Untuk kesekian kalinya aku memanggul karung dekil ini. Entahlah, hari ini harus ke arah mana memungut rongsokan? Perut pun perih karena lapar.

Kususuri jalan di sebelah barat alun-alun. Orang-orang sedang berkumpul di gerobak penjual sate. Tampaknya mereka pun lapar, belum sarapan. Namun, aku lebih lapar.

Asap pembakaran sate menggoda indra penciumanku. Tetapi… Ah, lupakanlah!

Aku pun menghampiri tempat sampah di dekat situ. Sisa-sisa sate dan lontong yang sebelumnya dimakan di tempat menumpuk di situ. Kubuka beberapa bagian. Ada beberapa tusuk sate tidak dimakan. Pun beberapa potong lontong. Aku kumpulkan beberapa bagian. Lumayan lah, untuk sarapan.

Aku tahu sejumlah pasang mata memperhatikanku. Sebagian memandangku dengan rasa terkejut. Sebagian lagi memandangku dengan rasa iba. Bahkan, si pembakar sate pun sempat melirikku. Ah, peduli amat… Perutku tidak akan terisi hanya dengan tatapan mata mereka.

Di teras kios di samping gerobak sate itu aku duduk. Bismillah… sehat ya? Biarpun ini makanan sisa dari tempat sampah. Toh bukan sekali ini aku makan sisa makanan dari tempat sampah?

Baiklah, saatnya memulung! Aku pun berjalan menyusuri sisi utara masjid agung. Lurus saja atau belok kiri ya? Di mana bisa kutemukan banyak rongsokan atau sampah yang bisa didaur ulang?

Tiba-tiba sebuah motor memepet langkahku. Ada apa ini?

“Pak!” sapa seorang gadis kecil di jok belakang motor. Oh, gadis kecil itu, yang tadi mengantri di tukang sate.

“Ini buat bapak!” Ia menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah.

Aku masih bingung, tetapi gadis kecil itu langsung memasukkan uang tersebut ke dalam saku kemeja dekilku. Sejurus kemudian, ayahnya menancap gas motor yang mereka tumpangi.

Alhamdulillah… Nak, kamulah juara hari ini! Di antara sekian pasang mata yang memperhatikanku di tukang sate tadi, kamulah yang mengambil action. Iba tentu, kasihan mungkin, tetapi apakah ada yang tergerak untuk melakukan sesuatu? []

(Visited 44 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Balada Pemulung Sate”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.