Jika tidak ada orang jahat, tidak akan ada pengacara yang baik.
Charles Dickens
A. Mengenal Yap Thiam Hien
Dunia hukum mengenal nama Yap Thiam Hien sebagai legenda, cerita, sekaligus inspirasi yang mendorong para penegak hukum untuk melaksanakan kerja-kerja bersih, berdedikasi, dan tak pandang bulu dalam menjunjung kebenaran. Sang Pendekar Keadilan (Pengacara &Penegak HAM)
Yap bisa dibilang hanya segelintir orang yang bisa jadi pelita di tengah kacau balaunya semesta hukum Indonesia.
Yap lahir di Kuta Raja, Aceh, pada 25 Mei 1913. Ia adalah anak tertua dari tiga bersaudara.
Masa kecil Yap dihabiskan di rumah besar milik kakeknya, Joen Khoy, bersama bibi, paman, dan sepupunya. Ia dekat dengan ibunya, Tjing Nio, dan omah Jepang-nya (atau nenek), Nakashima. Kedua sosok tersebut dianggap sangat berpengaruh dalam hidup Yap.
Daniel Lev, Indonesianis dari Washington University, dalam No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, Indonesian Human Rights Lawyer (2011) mengatakan, keluarga Yap termasuk golongan elite Tionghoa di Kuta Raja.
Status tersebut dapat dilihat dari fakta bahwa buyutnya, Yap A Sin, merupakan pejabat lokal dengan pangkat letnan di zaman kolonial. Buyutnya yang lahir di Bangka itu lantas menikah dengan putri kapitan Cina di Kuta Raja.
Tidak lama kemudian, buyut Yap perlahan mulai membangun usahanya di sana.
Masih menurut catatan Lev, bisnis keluarga Yap ada banyak; dari kolam ikan hingga perkebunan kelapa. Ditambah lagi, keluarga Yap mendapatkan hak untuk memonopoli perdagangan opium dari pemerintah Belanda.
Kondisi itu mengakibatkan kekayaan keluarganya makin menumpuk serta Yap bersama adik-adiknya mampu mendapatkan akses pendidikan secara baik dengan masuk di salah satu sekolah Belanda di Kuta Raja.
Akan tetapi, masa jaya keluarganya tak berlangsung lama. Charles Coppel dalam “The Making of An Indonesian Human Rights Lawyer” yang terbit di Inside Indonesia menyebut, pada akhir 1910-an, bisnis keluarga Yap bangkrut tatkala pemerintah Belanda mencabut hak istimewa pejabat lokal keturunan Tionghoa.
Guna menutup utang-utangnya, kakek Yap menjual rumah besarnya. Yap dan adik-adiknya lalu pindah ke rumah keluarga ibunya.
Yap belajar hukum di Universitas Leiden. Ia menyelesaikan studinya pada 1947. Selain mendalami hukum, menurut Coppel, Yap juga menyelami teologi serta aktif dalam kegiatan geraja. Dari sini, Yap Thiam Hien lalu berkomitmen penuh pada dua hal: gereja dan hukum.
Dan komitmen itu Yap buktikan saat ia balik ke Indonesia setahun kemudian.
Yap Thiam Hien telah belajar banyak dari hidupnya. Ia pernah menyaksikan keluarganya jadi korban kebijakan diskriminasi pemerintah kolonial. Ia juga melihat bagaimana orang-orang di sekitarnya mendapatkan perlakuan tak adil. Dari situlah Yap bertekad ingin menegakkan hukum setegak-tegaknya.
Pada 1949, Yap memperoleh sertifikat pengacara dari Kementerian Hukum. Ia sempat bergabung dengan John Karuin, Mochtar Kusumaatmadja, dan Komar, sebelum membuka kantor sendiri pada 1950. Seperti ditulis Lev, sembari menjalankan rutinitasnya, Yap tetap menimba ilmu dari para advokat senior macam Lie Kian Kim, Tan Po Goan, serta Oei Tjoe Tat.
Gebrakan pertama Yap terjadi kala sidang Konstituante pada 12 Mei 1959. Dalam Yap Thiam Hien: Sang Pendekar Keadilan (2013) yang diterbitkan Tempo disebutkan, di sidang itu, Yap menolak pemberlakuan UUD 1945.
Menurutnya, UUD 1945 terlalu otoriter, menyediakan kesempatan Sukarno untuk berkuasa lebih lama, hingga dianggap punya potensi besar membunuh penegakan HAM.
Prinsip yang selalu dipakai Yap dalam menangani kasus hukum ialah mencari kebenaran, bukan kemenangan. Tak jarang, Yap menggratiskan biaya perkara kepada kliennya.
Kiprah Yap dalam “membela demi kebenaran” terus berlanjut pada 1968 ketika ia menangani kasus pengusaha bengkel yang mengaku diperas Kepala Kejaksaan Tinggi Jakarta dan Kepolisian Daerah Jakarta. Dalam agenda sidang, seperti dituturkan Tempo, Yap meminta pengadilan untuk menahan mereka tanpa tedeng aling-aling.
Kemudian, memasuki 1980-an, Yap bikin geger karena membela Rachmat Basoeki, yang didakwa jadi tersangka pengeboman kantor cabang BCA di Jalan Gajah Mada, Jakarta, serta beberapa pertokoan di kawasan Glodok. Yap merasa perlu membela Basoeki sebab ia yakin ada motif kepentingan yang lebih luas di balik pengeboman itu. Yap tak risau dengan sikap Basoeki yang dikenal anti-Cina. Pengadilan akhirnya meringankan hukuman Basoeki jadi 17 tahun penjara dari semula hukuman mati.
Pada 28 Oktober 1969, misalnya, Yap bersama P.K. Ojong, Loekman Wiriadinata, Hasjim Mahdan, Ali Moertopo, serta Dharsono, membentuk LBH (Lembaga Bantuan Hukum) yang berfungsi untuk memberi pelayanan hukum kepada mereka yang tak mampu. Organisasi ini masih eksis sampai sekarang.
Api perjuangan Yap terus menyala sampai ia meninggal pada 25 April 1989.
Yap Thiam Hien berpulang ketika sedang menghadiri pertemuan InterNGO Conference on Indonesia (INGI), organisasi yang bertujuan mengembangkan partisipasi rakyat dan LSM dalam pembangunan masyarakat dan negara, di Brussels, Belgia.
Membicarakan perjuangan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia, tentu tak lengkap bila kita tidak mengenal dan membicarakan Yap Thiam Hien.
Gagasan, perjuangan dan pemikirannya tentang HAM masih menjadi rujukan hingga hari ini.
B. Pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
Jika melihat perjuangan Yap, kita dapat melihat dirinya memiliki satu pola yang sama, yakni tidak senang terhadap kekuasaan yang berlebihan.
Dirinya menganut kepercayaan Lord Action yang mengatakan power tends to corrupt (kekuasaan berkecendrungan korup).
Karena ada kecenderungan inilah Yap selalu mengatakan pentingnya menyadari bahwa Indonesia adalah negara hukum, bukan negara kekuasaan.
Dengan kerangka berfikir itu pula Yap mendirikan Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia pada tahun 1966.
Kemudian ia juga mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) bersama Adnan Buyung Nasution pada tahun 1970.
Aktivitas pembelaan yang dilakukan Yap juga tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri, ia menjadi salah satu pendiri Dewan Hak Asasi Manusia di Asia (Regional Council of Human Rights in Asia), dan menjadi anggota Komisi Juris Internasional (International Commission of Jurists).
Segudang kiprah dan pembelaan terhadap HAM yang ia lakukan semasa hidupnya hingga ia wafat pada 29 April 1989.
C. Award Yap Thiam Hien
Untuk dan atas nama penghargaan dan perjuangan Yap, maka lahirlah Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia memberikan Penghargaan Award Yap Thiam Hien kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan hak asasi manusia .

Diketahui, Yap Thiam Hien Award ialah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia.
Sejak tahun 1992 hingga sekarang. Berikut daftar peraih penghargaan Yap Thiam Hien :

1). 1992 – Haji Muhidin, Jhony Simanjuntak dan H.J.C. Princen
2). 1993 – Marsinah
3). 1994 – Trimoelja D. Soerjadi
4). 1995 – Jenggawah dan Ade Rostina Sitompul
5). 1996 – Sandyawan Sumardi S.J
6). 1997 – tidak ada penyerahan penghargaan
7). 1998 – Kontras dan Farida Hariyani
8). 1999 – Sarah Lery Mboeik dan Mama Yosepha Alomang
9). 2000 – The Urban Poor Consortium
10). 2001 – Suraiya Kamaruzaman dan Ester Jusuf Purba
11). 2002 – Widji Thukul
12). 2003 – Maria Hartiningsih
13). 2004 – Maria Catarina Sumarsih
14). 2005 – tidak ada penyerahan penghargaan
15). 2008 -Siti Musdah Mulia
16). 2009 – Yohanes Jonga
17). 2010 – Asmara Nababan
18). 2011 – Prof. Dr. Soetandyo Wignjosoebroto
19). 2012- Majalah TEMPO
20). 2013-Dawam Raharjo
21). 2014 Anis Hidayah
22). 2015 – Handoko
23). 2016 – Aleta Baun
24). 2017 – Gus Mus
26). 2018 – Eva Bande dan sedulur Sikep.
D. Penutup
Sejarah mencatat, Yap Thiam Hien merupakan advokat yang menggunakan ilmu hukum untuk kemaslahatan bersama. Yap menjadi besar dengan sikapnya tersebut.
Namun, sejarah juga mencatat, jalan yang ditempuh Yap, yang adalah cucu Kapitan di Aceh, Yap Hun Han ini tidak selalu mulus.
Indonesia tidak pernah kehilangan cahaya di tengah gelapnya khatulistiwa, buktinya masih banyak orang-orang berintegritas yang patut diteladani sepak terjangnya dalam mengemban tugas.
Sektor kepolisian terdapat Hoegeng, sektor kejaksaan terdapat Baharuddin Lopa, dan sektor pengacara terdapat Yap Thiam Hien.
Mengenal tokoh tokoh lewat gerakan dan perjuangannya dapat di jadikan motivasi untuk generasi Indonesia ke depan Yap salah satu pendekar keadilan khususnya pengacara.
Perbanyak membaca literasi akan menyimpan aura positif dan memberi semangat yang luar biasa.
Sumber Suntingan :
https://voi.id/memori/6383/dedikasi-yap-thiam-hien-untuk-perjuangan-ham.
Makassar, 18 Mei 2022.
Disunting & Diberdayakan :


Sudirman Muhammadiyah
(Member Bengkel Narasi).
Jika Saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda karena kita pasti akan kalah. Tapi, jika Saudara cukup dan puas mengemukakan kebenaran Saudara, saya mau menjadi pembela Saudara.”
Yap Thiam Hien
Demikian disampaikan Yap Thiam Hien saat diminta menjadi kuasa hukum dari Soebandrio, mantan Wakil Perdana Menteri Pertama Indonesia, yang merangkap Menteri Luar Negeri
