Oleh: Muhammad Sadar*
Sejak meninggalkan jejak dalam rantauan perjalanan belajar di sebuah Sekolah Menengah Teknologi Pertanian yang beralamat di kampung bernama Ciro-CiroE pada wilayah pemerintah daerah Kabupaten Sidrap 32,6 tahun silam, maka pada saat itu pula tertanam berbagai lembaran catatan ilmu dan bauran background di bidang pertanian. Selama tiga tahun di tanah Ciro-CiroE dan berstatus siswa baru hingga mengakhiri pendidikan dalam sistem kurikulum berbasis teknis pertanian. Tenaga pendidik atau guru pengampu bidang studi pelajaran kejuruan, semuanya merupakan alumni berlatar ranah pendidikan pertanian dari perguruan tinggi termasyhur yang didirikan pada zaman kolonial Belanda yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sistem penyelenggaraan pendidikan pada sekolah kejuruan memang berbeda nyata dengan sekolah lanjutan pada umumnya. Pelaksanaan praktikum di lapangan memiliki proporsi lebih besar dibandingkan pembelajaran di dalam ruang kelas yang teks book. Metode inilah yang membentuk kemampuan alumni di dalam penerapan ilmu-ilmu dasar pertanian seperti pada rumpun agronomi yaitu rangkaian mata ajar teknologi produksi (budidaya tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura), perlindungan tanaman, irigasi, ilmu ukur wilayah dan kesuburan tanah, mekanisasi pertanian, hingga pengelolaan usaha pertanian dan penyuluhan atau teknologi hasil pertanian.
Diantara mata pelajaran kejuruan yang diampu para guru dan sarat dengan berbagai istilah ilmiah maupun bahasa latin yaitu materi budidaya komoditas perkebunan, antara lain yang paling menguatkan memori ilmu hingga saat ini adalah tanaman kakao dan kopi selain cengkeh, kelapa sawit, lada, teh dan tanaman perkebunan semusim seperti tebu, tembakau, rosella atau yute. Dalam sistem budidaya tanaman, kakao dan kopi memiliki spesifikasi pekerjaan sebelum penanaman tanaman utama.
Dengan latar tanaman kakao dan kopi yang berasal dari lingkungan subtropis, sehingga untuk menyesuaikan kondisi iklim mikro tanaman, maka lingkungan tumbuh disyaratkan perlunya pohon penaung yang berfungsi melindungi tanaman dari paparan iklim tropis yang bersuhu diatas 30 derajat celcius. Disinilah berawal penulis diperkenalkan oleh pengajar mata pelajaran agronomi berbagai macam nama-nama latin pohon pelindung diantaranya Sesbania grandiflora yang lazim disebut oleh masyarakat lokal adalah pohon turi atau turi.
Sesbania grandiflora sebagaimana penyebutan para ahli botani dunia adalah struktur tanaman pohon perdu dengan tinggi hingga mencapai 20 meter diatas permukaan tanah. Tanaman ini tergolong dalam klasifikasi leguminosa atau kacang-kacangan dimana bagian vegetatif tanaman yang terdiri atas bunga, biji, dan buah yang bisa menjadi bahan sayuran konsumtif. Sedangkan daun tanaman dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan fermentasi olahan pupuk organik. Bahkan kalangan herbalis memanfaatkan bagian tanaman tertentu sebagai obat tradisional untuk penyembuhan penyakit.
Pembelajaran pohon pelindung sesbania grandiflora pada bidang studi budidaya kakao dan kopi, bagi penulis adalah hal baru ketika masa sekolah dulu. Jenis tanaman tersebut tersebar di lingkungan sekolah sehingga sangat mudah diidentifikasi dan dipelajari ekologinya. Pengenalan tanamannya pun dilakukan oleh tim guru pengampu instalasi budidaya tanaman perkebunan yaitu Bapak Darmazi, Bapak Ir. Edy Junaedi dan Ibu Sukarti. Para guru inilah yang menempa dan membentuk mindset knowledge pertanian penulis hingga menjadi alumni dari Ciro-CiroE. Petunjuk dan bimbingan belajar mata pelajaran agronomi secara keseluruhan sangat bermanfaat dan warisan ilmu botani dari kaum pendidik seakan tiada berhenti mengalir.

Takdir nasib para alumni IPB dari land of Java untuk mengalirkan ilmunya kepada murid di Celebes island hingga merajut pertautan nazab keluarga di tanah pengabdian Ciro-CiroE. Mereka bermukim di kampung ini dalam kapasitas sebagai guru pendidik bagi kaum perantau anak sekolah, dan membangun sebuah pondok yang terkenal di kalangan pelajar waktu itu. Tempat mukim tersebut digelari pondok Bumi Janda yang merupakan singkatan dari Bugis-Minangkabau Jawa-Sunda, dimana empat suku bangsa menetap di graha etnis nasional tersebut yang menunjukkan darimana ia berasal.
Rangkaian proses pembelajaran tanaman pelindung utamanya pohon turi atau sesbania grandiflora yang terus membawa suatu kenangan sains ilmiah dan diabadikan menjadi sebuah labelling bagi penulis, hingga membentuk sebuah persepsi kesalahan identitas di plat form digital dengan anggapan bahwa sesbania grandiflora itu berkelamin wanita, hee…hee…hee…hee….. Walaupun nama asing tersebut tidak menjadi identitas resmi didalam setiap dokumen penulis, namun sesbania grandiflora yang dinisbatkan kepada diri penulis tidak lebih dari sebuah pesan simbolik sebagai sarana pelengkap pada model adaptasi dan mitigasi perlindungan tanaman dan lahan dari dinamika iklim.
Struktur botani sesbania grandiflora sangat cocok di dalam pemanfaatan kegiatan penanggulangan lahan kritis sebagai tanaman penghijauan dimana sebaran vegetatif daunnya mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara di dalam tanah dan menciptakan reaksi humufikasi, aktivasi biologis mikroorganisme, dan fiksasi nitrogen akan lebih berkembang yang berdampak terhadap kesuburan tanah. Kerapatan vegetasi akan mengurangi run-off dalam mengendalikan erosi dan memperkuat basis kontur lahan.
Pada hakikatnya, sesbania grandiflora yang berpredikat sebagai pohon penaung adalah tanaman pelindung yang memberi perlindungan pertumbuhan pada tanaman budidaya maupun kegiatan penghijauan pada kehidupan manusia. Sesbania grandiflora sebagai garda terdepan yang memberi penjagaan iklim ekstrim terhadap ekosistem tanaman. Ia beresonansi menjadi pengantar kamuflase bagi penulis untuk menggaungkan sebagian ilmu botani dunia yang diperoleh pada perantauan pendidikan pertanian klasik dalam tiga dekade terakhir.
Citra sesbania grandiflora sebagai predikat pohon penaung adalah sebuah penamaan asing yang unik dan khas dari berbagai sudut pandang. Ia merupakan nama yang spesifik tanpa memandang dari golongan manapun atau latar belakang etnis atau suku tertentu. Ia bukan representasi suatu bangsa atau power negara apalagi kekuatan politik tertentu. Ia memiliki sisi kenetralan sehingga mampu berdiri dan bertumbuh untuk menaungi semua jenis golongan tanaman. Sungguh sangat elok jika filosofi dan sifat pohon turi yang bergelar sesbania grandiflora diwarisi oleh umat manusia untuk selalu memberi perlindungan kepada lingkungan dan sesama makhluk Tuhan.
*Warga Ikasemtani yang pernah bermukim di kawasan Pondok Bumi Janda tahun 1990-1993
