Menjelang salat Subuh tadi dini hari, Mekah seperti menarik napas panjang. Kota Suci yang tak pernah benar-benar tidur itu tiba-tiba terdiam, seolah-olah Tuhan mematikan satu saklar raksasa di langit. Setengah lantai hotel tempat kita menginap tenggelam dalam gelap yang pekat. Bukan gelap yang menakutkan, melainkan gelap yang membuat manusia tiba-tiba merasa kecil, telanjang, dan harus kembali bergantung pada Yang Maha Terang.

Dari lorong-lorong kamar terdengar suara gaduh, kaget, teriakan panik, dan langkah orang yang mencari-cari tombol lampu yang tak lagi berfungsi. Gelap membuat manusia seperti anak kecil: semua kembali mencari pegangan, mencari kepastian. Padahal yang padam hanya listrik, bukan kasih sayang Allah. Begitulah manusia, gelap satu detik saja sudah merasa seluruh hidupnya ditarik tanpa peringatan.

Di layar ponsel saya, pesan-pesan dari teman rombongan bermunculan bertubi-tubi. Ada yang bertanya apa yang terjadi, ada yang separuh bercanda, separuh takut. Dalam gelap, humor dan kecemasan sering berjalan berdampingan. Saya hanya membalas singkat: “Sabar saja. Habis gelap, terbilaht terang.” Bukan sekadar kalimat, tapi doa kecil yang saya titipkan kepada mereka, agar hati ikut menyala meski lampu sedang mati.

Gelap itu seperti mengerti pesan kita. Belum lima menit berlalu, tiba-tiba ada desir halus, suara mesin AC yang menyala kembali, suara kehidupan yang kembali mengalir seperti sungai kecil yang menemukan jalannya. Lampu-lampu hotel menyala serentak. Cahaya putih menerobos tiap pintu, tiap jendela, seperti malaikat yang baru diberi tugas membangunkan dunia.

Terang itu datang seperti tamu yang terburu-buru masuk. Tidak ada salam, tidak ada ketukan pintu. Tiba-tiba saja dia hadir, memulihkan rasa aman, memulihkan rasa percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini selalu berada dalam pengaturan-Nya. Teman-teman yang tadi panik berubah lega, suara-suara ceria bermunculan dari kamar masing-masing. Hidup memang begitu, satu detik gelap membuat orang menjerit, satu detik terang membuat orang kembali tersenyum.

Saya duduk sejenak, merenungi kejadian tadi. Betapa cahaya sering kita anggap biasa, sampai ia pergi. Betapa tenangnya hidup sering kita lupa syukuri, sampai ia tersendat. Allah memberi pelajaran, bukan lewat gempa besar atau bencana dahsyat, tetapi lewat padamnya listrik beberapa menit. Mengingatkan kita bahwa terang bukan hak kita, ia karunia yang setiap hari kita pinjam.

Di luar, suara azan Subuh terdengar nyaring, merambat dari pengeras suara Masjidil Haram, menembus kaca jendela, dan menyapu hati seperti angin yang membawa kabar bahagia. Cahaya listrik memang sudah kembali, tetapi cahaya yang benar-benar kita cari sejak tadi adalah cahaya panggilan itu. Cahaya yang mengajak kita bangkit, sujud, dan kembali pulang kepada-Nya.

Habis gelap terbitlah terang. Bukan hanya terang dari lampu-lampu hotel, tetapi terang dari kesadaran. Bahwasanya hidup ini adalah perjalanan antara padam dan menyala, antara takut dan percaya, antara gelap dan bimbingan-Nya. Setiap kali terang datang setelah gelap, kita selalu belajar hal yang sama. Allah tidak pernah pergi. Kitalah yang sering terlambat menyadari cahaya-Nya. [HTB-JT]

Hotel Almassa Mekah, 16 November 2025
Pk. 08.22 WAS [+5 WITA]

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.