Oleh : Tammasse Balla

Sebuah lagu relegius selalu menaklukkan bulu romaku tiap mendengarnya: Sepohon Kayu, ciptaan Ustads Jeffry Al Buchori:

sepohon kayu daunnya rimbun
lebat bunganya serta buahnya
walaupun hidup seribu tahun bila tak sembahyang apa gunanya 2x

kami bekerja sehari-hari
untuk berlanja rumah sendiri
walaupun hidup seribu tahun bila tak sembahyang apa gunanya 2x

kami sembahyang fardhu sembahyang
sunah pun ada bukan sembarang
supaya Allah menjadi sayang
kami bekerja hatilah riang

oh ….. oh ….. oh …..oh …..

kami sembahyang limalah waktu
siang dan malam sudahlah tentu
hidup di kubur yatim piatu
tinggallah seorang dipukul dipalu

dipukul dipalu sehari-hari
barulah ia sadarkan diri
hidup di dunia tiada arti
akhirat di sana sangatlah rugi

Lirik lagu ini mengandung peringatan bagi manusia. Liriknya memantik saya mengulas dalam tulisan naratif deskriptif. Sepohon kayu berdiri tegak di tepi ladang, daunnya bergetar dipeluk angin, akarnya menembus bumi, batangnya menantang langit. Demikianlah hidup manusia—diberi kekuatan, diberi kesempatan, diberi usia. Namun, apa arti semua itu bila akar tak bersambung dengan Sang Pencipta?

Hidup boleh panjang seribu tahun, tetapi tanpa sembahyang, seribu tahun hanyalah seribu detik yang hampa. Waktu yang tidak diisi dengan sujud hanyalah deretan hari tanpa cahaya. Ia bagai perjalanan jauh di padang pasir, namun tanpa arah, tanpa mata air, tanpa tempat pulang.

Sembahyang adalah nafas jiwa, ia adalah mata air di padang gersang. Barang siapa menegakkannya, hatinya akan segar, langkahnya ringan, hidupnya berisi. Barang siapa meninggalkannya, batinnya kering, hatinya gersang, meski dunia berada dalam genggamannya.

Syair Ustaz Jeffry Al Buchori itu bukan sekadar lagu, melainkan seruan azali: “Walaupun hidup seribu tahun, bila tak sembahyang apa gunanya?” Kata-kata itu adalah cambuk bagi hati yang tertidur, adalah ketukan bagi jiwa yang lalai. Hidup sejati bukanlah panjangnya usia, melainkan dekatnya jiwa kepada Allah.

Ada lelaki panjang umur dalam sebuah kampung. Hartanya luas, kedudukannya tinggi, namanya harum. Ia berkata: “Nanti, bila aku tua, aku akan sembahyang.” Tua pun datang, sakit pun menjerat, lidahnya kelu, tubuhnya lemah. Ia ingin sujud, tetapi tak kuasa. Ia pun wafat, meninggalkan segala yang dikagumi, tetapi pulang dengan tangan kosong.

Pada situasi lain, ada seorang fakir sederhana. Bajunya lusuh, rumahnya reyot, makan pun seadanya. Namun, tiap subuh ia bangun, malam ia bersujud panjang. Ketika ajal datang, wajahnya bercahaya. Ia pulang dengan senyum, sebab bekalnya sudah cukup—bekal yang lahir dari sembahyang yang tak pernah ia tinggalkan.

Jelaslah, hidup bukanlah hitungan tahun, melainkan arah perjalanan. Panjang umur tanpa ibadah hanyalah jalan panjang menuju kehampaan. Umur singkat dengan sembahyang adalah jalan singkat menuju keabadian. Hidup bukanlah tentang lamanya tinggal, melainkan bagaimana kita pulang.

Lagu sederhana “Sepohon Kayu” di atas telah mengajarkan kita. Akar yang dalam adalah iman, batang yang tegak adalah amal, daun yang rindang adalah manfaat. Bila pohon itu tidak berakar, ia akan tumbang. Bila manusia tidak bersembahyang, ia akan kehilangan arah.

Saudaraku, jangan biarkan hidupmu gugur seperti daun kering yang tertiup angin. Jadilah pohon subur yang meneduhkan, memberi banyak buah. Ingat, hanya dengan sembahyang jiwa akan tumbuh, hati akan berbuah, hidup akan menemukan maknanya.

Ya Allah, jadikanlah hati kami selalu merindu-Mu. Jangan Engkau biarkan langkah kami jauh dari sujud-Mu. Panjangkan umur kami dalam ketaatan, dan pendekkanlah waktu kami dalam maksiat. Bila detik terakhir hidup menjelang, biarlah kami beranjak dengan dada lapang dan wajah yang masih basah oleh cahaya sujud. Jangan biarkan kami beralih sebagai arca kosong yang tercabut dari akar, tetapi sebagai manusia yang menutup hidup dengan satu salam kepada-Mu.

Andai saat perpisahan dari dunia tiba, biarlah ia menemukan kami sedang sujud, tersenyum dalam doa, seakan hidup ini hanyalah perpanjangan dari sebuah salat yang tak pernah selesai. Angkatlah kami, Tuhan, dengan langkah ringan, seakan-akan perjalanan kembali hanyalah menuju rumah yang lama kami rindukan. [HTB]

(Visited 35 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.