik kuda.

Bromo, Juli 2025

(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.