Oleh: Rosita Samad*

Pagi masih berselimut kabut kala jejeran kendaraan besar terparkir sepanjang jalan sekitaran SPBU mulai dari kota Makassar hingga Kabupaten Sidrap. Wajah lelah para pengemudi terlihat jelas dibalik kendaraan mereka. Kendaraan yang tak ikut antri juga kena imbas dengan perlambatan dan beberapa titik macet parah. Pada hari kerja titik paling parah sebelum SPBU perintis yang berdampak hingga depan Yonif Raider depan kantor Karantina Pertanian. Berapa banyak orang yang terdampak harus terlambat tiba di tempat kerja dan merelakan kinerjanya dinilai kurang yang jelas bukan salahnya.

Haruskah kita marah pada pengemudi yang antri sejak dini hari demi memperjuangkan dapur keluarganya agar tetap dapat memberikan makanan yang layak untuk keluarganya atau haruskah kita marah pada pemilik usaha sepanjang jalan yang menutup sepihak jalan depan usaha mereka demi kelancaran usahanya yang juga menjadi penyumbang utama ekonomi rumah tangga.

Fenomena seminggu terakhir lebih mengkhawatirkan lagi, bukan hanya truk, bus besar dan kendaraan besar lainnya yang terlihat antri diam, tapi juga minibus serta motor mengular pada setiap SPBU dalam kota Makassar. Banyak teori konspirasi berseliweran di media sosial bahwa hal ini dipengaruhi oleh panic buying namun kenyataannya tetap saja miris melihatnya.

Saya dan mungkin banyak orang diluar sana sangat mendambakan kondisi yang baik-baik saja karena BBM adalah kebutuhan utama dalam mobilitas kendaraan non listrik. Kenyamanan dalam mobilisasi memungkinkan peningkatan produktifitas apapun profesinya. Bila pagi hari kita sudah harus berjuang memperbaiki mood akibat kemacetan yang parah, ancaman terlambat masuk kerja dan kehabisan BBM menjadi rutinitas selama beberapa hari terakhir.

Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan menyatakan bahwa stok BBM aman dan menghimbau untuk tidak panic buying, namun tetap saja antrian mengular masih terlihat hingga kios Pertamini. Masyarakat tidak tau dimana letak semrawutnya si seksi BBM ini, satu yang kami dambakan bahwa produk ini tersedia saat dibutuhkan dengan harga sesuai ketetapan pemerintah.

Kemarau ekstrim memberikan dampak pada ketersediaan air dan mengganggu pasokan listrik, dua hal ini saja cukup berdampak pada aktifitas masyarakat ditambah lagi dengan sulitnya akses BBM yang menambah panjang stok sabar yang harus dimiliki warga. Mari kita bersama bermunajat kepada Allah SWT agar kita semua dihindarkan dari marabahaya dan senantiasa dimudahkan segala urusan kita.

Teriknya matahari Makassar, September 2026
*) penulis penelaah teknis kebijakan pada DLHK Provinsi Sulawesi Selatan

(Visited 4 times, 4 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.