Oleh: Muhammad Sadar*

Sekolah lapang merupakan suatu metode pembelajaran di sektor pertanian untuk menerapkan inovasi atau teknis pertanian secara praktis di area budidaya komoditas tertentu. Sejak diperkenalkan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu atau disingkat SL-PHT pada tahun 1992 maka selanjutnya berkembang berbagai sekolah lapang untuk membuka wawasan petani dan membawa perubahan prilaku dalam mengelola ekosistem budidaya padi, maka metode tersebut diperluas lagi menjadi Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) untuk mendukung P2BN yaitu Program Peningkatan Beras Nasional pada era tahun 2007-2012 serta berbagai jenis sekolah lapang lainnya berdasarkan subsektor.

Kebijakan produksi beras nasional dewasa ini yang dituangkan dalam program swasembada pangan dihadapkan pada tantangan antara lain perubahan iklim global. Climate change yang awalnya sebagai sebuah modelling para ahli akan terjadi di kemudian hari, akhirnya telah menjadi kenyataan saat ini yang ditandai dengan pergeseran pola musim seantero dunia. Masyarakat global telah merasakan dampak perubahan iklim baik secara langsung berupa musim hujan berkepanjangan maupun musim kering yang melampaui keadaan normalnya.

Pengaruh nyata perubahan iklim adalah meningkatnya suhu bumi dan rata-rata tinggi permukaan air laut serta kejadian-kejadian ekstrim dari bencana hidrometeorologi seperti durasi hujan yang lama, angin taupan dan badai, yang mengakibatkan abrasi pada kawasan pesisir pantai, arus banjir dan tanah longsor. Sedangkan ekses lain dari climate change yaitu kekeringan yang berakibat terhadap mengeringnya sumber-sumber air serta efek kebakaran hutan dan lahan. Dampak buruk tersebut berimplikasi pada
produktivitas kinerja berbagai bidang kehidupan khususnya di sektor pertanian.

Sektor pertanian yang merasakan determinasi langsung perubahan iklim dunia akan dipersiapkan strategi adaptasi maupun mitigasi kebencanaan dan sistem kedaruratan atau early warning system klimatologi. Pengenalan unsur-unsur iklim maupun pola pembentuk musim kepada para pelaku pertanian dilaksanakan melalui cara sosialisasi atau diseminasi penerapan berbagai aplikasi layanan informasi atau updating cuaca eksisting. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika adalah menyelenggarakan Sekolah Lapang Iklim Tematik bidang pertanian di Kabupaten Barru pada 08 Oktober 2025.

Tujuan pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim Tematik (SLI) sebagaimana laporan yang disampaikan oleh Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Ayi Sudrajat,
S.P.,M.Si antara lain;

  1. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta tentang pentingnya informasi iklim, perubahan iklim, serta dampaknya pada sektor pertanian.
  2. Peningkatan kemampuan peserta untuk mengambil keputusan yang tepat dalam mengelola usaha tani para pelaku pertanian.
  3. Tercapainya swasembada pangan dan kesejahteraan masyarakat petani seperti dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia.

SLI Tematik tahun 2025 diikuti oleh para petani pilihan, fungsional penyuluh pertanian, petugas teknis pertanian dan pengendali organisme pengganggu tumbuhan atau POPT serta pengamat curah hujan pada pos hujan kerjasama antara BMKG dengan Dinas Pertanian setempat. Materi SLI meliputi definisi cuaca dan iklim beserta unsur-unsurnya antara lain radiasi matahari, suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, penguapan, pergerakan udara, per-awanan atau kondensasi dan presipitasi.

Dewasa ini, sangat penting memahami informasi iklim atau cuaca baik di lingkungan sehari-hari maupun pada suatu wilayah dan kawasan yang akan dituju. Materi iklim sangat dibutuhkan utamanya sektor pertanian yang menganut pola budidaya tanaman semusim seperti komoditas padi. Permulaan musim hujan atau musim kemarau telah menjadi acuan yang sangat fundamental dan menjadi pedoman para petani dalam mengawali turun sawah dan kegiatan pertanaman padi selanjutnya.

BMKG telah merumuskan suatu pedoman umum terkait penetapan waktu musim hujan dan musim kemarau di Indonesia. Sebagaimana khittahnya bahwa awal musim hujan ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya. Sedangkan awal musim kemarau ditandai dengan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya.

Penilaian terhadap waktu musim baik hujan atau kemarau akan terukur berdasarkan sifat dan intensitasnya serta pengaruh kondisi geografis tentunya berbeda pada setiap zona. Analisis dan prakiraan maupun prediksi musim tetap mengacu terhadap historis data suatu wilayah. Rangkaian evaluasi ini akan melahirkan status keadaan musim normal, atas normal atau bawah normal dari rata-rata klimatologisnya.

Panduan sekolah lapang iklim tematik selanjutnya membahas beberapa faktor tentang klimatologi antara lain El Nino yaitu suatu fenomena menghangatnya samudera Pasifik ekuator bagian tengah hingga timur atau yang dikenal dengan wilayah Nino 3.4. El Nino memberikan dampak terhadap penurunan curah hujan yang cukup signifikan bahkan dapat berdampak pada adanya gangguan tatanan durasi panjangnya periode musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia. Berbeda dengan La Nina, yang memberikan pengaruh terhadap peningkatan curah hujan yang cukup signifikan dan bahkan berdampak makin lamanya masa musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Fenomena La Nina dan El Nino merupakan kejadian multi year dengan rentang waktu antara dua hingga tujuh tahun.

Variabilitas iklim di Indonesia juga dipengaruhi oleh bentang alam Indonesia yang didominasi oleh perairan laut yang lebih luas dibanding dengan teritorial daratan. Suhu muka laut Indonesia menjadi salah satu indikator dalam menentukan laju peningkatan maupun penurunan jumlah massa udara yang ada di wilayah Indonesia. Dipole Mode Indeks (DMI) adalah merupakan fenomena variabilitas iklim dimana interaksi atmosfer- lautan antara Samudera Hindia bagian barat dengan Samudera Hindia bagian timur. Ketika DMI bernilai positif maka akan memberikan dampak pada penurunan curah hujan disebagian besar wilayah Indonesia bagian barat seperti di Sumatera dan Jawa, sebaliknya ketika DMI bernilai negatif maka akan berdampak pada peningkatan aktivitas konvektif di wilayah Indonesia (Buletin BMKG, 2025).

Keragaman kondisi iklim di Indonesia yang cukup fenomenal adalah jenis angin monsun. Monsun merupakan pergerakan aliran massa udara yang terjadi secara periodik antar musim. Domestik Indonesia adalah wilayah yang terimplikasi akibat dua monsun yaitu West North Pasifik Monsoon atau yang dikenal dengan angin baratan atau Monsoon Asia dan biasanya terjadi pada saat musim hujan antara bulan desember- februari. Kemudian Australian Monsoon atau angin timuran yang terjadi pada musim kemarau periode bulan juni-agustus di sebagian wilayah Indonesia. (Suplemen materi SLI Stasiun Klimatologi
Sulawesi Selatan, 2025).

Yang lebih spesifik dari produk dan layanan informasi iklim BMKG yang bisa diperoleh sangat mudah dan cepat yaitu aplikasi Info BMKG yang bisa terkoneksi langsung dengan pengguna android, disamping layanan BMKG melalui plat form media sosial seperti instagram, facebook dan twitter. Khusus Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan telah menyiapkan produk aplikasi whatsapp bernama MariKi’ Sulsel atau Mari Kenali Iklim Sulawesi Selatan. Respon cepat dan update informasi iklim Sulsel disiapkan dalam bentuk data dinamika cuaca per kabupaten hingga kecamatan.

MariKi’ Sulsel merupakan salah satu produk layanan yang bermateri informasi iklim dasarian, bulanan dan musiman, permintaan data iklim secara umum, serta buletin iklim Provinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan dalam buletin diterangkan berbagai elemen informasi iklim antara lain monitoring hari tanpa hujan, analisis dan prakiraan maupun sifat hujan, peringatan dini, analisis awal musim baik musim hujan atau musim kemarau serta perkembangan komponen iklim. Selain itu, produk informasi utama di dalam buletin Stasiun Klimatologi meliputi evaluasi musim, analisis dan prakiraan indeks presipitasi, informasi daerah potensi banjir, serta perbandingan awal musim dan peak season.

Sekolah Lapang Iklim Tematik sangat bermanfaat bagi segenap pemangku kepentingan utamanya para pelaku pertanian. Informasi iklim yang dijabarkan dalam metode SL dan simulasi pembelajaran di kelas menarik minat peserta karena dunia iklim dan cuaca selama ini yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari ternyata mampu disiasati dengan cara adaptasi dan mitigasi. Pada masa anomali berlangsung, penggunaan sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk, alsintan, maupun pelaksanaan waktu tanam dan panen sangat penting dipertimbangkan waktu penerapannya agar efektif dan tidak menjadi sia-sia.

Ketika anomali iklim menimpa pada suasana keberlimpahan air berupa curah hujan diatas normal, maka dunia pertanian yang menangani budidaya padi harus memberdayakan dan menyesuaikan penggunaan varietas unggul tahan genangan atau tahan rebah serta resisten terhadap hama penyakit pada kondisi kelembaban tinggi. Begitupun juga sebaliknya pada keadaan ekstrim kemarau panjang tanpa hujan, maka direkomendasikan penggunaan benih padi umur genjah dan resisten atau toleran terhadap fase kekeringan yang melanda.

Tujuan pokok pembelajaran SLI adalah semata-mata untuk menciptakan para petani sanggup menyesuaikan sumber daya yang dimiliki dengan masa perubahan iklim yang terjadi. Dengan pengetahuan tentang iklim berbasis sainstifik diharapkan petani mampu dan berdaya hingga memiliki sifat ketangguhan menghadapi climate change saat ini dan masa yang akan datang.

Para pelaku pertanian sekiranya memanfaatkan segala jenis lini informasi terkait iklim untuk menentukan dan mengadaptasikan sistem budidaya pertanian yang dijalaninya. Iklim sejak peradaban makhluk di planet bumi ini, telah menjadi keniscayaan dan faktor penentu terhadap upaya resilensi manusia di dalam survival kehidupannya. Oleh karena itu pembelajaran iklim pada SLI telah membuka wawasan akan pentingnya memahami informasi iklim untuk kepentingan kelancaran segala urusan di dunia.

Barru, 08 Oktober 2025

*Pengamat CH Pos Hujan Kerjasama BMKG-Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru

(Visited 119 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.