Oleh : Ulfa
Rindu itu berat, Pak. Tapi yang lebih berat adalah saat rindu itu sudah tidak punya alamat untuk pulang. Dulu, kalau kangen, aku bisa langsung peluk. Sekarang cuma tinggal di hati. Ingin kuputar lagi, tapi tombol _call_nya sudah di non-aktifkan Allah.
Aku rindu mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Bapak ketika memimpin sholat taraweh di mesjid, rindu saat Bapak memainkan seruling dan kecapi, sementara aku dan mama yang jadi pelengkap syair nyanyianya.
Seketika canda tawa menghiasi suasana kala itu. Rindu tangan kasar Bapak ngelap keringatku ketika aku demam, lalu memelukku dengan nyaman. Rindu ketika aku dibonceng naik sepeda duduk didepan menuju rumah guru ngaji yang tak lain kakekku sendiri. Rindu ucapan Bapak yang selalu bilang, “Anakku saling sayang ya antara saudara”.
Orang bilang waktu bisa menyembuhkan rindu. Bagiku tidak, Pak. Waktu cuma mengajarkan kita berdamai. Mengajarkan kalau rindu ke orang yang sudah berpulang itu tidak bisa dibayar dengan tiket, tidak bisa diobati dengan peluk. Satu-satunya bahasa yang sampai ke Bapak sekarang cuma satu: Al-Fatihah.
Maka setiap habis salat, bibir ini otomatis melafalkan: Bismillahirrahmanirrahim. _Ihdinas-shiratal-mustaqim_, aku titip pesan: Pak, doakan anakmu biar tidak salah jalan ya. _Maliki yaumiddin_, aku lapor: Pak, hari ini aku sudah coba jadi orang yang berguna bagi orang lain seperti yang Bapak ajarkan. _Amin_. Aku selipkan rindu yang tidak bisa diwakili kata-kata: Aku rindu, Pak. Peluk aku lewat mimpi ya.
Kalau ada yang tanya kenapa aku rajin kirim Al-Fatihah, aku jawab: karena itu satu-satunya panggilan telepon yang pasti nyambung ke akhirat. Tidak ada suara “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif”. Tidak ada _missed call_. Setiap hurufnya adalah rindu yang dibungkus doa, terbang langsung ke langit, tanpa delay.
Pak, kalau rindu di dunia dibayar dengan pertemuan, maka rindu ke Bapak cuma bisa lunas di surga. Jadi tunggu aku ya. Aku janji jaga mama, sayang adik, sayang kakak . Biar nanti pas giliranku dipanggil, aku bisa lari memeluk Bapak sambil teriak: “Pak, aku udah baca _Al-Fatihah_ tiap hari. Bapak kangen aku juga kan?”Sampai ketemu nanti.
Untuk sekarang, rinduku cukup Bapak dengar lewat _Al-Fatihah_ yang tidak pernah putus kulantunkan. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
Al-Fatihah tanpa batas untuk Bapak di taman-taman Surgawi.
