Mega putih beradu di peraduan sang malam,
Tersingkap cahaya tanpa guratan.
Aku hadir membawa salam,
Moga salamku mendapat sambutan.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sejak lama, terpendam dalam sanubari saya dua hal yang menjadi impian terbesar dalam hidup.
Yang pertama, saya ingin mencetak hasil karya tulisan saya menjadi sebuah buku yang sarat dengan motivasi serta mampu menginspirasi para pembaca.
Yang kedua, saya ingin membangun taman kanak-kanak yang layak dan indah, sebuah tempat di mana anak-anak merasa seolah berada di dunia khayal mereka sendiri. Sebuah tempat yang mampu menghipnotis pandangan mereka hingga mereka enggan beranjak dari singgasana peraduan taman kanak-kanak impiannya.
Namun, seiring berjalannya waktu, impian tersebut hampir terkubur bersama sang waktu.
Selama 17 tahun sejak berdirinya sekolah saya, kondisi sekolah yang hanya berdindingkan kayu dan berlantai semen kasar terkadang membuat hati ini merasa sedih dan ingin menyerah.
Namun, setiap kali melihat senyuman polos anak-anak, hati saya kembali luluh. Saya tidak mungkin mengorbankan tongkat estafet generasi penerus bangsa hanya karena rasa lelah dan keegoisan hati. Saya sadar, jiwa seorang pendidik sejati dalam diri saya tidak akan pernah mampu mengalahkan rasa ingin menyerah.
Saya percaya, Allah selalu punya rencana yang indah.
Pada pertengahan tahun 2026, nama TK Al-Junaidi tercantum di antara nama-nama sekolah yang mendapatkan bantuan revitalisasi A55. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kolaka Utara, khususnya Bapak Kepala Dinas, Alauddin Syah, S.E., M.Si., dan Bapak Kepala Bidang PAUD dan PNF, Burhanuddin, S.Pd., M.Si.
Bagi saya, ini adalah sebuah anugerah sekaligus jawaban atas doa dan perjuangan yang selama ini saya jalani. Impian untuk memiliki sekolah yang lebih layak dan nyaman bagi anak-anak perlahan mulai menjadi kenyataan.
Dan bukan hanya itu. Pada tahun yang sama, saya juga berhasil mewujudkan impian kedua, yaitu mencetak hasil karya tulisan saya menjadi sebuah buku.
Tentunya, semua ini tidak terlepas dari sosok inspirator, sang penggerak Bengkel Narasi (BN), Bang Rim.
Dia adalah sosok idola yang senantiasa menyejukkan hati orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Bang Rim seperti matahari yang senantiasa memberikan sinar cintanya sepanjang waktu kepada dunia. Saya tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengekspresikan kekaguman saya kepada Bang Rim.
Sejak bergabung di Bengkel Narasi (BN), hari-hari saya menjadi lebih berwarna. Ia senantiasa menaburkan benih semangat dalam jiwa saya untuk terus berkarya.
Kini, semuanya telah menjadi nyata. Obsesi saya untuk mencetak hasil karya tulisan menjadi sebuah buku akhirnya terwujud melalui Bengkel Narasi (BN), di bawah asuhan Bang Rim.
Terima kasih yang tak terhingga saya haturkan kepada sang inspirator yang berhati mulia dan budiman. Terima kasih telah menyalakan cahaya semangat dalam diri saya hingga saya berani melangkah dan mewujudkan sebuah impian yang selama ini hanya tersimpan di dalam sanubari.
Begitu pun kepada teman-teman yang ada di Bengkel Narasi (BN), terkhusus kepada Bapak Hasbi Latif dan Bunda Rosmawati, yang selalu memberikan motivasi kepada saya untuk berani mencetak hasil tulisan saya.
Terima kasih juga kepada Ibu Ketua Bengkel Narasi (BN) Kolaka Utara, Bunda Islamiati, yang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada saya, serta kepada seluruh teman-teman di Bengkel Narasi Kolaka Utara.
Kalian semua telah menjadi bagian penting dalam perjalanan saya mewujudkan sebuah impian.
- Cahaya hati cerminan diri,
- Pesona jiwa memikat hati.
- Saya pamit undur diri,
- Ilmu dicerna, mengembara di hati.
Kolaka Utara, 5 September 2026
