Oleh : Imam Abdullah El- Rashied

Bagian 2 dari 10

Sebuah Cerita Tentang Mimpi, Perjalanan dan Perjodohan-

Dilengkapi dengan ulasan sejarah, topografi, dan tempat-tempat penting serta tokoh berpengaruh di Yaman. Dipadu dengan kajian hukum Islam dalam perspektif Fiqih Madzhab Syafi’i, Al-Qur’an dan Hadits.

Baru beberapa menit mobil meninggalkan landasannya di Kanal Khour, mataku sayup-sayup tak tertahankan dan akhirnya kepalaku terjatuh dalam dekapan tas ransel coklat yang kupangku. Setelah 3 jam berlalu, aku terbangun. Kuaktifkan altimeter yang ada di hpku. Perlahan angkanya terus naik hingga mencapai angka tertinggi 1330 mdpl. Bukit-bukit batu berpasir atau yang dikenal dalam Bahasa Arab dengan sebutan Al-Ahgaff sangat panjang dan cukup tinggi. Bayangkan saja ketinggiannya mencapai 1,3 km di atas permukaan air laut. Sedikit merasa iseng kubuka jendela di sebelah kiriku, menjulurkan tangan di tengah terik matahari. Kukira udaranya panas, ternyata di ketinggian 1,3 km hawanya terasa adem. Kiri-kanan jalan yang nampak hanya padang luas dan perbukitan yang terjal. Dan, hanya satu-dua mobil saja yang ditemui di sepanjang jalan. Hanya hitungan jari, tak lebih.

Tak lama setelah itu akhirnya kami menuruni bukit Ahgaff yang tinggi dan panjang itu. Masuk ke area Lembah Al-Ahgaff dengan ketinggian berkisar antara 600-900 mdpl. Setelah memotong jarak berpuluh-puluh kilo meter, dari kejauhan nampak gedung-gedung pencakar langit berwarna coklat dan putih. Yah itulah Kota Shibam. Mobil yang kami naiki akhirnya membelah jalan hitam panjang yang dipagari gedung-gedung pencakar langit setinggi 5 hingga 7 lantai.

Dalam tatap penuh tanya sambil menunjuk ke arah bangunan tinggi Si Abdul berkata: “Bang, itu gedung-gedung yang warna coklat dari tanah Bang?”

Aku : “Iye Dul, semua bangunan di Shibam terbuat dari tanah liat”.

Abdul : “Buset dah, koq bisa ya bangun gedung segitu tingginya cuma dari tanah liat doank?”

[Ada guratan penuh heran di wajah Si Abdul dan seribu tanda tanya kini sedang menghampirinya]

Aku : “Yah, Kota Shibam sudah mendirikan gedung-gedung pencakar langit sejak abad ke-4 masehi Dul. Kota ini dinobatkan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Yah, tak lain karena keunikannya itu. Bahkan sebagian dari gedung-gedung itu sudah berusia ratusan tahun. Terus dirawat secara khusus sedemikian rupa hingga bisa bertahan sampe sekarang, dan sebagiannya lagi nampak di tepi jalan hanya tinggal puing-puing tumpukan tanah tak

terurus, nampaknya sudah tak ada pemiliknya. Shibam dikenal dengan julukan Manhattan Of Desert. Di Shibam juga terdapat makam salah seorang Mujaddid Abad ke-12 H, yaitu Habib Ahmad Bin Umar Bin Sumaith yang wafat tahun 1258 H”.

Di saat kedua mataku terpana dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit dari tanah di Shibam ini, tiba-tiba sebuah mobil berjalan berdampingan sesaat di mobil yang kunaiki, lantas mobil itu menyalip. Di bagian belakang mobil ada tulisan ayat Al-Qur’an :

((رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ))

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku butuh terhadap kebaikan yang Kau turunkan kepadaku”. [QS. Al-Qashash : 24]

Ayat ini adalah do’a yang dibaca Nabi Musa a.s. ketika beliau pergi ke Kota Madyan dalam pelarian setelah tragedi pembunuhan salah satu warga mesir lantaran menolong salah seorang temannya yang sedang bertikai. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan dua puteri Nabi Syu’aib a.s., membantu mereka megambil air, hingga kemudian Nabi Syu’aib a.s. menikahkan salah satu putrinya dengan beliau. Selengkapnya kisah ini bisa dibaca dalam Surat Al-Qashash ayat 15 hingga ayat 29. Akhirnya kubaca do’a ini berulang-ulang setelah mobil itu berlalu jauh di depan kami. Dulu Ustadz Asif bilang, do’a ini adalah do’a biar cepat dapat jodoh. Beliau sendiri mempraktekkannya saat perjalanan dari Jawa Timur ke Jawa Barat. Beliau membacanya sepanjang jalan, dan ketika tiba di Indramayu beliau ketemu jodohnya. “Yah, kali aja kutemukan jodohku di Tarim”, harapku dalam hati.

Percakapan terakhirku dengan Abah di telpon juga bicara tentang pernikahan. “Mam, cepet selesaikan kuliahnya terus nikah. Abah ini sudah tua, ingin cepet momong cucu dari kamu”, ucap Abah penuh harap kepadaku. Yah, Abah dan Ummi sudah memasuki dekade ke-6 usianya. Kakak-kakakku sudah pada menikah dan mempunyai anak, sedangkan aku masih sibuk belajar. Yah, meskipun terbilang telat kuliah kata Abah tak ada kata telat untuk sebuah kebaikan. Pun ketika teman-temanku bertanya kapan nikah, aku hanya menjawab inginnya lepas wisuda aku segera menikah dan ketika pulang sudah ada yang kugandeng, biar tak menggandeng koper aja. Syukur-syukur ada yang bisa digendong pula, biar pulang ketemu Abah sama Ummi sudah bawa anak-istri. Yah, itulah sebagian kecil dari harapanku. Dan, kulabuhkan harapan-harapan itu dalam Mihrab Do’aku.

Bukankah do’a seorang musafir itu mustajab? Sahabat ‘Uqbah Bin ‘Amir meriwayatkan bahwasannya Rasulullah saw bersabda:

((ثَلَاثَةٌ تُسْتَجَابُ دَعْوَتُهُمْ: اَلْوَالِدُ وَالْمُسَافِرُ وَالْمَظْلُوْمُ)) رواه أحمد والطبراني

“Ada tiga orang yang do’anya dikabulkan, yaitu : Orang tua, Musafir, dan orang yang terdzolimi”. HR. Ahmad (no. 17.436) Ath-Thabrani (no. 939)

Apa salahnya kita berharap? Dan apa salahnya kita berdo’a? Selama harapan dan do’a itu hanya tertuju pada Sang Pencipta. Bukanlah Allah swt berfirman :

((ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ))

“Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan untukmu”. [QS. Ghafir : 40]

Hanya saja tak semua harapan akan dikabulkan sesuai harapan Sang Pendo’a. Tapi bukan berarti Allah swt menyia-nyiakan do’a kita, dan bukan berarti tak mengabulkannya. Syeikh Muhammad Ba’athiyah berkata: “Ulama menyebutkan bahwasannya do’a itu tak lepas dari salah satu dari tiga pilihan;

(1) Dikabulkan di dunia sesuai harapannya.

(2)Tidak dikabulkan di dunia, akan tetapi Allah malah mencegah mara bahaya darinya lantaran do’anya tersebut. Bahkan disebutkan dalam satu riwayat bahwasannya bala’ yang turun dari langit dihalang oleh do’a yang hendak naik, sehingga do’anya tak sampai ke langit sedangkan bala’nya tak jadi turun kepadanya.

(3) Allah tidak mengabulkannya di dunia, tapi malah menyimpannya di Surga sebagai pahala yang melimpah, hingga seorang hamba berharap do’anya tak pernah dikabulkan di dunia lantaran melihat besarnya pahala yang Allah simpan baginya di Akherat”.

Sahabat Jabir Bin Abdullah Al-Anshory r.a. meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda:

((يَدْعُو اللهُ بِالْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُوقِفَهُ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَيَقُولُ: عَبْدِي، إِنِّي أَمَرْتُكَ أَنْ تَدْعُوَنِي؟ وَوَعَدْتُكَ أَنْ أَسْتَجِيبَ لَكَ، فَهَلْ كُنْتَ تَدْعُونِي؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَمَا إِنَّكَ لَمْ تَدْعُنِي بِدَعْوَةٍ إِلَّا اسْتَجَبْتُ لَكَ، أَلَيْسَ دَعَوْتَنِي فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذَا لِغَمٍّ نَزَلَ بِكَ أَنْ أُفَرِّجَهُ عَنْكَ فَفَرَّجْتُهُ عَنْكَ؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: إِنِّي عَجَّلْتُهَا لَكَ فِي الدُّنْيَا، وَدَعَوْتَنِي يَوْمَ كَذَا وَكَذَا لِغَمٍّ نَزَلَ بِكَ أَنْ أُفَرِّجَ عَنْكَ فَلَمْ تَرَ فَرَجًا؟ قَالَ: نَعَمْ يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: إِنِّي ادَّخَرْتُ لَكَ بِهَا فِي الْجَنَّةِ كَذَا وَكَذَا، وَدَعَوْتَنِي فِي حَاجَةٍ أَقْضِيهَا لَكَ فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذَا فَقَضَيْتُهَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: فَإِنِّي عَجَّلْتُهَا لَكَ فِي الدُّنْيَا، وَدَعَوْتَنِي فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذَا فِي حَاجَةٍ أَقْضِيهَا فَلَمْ تَرَ قَضَاءَهَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: إِنِّي ادَّخَرْتُهَا لَكَ فِي الْجَنَّةِ كَذَا وَكَذَا “، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” فَلَا يَدَعُ اللهُ دَعْوَةً دَعَا بِهَا عَبْدُهُ الْمُؤْمِنُ إِلَّا بَيَّنَ لَهُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَجَّلَ لَهُ فِي الدُّنْيَا، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ ادَّخَرَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ ” قَالَ: ” فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ فِي ذَلِكَ الْمَقَامِ: يَا لَيْتَهُ لَمْ يَكُنْ عُجِّلَ لَهُ شَيْءٌ مِنْ دُعَائِهِ))

“Kelak pada hari Kiamat Allah akan memanggil seorang mukmin hingga diberdirikan di

hadapan-Nya. Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku, (bukankah) Aku memerintahmu untuk memohon kepada-Ku? Dan Aku menjanjikan untuk mengabulkannya, apakah kau dahulu berdo’a kepada-Ku?”.

Ia menjawab: “Benar, Tuhanku”.

Allah berfirman: “Sesungguhnya tidaklah engkau berdo’a kepadaku melainkan Aku akan mengabulkannya. Bukankah engkau berdo’a kepada-Ku pada hari itu karena masalah yang menimpamu agar Aku melepaskannya darimu, lantas Aku melepaskannya darimu?”.

Ia berkata: “Benar, Tuhanku”.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengabulkannya di dunia. Kemudian engkau berdo’a kepada-Ku pada hari itu karena masalah yang menimpamu agar Aku melepaskannya darimu, lantas kamu tak mendapatkan penyelesaian?”.

Ia berkata: “Benar Tuhanku”.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku menyimpannya untukmu di Surga (sebagai pahala) sekian banyak. Kemudian kau berdo’a kepada-Ku tentang sebuah hajat agar Aku mengabulkannya untukmu pada hari itu, bukankah Aku telah mengabulkannya?”.

Ia berkata: “Benar Tuhanku”.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengabulkannya di dunia. Kemudian kau berdo’a pada hari itu kepada-Ku tentang sebuah hajat agar Aku mengabulkannya untukmu, namun kau tak mendapatkan pengkabulan?”.

Ia berkata: “Benar Tuhanku”.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku menyimpannya untukmu di Surga (sebagai pahala) sekian banyak.

Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang beriman berdo’a kepada Allah dengan sebuah do’a, melainkan Allah akan menjelaskan padanya, entah mengabulkannya di dunia, atau menyimpan (pahalanya) untuknya di Akherat”. Beliau bersabda: “Seorang seorang mukmin di saat seperti itu berkata : “Oh seandainya tak satupun do’anya dikabulkan di dunia”. HR. Al-Hakim (no. 1.819) dan Al-Baihaqi (no. 1.123)

Bersambung ke Mendadak Ke Tarim Bagian 3

(Visited 54 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.