Oleh Rosmawati

Di masa senja ini, kita kembali menyadari bahwa pasangan adalah pelabuhan terakhir tempat jiwa saling bersandar. Duduk berdua menikmati kue Lebaran sore ini, saya melihat pantulan perjalanan panjang di permukaan cangkir teh yang masih mengepul. Tak ada lagi keriuhan masa lalu, hanya ada deru napas tenang yang kini saling menemani dalam harmoni yang utuh.
.
Saat anak-anak telah mandiri menjemput takdir dan amanahnya, kita seakan ditarik kembali ke titik awal. Rumah yang dulu bising oleh tawa dan tangis, kini memberikan ruang bagi kita untuk mendengar detak jantung sendiri. Ternyata, kemandirian mereka adalah “ijazah” bagi kita—sebuah tanda bahwa tugas besar kita telah tertunaikan dengan sangat baik.
.
Kini, tibalah saatnya bagi kami untuk kembali menata akar. Jika puluhan tahun lalu energi kita habis untuk memupuk dahan dan daun agar tumbuh rimbun, sekarang saatnya merawat fondasi yang paling dasar. Menata akar berarti memperkuat kembali janji suci yang dulu pernah kita ikrarkan, sebelum riuh rendah peran orang tua menyita seluruh waktu.
.
Dua raga yang kini tak lagi muda, namun tetap saling menopang pundak di kala lelah menyapa. Kita bukan lagi sepasang pengembara yang mengejar ambisi dunia, melainkan dua jiwa yang sedang tekun menata sisa rida. Menyadari bahwa setiap kerutan di wajah pasangan adalah bab-bab literasi perjuangan yang kita tulis bersama dengan tinta kesabaran.
.
Menjaga langkah hingga garis finish bukanlah perkara kecepatan, melainkan ketahanan untuk tetap saling menggenggam dalam sunyi. Di usia ini, rasi kebahagiaan kita tak lagi ditentukan oleh megahnya perayaan, melainkan oleh kualitas kehadiran. Kita belajar bahwa mencintai di masa senja adalah bentuk ibadah yang paling hening namun paling dalam maknanya.
.
Melihat mereka tumbuh dan membangun dunianya sendiri adalah sebuah siklus yang patut dirayakan dengan syukur yang melangit. Di sinilah peran pasangan menjadi krusial; sebagai penerjemah rindu yang paling fasih tanpa perlu banyak kata. Cukup dengan tatapan mata saat menikmati sepotong kue Lebaran, kita tahu bahwa kita telah saling melengkapi.
.
Karena pada akhirnya, rumah ternyaman adalah ia yang setia menemani di kala sepi, yang tetap bertahan saat panggung-panggung dunia telah meredupkan lampunya. Ia adalah sosok yang membasuh luka dan merayakan sisa usia dengan penuh keikhlasan. Mari menjaga akar tetap kuat, agar pohon kehidupan kita tetap tegak dan teduh hingga akhir nanti.

(Visited 18 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.