Ketika Tuhan membasuh wajah Pulau Sumatera, Duka tidak datang mengetuk, ia menerjang sebagai prahara. Sungai yang dulu tenang, kini kehilangan sabar. Ia berteriak, memuntahkan amarah yang lama terpendam.
Lihatlah apa yang ia bawa… Bukan sekadar air, tapi arak-arakan bangkai raksasa. Kayu-kayu purba, telanjang tanpa kulit, Terkoyak dari rahim hutan, hanyut menyeret ratusan napas, menenggelamkan ribuan nama ke dalam sunyi yang dingin.
Ini bukan sekadar banjir, ini adalah parade bukti. Di antara lumpur pekat, batang-batang itu bersaksi: Potongannya mulus, ukurannya seragam. Lukanya terlalu rapi untuk disebut kecelakaan alam. Ini adalah cetakan keserakahan yang presisi.
Mustahil mereka tumbang sendiri. Mustahil mereka hanyut dari kebun petani kecil. Ini adalah armada dosa yang tertunda angkutnya, Hingga bah yang akhirnya menjadi kurirnya.
Kanopi hijau terkoyak. Hulu telah ditelanjangi, tak ada lagi yang memeluk bumi. Spons raksasa itu telah bolong, Dan kita, manusia, dipaksa menelan konsekuensinya.
Jangan kau sebut mereka penjahat, Saat tangan-tangan lapar mengais sisa di atas puing. Mereka bukan penjarah, mereka adalah korban yang terhimpit mati. Jeritan perut di tengah bencana tak butuh hukum, tapi hati.
Alam tidak pernah menghukum. Ia hanya sedang menagih kembali haknya. Jika kita tetap menutup mata pada luka hulu, Maka kita hanya sedang berdiri dalam antrean, Menunggu giliran menjadi korban penyesalan.
Makassar, 1 Desember 2025
