BAGIAN KEDUA. “Wut!”Sebatang anak sumpit menancap di tiang sebelah kiri istana permaisuri kerajaan Salampé, Wé Toddang Toja, tepatnya tiang ketiga dari depan.
“Tailaso! Kurang ajar! Siapa yang berani melontar seppu ke arahku?” Seru seorang prajurit jaga, dengan mengacungkan tombak, ia segera berlari ke sudut halaman yang dia curigai sebagai asal sumpit itu melayang. Ujung tombaknya dia tusuk-tusukkan ke sela rimbunan perdu, tak ada apa-apa. Setelah menunggu beberapa saat, dia menyimpulkan tak ada siapa pun di sana, maka dengan sigap, ia kembali ke posisi penjagaannya.
“Coba lihat, ada pesannya.” Ujar temannya sambil mencabut anak sumpit yang menancap. Di ujungnya, terikat secarik kain putih yang terikat, ada tulisan di sana.
“Perketat penjagaan ya, aku melapor dulu sama Petta Ponggawaé.”
Segera dia berlari mencari La Pasau untuk melapor. Sementara temannya, meningkatkan kewaspadaannya dengan memegang tombaknya dalam posisi siaga, pandangan matanya dia edarkan ke seluruh penjuru dengan harapan bila ada sesuatu yang mencurigakan, bisa dia antisipasi dengan segera.
“Petta, ada surat rahasia,” nafas prajurit itu masih tersengal.
“Surat dari siapa?” Seru Petta PonggawaE, panglima perang Salampé terdengar tegas.
“Saya juga tidak tahu, Puang.”
“Lalu di mana kau mendapatkannya? Jangan coba-coba mempermainkanku.”
“Mana berani saya, Puang. Surat itu terikat pada anak sumpit yang tertancap di tiang istana permaisuri, dekat posisi penjagaanku.”
“Sini suratnya, segera kembali ke posisimu!” Seru La Patau yang langsung membuka surat singkat itu. Si prajurit bergegas meninggalkan bangsal prajurit setelah sebelumnya mappatabe’, mempersembahkan penghormatan ala orang Bugis, pada junjungannya.
Belum sempat La Patau membaca kalimat pintas dalam surat itu, matanya langsung terarah ke sudut kain, di sana tertera simbol kupu-kupu berwarna hijau. Melihat itu, refleks ia memerintahkan beberapa prajurit untuk memperkuat penjagaan di sekitar istana permaisuri yang letaknya di bagian belakang kompleks Lalebbata. Setelahnya, ia sendiri bergegas menuju Saoraja, melapor ke Arung Salampé, La Tenribali. Tak ada waktu lagi, siapapun yang mengirim surat itu, sudah mulai melancarkan aksinya.
Hiruk pikuk yang terjadi tak pernah luput dari pandangan sepasang mata seorang laki muda berusia jelang dua puluhan tahun. Dia duduk dengan kaki menjuntai pada tangkai utama pohon ketapang yang ada di sisi luar tembok samping kanan Lalebbata. Saat matanya jelalatan mengamati, mulutnya tak berhenti mengunyah daging ayam hutan yang baru saja ditangkapnya lalu dia panggang sebagai santapan makan malam. Meski dia mengunyah seperti orang kelaparan, namun nyaris tak ada suara kecapan yang terdengar, dia makan tanpa suara.
* * *
“Tabé’ Puang, ada pesan baru dari orang itu.” Lapor La Patau setelah mappatabé’ dan bersimpuh di depan La Tenribali.
“Dari siapa?”
“Dari yang menggunakan simbol kupu-kupu berwarna hijau, Puang. Ini suratnya.”
Dengan cepat La Tenribali meraih surat yang disodorkan bawahannya. Saat membacanya, muka penguasa Salampé itu bersemu merah, badannya menegang. Dicampakkannya kain perca yang digunakan sebagai pengantar pesan itu ke samping tempat sirihnya.
“Tabé’, apa pesannya, Puang?” La Pasau memberanikan diri bertanya beberapa saat setelah melihat amarah junjungannya sudah agak mereda.
“Bacalah sendiri.”
Saat membuka surat itu, di sana hanya terlihat beberapa simbol yang tidak dia mengerti.
“Apa maksudnya ini, Puang?”
“Seperti dugaanku sebelumnya, pemilik simbol kupu-kupu berwarna hijau itu adalah seseorang yang kukenal.” Terang La Tenribali.
Setelah menghela nafas panjang, dia melanjutkan, “Simbol-simbol itu adalah sandi, hanya kami berdua yang memahami artinya. Itu berarti, pesan itu memang untukku.”
“Pesan itu berarti, ‘Jangan pura-pura tak mengenalku!’ Dia menulis khusus untukku.” La Tenribali menghela nafas panjang.
“Jadi apa yang harus hamba lakukan, Puang?” Selidik La Pasau.
“Tetap siagakan prajuritmu, meski sepertinya dia tidak mengincar kerajaan, dia cuma ingin melakukan perhitungan denganku. Aku yakin, dalam waktu dekat, dia akan kembali mengirim pesan.” La Tenribali sudah benar-benar berhasil mengendalikan amarahnya.
Tiba-tiba, permaisuri memasuki ruangan, duduk di samping La Tenribali, dan bertanya.
“Siapa dia, Daéng? Sepertinya dia begitu spesial.” Seru Wé Toddang Toja.
Melihat kedatangan istri junjungannya, La Pasau langsung mengatur jarak, lalu memasang postur menakzimkan.
“Pasau, kembalilah ke balai prajurit, kontrol pasukan dengan baik, jangan lengah.” Perintah La Tenribali kepada Petta Punggawaé sebelum menjawab tanya istrinya.
“Kalau begitu, saya pamit, Puang.” Ekor matanya sempat menangkap senyum di bibir permaisuri.
Tapi bukannya benar-benar pergi, setelah mengecek kesiagaan prajurit yang berjaga di dekat tangga Saoraja, Petta Punggawaé pura-pura menjauh, tapi tak jauh. Tepat di bawah pohon jambu di sudut pekarangan Saoraja, Panglima kerajaan itu berbalik, mengambil jalan melingkar menuju Saoraja. Perlahan dia rapal mantra untuk mengaktifkan ilmu Mallinrung ri Pettang. Maka tak lama, tubuhnya tersamarkan dan tak lagi mampu terlihat oleh mata biasa. Dengan santai dia berjalan kembali menuju Saoraja tanpa khawatir akan tepergok oleh prajurit, sebab meski kemampuannya masih tingkat menengah, tapi karena dipraktikkan di waktu malam, menambah kekuatan ilmu ini.
Saat melintas di belakang prajurit yang berjaga di sisi kanan kaki tangga, si prajurit merasakan angin berkesiur lembut yang tidak biasanya, menerpa tengkuknya, maka dengan refleks dia meloncat ke depan dan berbalik, meski dia tak melihat apa-apa.
“Ada apa, Tanré?” Tanya temannya.
“Seperti ada yang melintas di belakangku.” Jawab prajurit bernama Tanré, perawakannya memang tinggi di atas rata-rata prajurit yang ada, sesuai namanya.
“Itu mungkin perasaanmu saja.” Timpal temannya lagi.
“Tidak! Tuwo. Aku merasakan hawanya. Jangan-jangan itu parakang!” Tanré menjawab yakin.
“Tidak mungkin, Lalengbata ini sudah dipagari oleh Uwak Rappé.” Sanggah prajurit Tuwo, lalu lanjutnya, “Sudah jelas tak ada apa-apa.”
“Tidak! Pasti ada, aku merasakannya.”
“Kau mengantuk, barangkali?”
Keusilan La Pasau muncul. Iseng dia menyentil tengkuk Tanré, lalu segera menjauh. Tanré refleks melompat ke depan dan mengacungkan tombaknya ke arah belakang.
“Siapa itu!?” Teriaknya.
“Ada apa denganmu Tanré?”
“Seperti ada yang menjawil tengkukku.”
“Tidak ada siapa-siapa.”
“Atau jangan-jangan kamu yang mengerjaiku, Tuwo?” Seru Tanré sambil membalik tombaknya ke arah temannya.
“Bagaimana bisa saya melakukannya, sementara kita berdiri berjauhan?” Kilah Tuwo.
Kedua prajurit itu terus saja berdebat, Petta Ponggawaé tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol kedua prajurit jaga tersebut. Setelahnya, dia kembali fokus ke tujuan awalnya, mencari tahu pembicaraan Arung Salampé dengan permaisurinya. Dengan sekali loncat mengandalkan ilmu meringankan tubuh, La Pasau sudah nangkring di salah satu dahan pohon nangka yang menjorok ke arah jendela samping Saoraja. Dari posisinya, dia bebas melihat dan mendengar percakapan La Tenribali dan Wé Toddang Toja. Keduanya seperti memperdebatkan sesuatu dengan sengit.
“Siapa pemilik simbol kupu-kupu berwarna hijau itu, Daéng?” Kembali Wé Toddang Toja menegaskan suara.
“Haruskah semua hal kusampaikan padamu, adikku?” La Tenribali mencoba diplomatis.
“Jadi, Daéng sudah mulai menyimpan rahasia dariku!?” Suara permaisuri kian meninggi.
“Bukan begitu, tapi sepertinya ini bukan hal yang harus permaisuri ketahui.” La Tenribali masih menahan diri.
“Saya tak mau tahu, pokoknya beritahu aku siapa dia.”
“Kok permaisuri jadi memaksa begitu?”
“Sebab sejak kemunculannya, Daéng jadi berubah!” Sengit Wé Toddang Toja menuntut.
Setelah diam beberapa jenak, La Tenribali menggeser duduknya lebih rapat ke Wé Toddang Toja. Sambil memegang pundak istrinya, Arung Salampé mencoba menenangkan dengan sepenggal tanya.
“Berubah bagaimana, adikku? Tolong jelaskan.”
“Ah, jangan pura-pura tak tahu Tenribali!” Wé Toddang Toja memanggil suaminya dengan nama aslinya sebagai tanda kejengkelan.
“Aku betul-betul tak mengerti maksud permaisuri.” Suara La Tenribali juga naik, meski masih dia tahan emosinya.
“Jangan kau anggap aku buta! Atau kau sudah lupa dengan komitmen kita sebelum menikah?”
La Tenribali tak memberi jawab, matanya menyiratkan permohonan maaf.
Suasana kembali hening. Lamat-lamat terdengar lolongan asu panting di kejauhan, bersahut-sahutan. Sesekali ujung kalimat Tanré dan Tuwo masih terdengar perihal kemungkinan mahluk halus yang mengusilinya, apakah longga’ atau parakang. Sementara itu, La Pasau menahan nafas menanti jawaban La Tenribali. Angin berkesiur. Karena tak juga ada tanggap, Wé Toddang Toja menghentakkan kaki di lantai istana, lalu perempuan dari Palakka tersebut, meninggalkan La Tenribali yang masih duduk termangu.
Sebelum menikah dengan La Teribali dan menjadi permaisuri di Akkarungeng Salampé, Wé Toddang Toja memang terkenal sebagai salah satu pendekar wanita golongan putih yang malang melintang di sepanjang pantai timur jazirah selatan Sulawesi. Dia terkenal dengan gelaran ‘Putri Keris Biru’ mengacu kepada senjata khasnya, sebuah keris pusaka berpamor warna biru. Gurunya, seorang pendekar pilih tanding dari tanah Jawa, Empu Lanang yang di tanah Bugis lebih dikenal sebagai Panré Jawa. Dari gurunya yang telah almarhum itulah Wé Toddang Toja mendapatkan warisan keris pusaka andalannya.
Melihat itu, La Pasau juga segera mengakhiri pengintaiannya. Dia sudah bersiap meloncat turun dari dahan ketapang yang ditempatinya bertengger sedari tadi. Tiba-tiba serangkum angin lembut menerpa pelipisnya, menerbangkan pelan cambang halusnya. Angin itu menelusup, mengantar pesan suara ke gendang telinganya.
“Sudah puas dengan ulahmu, pengkhianat?”
Mendengar itu, La Pasau langsung waspada, seperempat tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanan, menyiapkan diri dari kemungkinan serangan.
Pelan dia lirik La Tenribali yang masih pada posisi semula, sepertinya bukan dia pengirim suara itu. Maka La Pasau edarkan pandangan pada segenap penjuru, ditatapnya lekat titik-titik yang patut dicurigai. Tak ada siapa-siap selain prajurit jaga di posnya masing-masing. Tak mungkin ada di antara mereka yang punya kemampuan dan menguasai ilmu kesaktian Mappaléccé’ Sadda yang baru saja digunakan seseorang untuk menanyainya. Pesan yang dikirim khusus padanya, bahkan La Tenribali pun tak mendengarnya. Setelah yakin tak ada siapa-siapa, dia kendorkan tenaga dalamnya, meloncat turun, kemudian berlalu dengan rasa penasaran yang menggumpal.
Bersambung…

[…] Bersambung ke BAGIAN KEDUA […]
Penasaran lanjutan kisahnya… Bgm dan siapa yaa… 🤔🤔
hheheheh….
konon cerbung bisa bernafas panjang bila setiap bagiannya menyimpan misteri pada bagian berikutnya, agar penasaran, semoga betah menanti, bu. cerita ini lumayan panjang rencananya.
Siap.. Pak… Ditunggu..