Langit Bukit Togang sore itu tampak mendung, seolah turut merasakan beratnya beban yang menimpa pundak dua anak lelaki yang belum genap dewasa itu.
Di Koto Merapak, aku terdiam menatap layar ponsel yang masih menampilkan pesan dari Azan. Hatiku perih, namun di balik rasa sedih itu, ada doa yang terus membumbung ke langit.
Aku teringat Zeki yang kini tinggal bersama Ibuku, menjaga si kecil Naura yang baru berumur dua tahun saat mama mereka pergi di tahun 2018.
Lalu ada Azan, yang di tahun 2022 kehilangan Mita karena DBD yang terlambat ditangani. Kini, Azan berdiri di antara Cika yang putus sekolah dan Fazel yang masih butuh biaya.
Aku ingin berbisik pada angin agar menyampaikan pesanku pada mereka berdua.
“Azan, Zeki…” ucapku lirih di tengah kesendirian. “Kalian bukan lagi sekadar anak-anak. Nasib telah memaksa kalian menjadi akar bagi pohon yang hampir tumbang.”
Harapanku tidaklah muluk-muluk, namun sangat dalam. Aku ingin Azan dan Zeki menjadi dua lelaki yang tangguh.
Tangguh bukan berarti tidak merasakan sakit, melainkan sanggup berdiri lagi meski badan penuh luka karena gigitan binatang di sawah atau perihnya perut yang kosong.
Aku membayangkan suatu hari nanti, Zeki menggandeng tangan Naura dengan bangga, menunjukkan bahwa meski tanpa orang tua, dia sanggup menjadi benteng yang kokoh.
Aku membayangkan Azan, meski kini sedang sakit, akan bangkit dan menjadi kompas bagi Cika dan Fazel. Aku ingin mereka tahu bahwa saat ini, mereka adalah “ayah” bagi adik-adik mereka.
Jika mereka menyerah, maka runtuhlah harapan Naura, Cika, dan Fazel.
“Kalian adalah pengganti Mama dan Papa untuk mereka,” bisikku dalam hati. “Jadilah kakak yang tidak hanya memimpin, tapi juga mendekap.
Jadilah kakak yang tidak hanya memerintah, tapi juga memberi teladan tentang arti sabar.”
Sebagai seorang PNS dengan tiga anak dan cicilan yang belum usai, aku sering merasa kecil karena tidak bisa membantu mereka dengan limpahan materi.
Namun, aku adalah Mama bagi mereka sekarang. Jika aku tidak bisa memberi emas, maka akan kuberi mereka semangat yang lebih keras dari baja.
Aku ingin Azan dan Zeki mengerti bahwa kemiskinan dan duka bukanlah akhir. Itu adalah kawah candradimuka yang akan membentuk mereka menjadi lelaki sejati.
“Nak,” kataku dalam doa malamku, “Mama mungkin tak selalu ada untuk mengirim uang saat kalian butuh, tapi doa Mama tak pernah putus agar kalian tumbuh menjadi lelaki yang tangguh. Jangan biarkan adik-adikmu merasa kehilangan kasih sayang, karena kalian adalah pelabuhan terakhir bagi mereka.”
Gerimis mulai turun di Koto Merapak. Aku mengambil ponsel, mengetik sebuah pesan singkat untuk Azan dan Zeki: “Azan, Zeki… jaga adik-adik ya. Kalian adalah kebanggaan Mama. Tetaplah tegak, karena di pundak kalian, ada masa depan Naura, Cika, dan Fazel yang harus kalian jaga.”
Aku tahu, meski air mataku jatuh, harapan ini akan sampai ke hati mereka. Azan dan Zeki akan menjadi kakak yang tangguh, sekeras batu karang di Bukit Togang, namun selembut kasih sayang seorang ibu bagi adik-adiknya.
