Ada doa yang tidak lekas dijawab Tuhan, bukan karena Ia lupa, tetapi karena Ia ingin kita tumbuh lebih dulu sebelum menerima karunia itu. Ada cita-cita yang tidak langsung tercapai, bukan karena dunia menolak, tetapi karena langit sedang menyiapkan jalan agar ketika kita sampai, kita benar-benar siap untuk bersyukur.

Begitulah perjalanan karier saya dimulai—dari ruang sempit yang hanya berisi mimpi, ditertawai orang lewat, akhirnya menuju cakrawala luas yang berisi pengalaman dan hikmah.


Tahun 1991, saya masih seorang dosen muda di Universitas Hasanuddin. Di ruang administrasi fakultas yang hangat oleh bau kertas dan tinta, saya menerima formulir riwayat hidup. Ada satu kolom yang membuat pena saya berhenti: pengalaman ke luar negeri. Saya menatap kosong. Ke luar negeri? Ke Malaysia saja belum pernah. Paspor pun belum saya punya.

Di sebelah saya, rekan sejawat menulis dengan lincah: Inggris, Prancis, Thailand. Saya tersenyum getir, menatap nama-nama negara itu seakan menatap bintang yang jauh di langit. Saya ingin menulis sesuatu, tapi tak tahu apa. Akhirnya, saya hanya menulis dalam hati: “Ya Allah, sempatkanlah hamba-Mu suatu hari nanti menjejak bumi-Mu di negeri-negeri jauh, bukan untuk sombong, tapi untuk belajar tentang kebesaran-Mu.”

Doa itu kecil, tapi bergetar. Ia tinggal di dada saya bertahun-tahun seperti benih yang menunggu musim hujan. Saya bekerja, meneliti, mengajar, dan terus berusaha memperbaiki diri. Saya tidak tahu kapan Tuhan akan menjawab, tapi saya percaya setiap doa yang lahir dari keikhlasan punya alamat di langit.

Hingga suatu hari, surat undangan datang—undangan pertama ke luar negeri. Rasanya seperti membaca kaligrafi takdir yang ditulis dengan tinta emas. Sejak saat itu, langkah saya tak lagi berhenti di batas tanah air. Dunia membuka tangannya perlahan, seperti ibu yang menepuk pundak anaknya dan berkata: “Sudah saatnya engkau pergi, Nak. Lihatlah luasnya bumi.”

Asia menjadi halaman pertama yang saya baca. Di Jepang, saya belajar tentang disiplin yang mengalir dalam denyut waktu. Di Thailand, keramahan menjadi bahasa universal. Di Korea, teknologi berpadu dengan kearifan lama. Setiap negara adalah buku terbuka, setiap manusia adalah ayat yang harus dibaca dengan hati.

Dari Asia, langkah itu menembus Eropa. Saya berdiri di depan menara Eiffel, bukan sebagai turis, tapi sebagai pembelajar yang diam-diam menangis: “Beginikah rasanya melihat dunia dari mata doa masa lalu?” Di Jerman, saya belajar tentang ketekunan. Di Prancis, tentang keindahan berpikir. Di Swiss, tentang keseimbangan antara kerja keras dan ketenangan jiwa.

Amerika menyambut saya dengan dinamikanya yang tak pernah tidur. Di sana saya melukis Gefung Putih, NASA, Pebtagon, bekas WTC yang runtuh. Hal ini kulakukan bukan untuk menunjukkan kebesaran diri, melainkan untuk membuktikan bahwa ilmu dari Timur pun bisa bersinar di Barat. Bahwa pengetahuan tidak mengenal bangsa, hanya mengenal semangat.

Australia memberi jeda. Di benua yang sunyi itu, saya menyadari bahwa perjalanan bukan hanya tentang jarak, tapi tentang makna. Di setiap tepi pantai dan sabana yang luas, saya melihat kebesaran Tuhan tanpa teriakan. Langitnya biru, lautnya jernih, tapi hati saya paling bening saat menyadari: “Betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan-Nya.”

Hanya satu benua yang belum saya datangi — Afrika. Saya yakin, Tuhan sengaja menyisakannya, agar saya masih punya alasan untuk bermimpi, masih punya ruang untuk berdoa. Karena bila semua sudah tercapai, mungkin rasa rindu pada perjalanan akan kehilangan makna.

Saya tak pernah melanglang buana untuk berlibur. Hampir semua perjalanan saya ditemani kertas presentasi, naskah ilmiah, dan jadwal seminar bersama istri yang juga ilmuwan. Namun, di balik layar akademik itu, selalu ada momen hening bersama keluarga — duduk minum teh di tepi kanal Amsterdam, berjalan bergandengan di bawah salju Swiss, atau sekadar memandangi matahari tenggelam dari jendela hotel sambil bersyukur diam-diam.

Istri dan anak-anak menjadi sahabat perjalanan terbaik. Bersama mereka, setiap perjalanan menjadi doa keluarga yang hidup. Kami belajar bahwa kebahagiaan tidak terletak pada tempat yang dikunjungi, tetapi pada siapa yang berjalan bersama.

Acapkali saya tersenyum sendiri, teringat masa muda yang memandang kosong kolom “pengalaman luar negeri” itu. Saya ingin kembali ke masa itu sejenak, menyentuh pundak diri saya yang polos, lalu berkata: “Jangan sedih. Tuhan hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk membuatmu mengerti makna syukur.”

Kini, setiap kali pesawat lepas landas, saya tak lagi hanya melihat awan, tapi juga melihat perjalanan batin saya sendiri — dari rasa iri menjadi inspirasi, dari doa menjadi kenyataan. Setiap boarding pass adalah bukti bahwa Tuhan mendengar bisikan yang bahkan tidak diucapkan dengan suara.

Melanglang buana bukan tentang kaki yang melangkah jauh, tapi tentang hati yang mau terbuka pada hikmah. Dunia ini bukan panggung kemenangan, melainkan madrasah besar tempat manusia belajar rendah hati.

Saya percaya: jika seseorang berjalan karena ilmu, maka setiap langkahnya adalah ibadah. Setiap jarak yang ia tempuh akan menjadi jembatan antara pengetahuan dan kebijaksanaan, antara dunia dan surga.

Kini saya tahu, yang membuat manusia tinggi bukan pesawat yang ia tumpangi, tapi niat yang ia bawa. Yang membuat perjalanan berharga bukan paspor yang penuh cap, tapi hati yang penuh makna.

Tuhan tidak pernah membiarkan doa yang tulus hilang. Ia hanya menundanya sampai kita siap untuk mensyukuri setiap langkah.

Pada akhirnya, saya menyadari: melanglang buana karena ilmu bukanlah kisah tentang sejauh apa saya pergi, melainkan tentang seberapa dalam saya mengenal diri dan Pencipta saya. [HTB]

(Visited 16 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.