Oleh: H.Tammasse Balla
Jabatan adalah sebuah kursi yang tampak indah dari kejauhan, tetapi sering kali menyimpan onak yang hanya dirasakan oleh mereka yang duduk di atasnya. Banyak orang mengejarnya dengan segala tenaga, bahkan kadangkala menghalalkan segala cara ala Niccolo Machiavelli. Jabatan seakan-akan di sanalah puncak kebahagiaan berada. Padahal, jabatan bukanlah mahkota kemuliaan, melainkan timbangan yang setiap saat mengukur beratnya amanah di hadapan Allah.
Tidak sedikit orang yang dahulu dielu-elukan saat dilantik, namun kemudian menundukkan kepala ketika melangkah memasuki ruangan sidang pengadilan. Seragam kebesaran berubah menjadi rompi oranye. Tepuk tangan berganti menjadi bisik-bisik penyesalan. Jabatan yang semula dipandang sebagai anugerah berubah menjadi jalan panjang menuju musibah karena pengkhianatan terhadap amanah.
Sejarah telah mengajarkan bahwa kursi kekuasaan tidak mengenal belas kasihan. Ia pernah menjatuhkan presiden, menteri, gubernur, rektor, bupati, hakim, jaksa, camat, kepala desa, dan banyak pejabat lainnya. Jabatan tidak memilih korban. Siapa pun yang lupa diri dapat tersandung oleh langkahnya sendiri.
Sesungguhnya, yang membuat seseorang mulia bukanlah tinggi rendah jabatannya, melainkan bersih atau kotornya hatinya. Kekuasaan hanyalah lampu yang menyoroti siapa diri kita sebenarnya. Bila hati dipenuhi kejujuran, cahaya itu memancarkan kemuliaan. Namun bila hati dipenuhi keserakahan, cahaya yang sama akan memperlihatkan seluruh noda yang selama ini tersembunyi.
Janganlah engkau meminta jabatan hanya untuk meninggikan nama, sebab nama yang dibangun di atas kesombongan akan runtuh diterpa waktu. Mintalah kekuatan kepada Allah agar mampu memikul amanah, bukan meminta amanah tanpa kesiapan memikul akibatnya.
Ketika Allah menitipkan jabatan kepadamu, jangan merasa engkau telah menjadi manusia yang lebih tinggi daripada orang lain. Ingatlah, sebelum duduk di kursi itu, engkau pernah berdiri dalam antrean bersama rakyat biasa. Jangan sampai satu tanda pangkat membuatmu lupa kepada jejak langkahmu sendiri.
Jangan gila hormat. Hormat yang dipaksakan hanyalah bayangan yang akan lenyap ketika matahari kekuasaan terbenam. Hormat sejati lahir dari akhlak, keadilan, dan ketulusan. Orang mungkin berdiri menyambut jabatanmu, tetapi mereka akan berdiri lebih lama untuk menghormati ketulusanmu.
Masa jabatan hanyalah sepenggal waktu yang singkat. Empat atau lima tahun akan berlalu seperti embun yang menghilang saat matahari terbit. Yang abadi bukanlah keputusan pengangkatanmu, melainkan catatan amal yang engkau tinggalkan. Waktu selalu lebih kuat daripada kekuasaan.
Jangan batasi persahabatan hanya karena jabatan sementara. Sahabat yang dahulu berjalan bersamamu jangan dijauhkan hanya karena kini engkau duduk di ruang berpendingin. Ketika masa jabatan berakhir, belum tentu mereka yang dahulu mengelilingimu masih tinggal. Namun sahabat sejati akan tetap membuka pintu tanpa menanyakan pangkatmu.
Orang bijak tidak mengukur dirinya dari banyaknya bawahan yang memberi hormat, tetapi dari banyaknya doa yang dipanjatkan orang-orang yang pernah merasakan keadilannya. Doa rakyat lebih kokoh daripada pagar pengawal. Air mata orang kecil lebih berat daripada pujian para penjilat.
Jangan menari di luar irama gendang. Kekuasaan memiliki batas, hukum memiliki pagar, dan agama memiliki kompas. Ketika langkahmu meninggalkan irama kebenaran, engkau sedang menyiapkan jurang bagi dirimu sendiri. Setiap penyimpangan selalu dimulai dari satu langkah kecil yang dianggap tidak berarti.
Takutlah kepada Allah sebelum takut kepada manusia. Manusia hanya mampu mencatat kesalahan yang tampak, sedangkan Allah mengetahui bisikan yang paling tersembunyi di dalam hati. Pengawasan langit tidak pernah mengenal jam istirahat dan tidak pernah dapat disuap.
Kelak jabatan akan dilepas sebagaimana pakaian yang sudah usang. Rumah dinas akan ditinggalkan, kendaraan jabatan berplat metah akan dikembalikan, pengawal akan berpamitan, dan ruang kerja akan dihuni oleh orang lain. Yang ikut menemani hanyalah amal, integritas, dan nama baik yang pernah engkau ukir.
Bila suatu hari amanah itu datang mengetuk pintumu, jangan bertanya berapa besar kekuasaan yang akan kaumiliki. Bertanyalah kepada dirimu sendiri, apakah engkau sanggup mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Setiap jabatan adalah ujian yang jawabannya tidak ditulis di atas kertas, melainkan dalam perjalanan hidup.
Pada akhirnya, jabatan bukanlah amanah atau musibah dengan sendirinya. Ia menjadi amanah bagi hati yang jujur, rendah hati, dan takut kepada Allah. Namun ia berubah menjadi musibah bagi jiwa yang dikuasai kesombongan, kerakusan, dan cinta berlebihan kepada dunia. Karena itu, jangan berlomba-lomba. mengejar kursi. Berlomba-lombalah menjaga nurani, agar ketika jabatan datang engkau tidak berubah menjadi penguasa yang ditakuti, melainkan pemimpin yang dicintai di bumi dan diridai di langit. [HTB]
Makassar, 21 Juli 2026
Pk. 08.45 WITA
(…….. sambil menunggu si Bungsu di R. Tunggu Bandara St. Hasanuddin yang baru kembali magang dari Negeri Sakura, Jepang)
