Oleh : Yusriani Nuruse
Saat malam tersingkap dengan datangnya mentari pagi, aku bergegas menuju Rumah sakit. Hati nuraniku terpanggil dengan postingan di salah satu grup facebook yang cukup familiar di kotaku. Memberitakan bahwa kakek Ibrahim sebut saja begitu,salah satu Duafa yang sering disantuni komunitasku sedang dirawat disana .Ia hanya ditemani oleh seorang anak perempuannya yang masih kecil dan tunawicara.
Kususuri Lorong rumah sakit pagi itu. Saat sampai di ruang ICU, kuedarkan pandanganku di setiap hospital bed. Hingga mataku tertuju pada seorang anak kecil yang duduk bersimpuh di samping ayahnya. Dia adalah adik Satria disamarkan namanya, seorang anak yang berbakti pada ayahnya , merawat ayahnya seorang diri di sebuah rumah kebun milik warga dan rela meninggalkan Bangku sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa).
Kudekati dan kurengkuh tubuh mungilnya dalam dekapanku. Tak terasa butir bening membasahi kelopak mataku yang segera kuhapus agar tak terlihat oleh adik Satria. Aku tak ingin ia bersedih dengan kondisi kesehatan ayahnya yang semakin menurun.
Berbagai selang dipasang di tubuh ayahnya. Kuserahkan bingkisan yang kubawa dari rumah beberapa helai sarung yang ia butuhkan sesuai postingan di medsos. juga baju ganti buat adik Satria. Ia bercerita padaku dengan bahasa isyarat . Aku hanya mengangguk padanya tanda mengerti. Ia memberi isyarat bahwa ia membutuhkan pampers untuk ayahnya.
Beruntung, Adik Satria seorang anak yang cerdas di tengah keterbatasannya. Berkat bantuan seorang dermawan yang menyekolahkan adik Satria di SLB ia diberi ponsel yang ia gunakan untuk menghubungi orang-orang dekatnya dan komunitas yang sering menyantuninya. Walau ia hanya memberi informasi lewat stiker atau foto yang dikirim lewat whatsapp.
Kuhubungi komunitasku menceritakan keadaan dan kebutuhan Pak Ibrahim dan adik Satria, yang memang sudah dijadwalkan mengunjunginya hari itu.
Keesokan harinya aku kembali menjenguknya membawa titipan seorang Donatur. Kulihat adik Satria sedang tertidur pulas di samping hospital bed ayahnya.
Mungkin ia kelelahan atau kurang tidur semalam demi menjaga ayahnya. Aku tidak tega membangunkannya. Kutatap wajah polosnya.
Ada rasa haru membuncah di dada. Diumurnya yang masih belia ia harus dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Tapi adik Satria tidak pernah mengeluh. ia selalu berusaha ceria.
Kusimpan titipan itu di sampingnya dan meminta izin pada perawat yang menjaganya dan aku segera meninggalkan ruang ICU rumah sakit.
Saat aku pulang, aku mampir di sebuah pasar tradisional untuk membeli keperluan rumah tangga. Tiba tiba ponselku berdering.. Aku meraihnya dari dalam tas. Sekilas kulihat ketua tim komunitasku menghubungiku.
Ia mengabariku kalo pak Ibrahim barusan meninggal Dunia. Segera kuucap “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN”. Ia memintaku untuk kembali kerumah sakit mengurus administrasi selama pak Ibrahim dirawat.
Terasa tak percaya. Aku segera mengambil motorku di parkiran dan kembali menuju rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, aku berlari memasuki ruang ICU. Kupeluk tubuh adik Satria yang berdiri mematung di samping jasad ayahnya. Kukuatkan dengan mengelus punggungnya. Seorang perawat mendekati kemudian memeluk dan menyantuninya.
Dan seorang teman komunitasku juga datang menemaniku mengurus jenazah pak Ibrahim. Kutanyakan pada suster yang bertugas tentang administrasinya dan mengurus akta kematian pak Ibrahim.
Satria si anak yang berbakti pada ayahnya hanya memberiku isyarat kalau ia sudah ikhlas atas kepergian ayahnya. Ada beberapa Kerabat pak Ibrahim datang ke rumah sakit. Sedang membicarakan pemakaman pak Ibrahim. Aku sempat kebingungan, sebagai orang lain aku takut terlalu memasuki masalah pemakaman Pak Ibrahim.
Namun dari pembicaraan mereka aku terpaksa menengahi yang sebelumnya minta maaf pada mereka. Sesekali kulihat adik Satria memberi kode padaku atau mengirim isyarat lewat whatsapp.
Aku meminta pada kerabat pak ibrahim untuk memenuhi wasiat pak Ibrahim yg sempat ia utarakan pada dik Satria menjelang kepergiannya untuk disemayamkan di rumah kebun yang selama ini ia tempati berdua dengan adik Satria.
Karena aku tahu kondisi tempat tinggalnya,aku sarankan pada kerabat pak Ibrahim,agar jenazah pak Ibrahim dimandikan dan dikafani di rumah sakit saja. Alhamdulillah mereka menerimanya. Dik Satria memberiku Isyarat dengan mengajukan jempol padaku.
Ya Allah Ya Rabbi…
Setelah kabar duka diposting di medsos, ada beberapa komunitas menemui dik satria dan memberikan santunan dan simpati. Setelah Jenazah pak Ibrahim dimandikan dan dikafani, aku dan teman komunitasku bergegas ke kediaman pak Ibrahim. Disana sudah ada tetangga dan berbagai komunitas menanti Jenazah Pak Ibrahim yang sebelumnya disholatkan di masjid sekitar tempat tinggal mereka, disemayamkan di rumahnya dan kemudian dimakamkan di pe. kuburan. Saat Itu hari menjelang sore, mendung mengitari awan. Saat pemakaman, hujan turun membasahi bumi.
Selamat jalan pak, semoga engkau tenang disana. Untuk Dek Satria ,semoga Allah selalu memberimu ketabahan dan memberimu rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Selalu menjadi anak yang berbakti kendati ayahmu telah tiada. Aamiin.
Watansoppeng, 6 September 2021

Ya Allah kasihan nian nanda Satria. Sekarang.tinggal dengan siapa?