Oleh: Imam Abdullah El-Rashied
Bagian 4 dari 10
Sebuah Cerita Tentang Mimpi, Perjalanan dan Perjodohan-
Dilengkapi dengan ulasan sejarah, topografi, dan tempat-tempat penting serta tokoh berpengaruh di Yaman. Dipadu dengan kajian hukum Islam dalam perspektif Fiqih Madzhab Syafi’i, Al-Qur’an dan Hadits.
Di pertengahan jalan aku bertanya pada Abdul: “Eh Dul, Mamang ellu kagak bisa ngejemput?”.
Abdul: “Oh ini Bang, Dia ada kesibukan di luar kota jadi kagak bisa jemput. Untuk tempat nginep, kita tinggal datangi lobi hotel. Si Mamang udah ngejelasin ama Si Resepsionisnya”.
Aku: “Eh Dul, apa kagak kemahalan kalo kita nginep di Hotel?”
Abdul: “Udah Bang, nyantai aje… Abdul yang tanggung koq, he he he”.
Memasuki lobi hotel, lantas naik ke lantai 2 dan masuk ke kamar no. 8. Kampung Hawi sudah 2 tahun lamanya kutinggalkan. Rasanya kerinduan itu kini sedikit demi sedikit mulai terobati. Ada banyak kenanganku di Hawi selama di Tarim 2 tahun silam. Kuletakkan tas, kemudian aku mandi sejenak untuk menyegarkan badan lantas tak sadarkan diri di atas kasur yang empuk. Rasanya lelah sekali perjalanan kali ini, di tengah musim panas yang mencekik saat diri berpuasa.
Sebelum Adzan Maghrib kami berjalan-jalan di sekitar hotel untuk mencari takjil puasa. Di seberang jalan depan hotel terdapat warung yang menyediakan Syawarma, panganan khas Yaman yang mirip dengan Kebab Turki. Yah, di warung ini 2 tahun silam aku sering makan Syawarma dan Juz Lemon. Memesan 4 potong syawarma, 2 Juz Lemon, lantas kami berjalan ke arah kiri sekitar 100 m dan masuk ke Tarim Mall. Rasanya baru kemaren sore Tarim kutinggalkan, ternyata sudah 2 tahun lamanya. Tak ada perubahan apa-apa di Tarim Mall selain ada tambahan beberapa rempah-rempah Indonesia yang kini mulai diminati. Setelah membeli beberapa cemilan, kamipun kembali ke hotel.
Kini jam di dinding hotel menunjukkan pkl. 10.00 p.m., yah ini waktunya kami siap-siap menuju Masjid Ba’alawi untuk melaksanakan Shalat Taraweh. Masjid ini dibangun oleh Imam Ali Bin Alwi pada tahun 530 H dan masyhur sebagai masjidnya Al-Faqih Al-Muqoddam.
Shalat Taraweh di Masjid Ba’alawi dimulai jam 11 malam. Setengah jam sebelum Taraweh dimulai kami sudah tiba di masjid. Uniknya di Masjid Ba’alawi dan kebanyakan masjid-masjid di Tarim menyediakan Jabiyah, yaitu sebuah kolam kecil berukuran 1 meter kubik. Ada sekitar 8 Jabiyah di Masjid Ba’alawi. Fungsi utama dari Jabiyah adalah sebagai tempat berendam dan mandi, khususnya di musim panas seperti saat ini. Sebagian masjid
malah menyediakan air hangat di Jabiyah ketika musim dingin tiba. Musim dingin di sini cukup ekstrem dan membuat bibir sering pecah-pecah dan berdarah, dan sudah bisa dipastikan bahwa kulit badan kering kerontang dan membutuhkan pelembab.
Menjelang Shalat Taraweh, jama’ah masjid mulai memenuhi shaf-shaf shalat, tak terkecuali ruang tunggu Jabiyah yang mulai penuh dengan antrean. Akhirnya mau tidak mau kami turut mengantre untuk mendapatkan giliran berendam dan mandi di Jabiyah. Setelah selesai berendam, tepat jam 11 malam Adzan Isya’pun dikumandangkan. Para jama’ah sudah memenuhi shaf-shaf shalat di masjid hingga di halaman belakang masjid yang hanya berlaskan tikar dan terpal. Masjid Ba’alawi memang tak terlalu besar, tapi tiap kali Shalat Taraweh jama’ah selalu saja membludak keluar, khususnya ketika Khataman di 10 hari akhir nyaris semua gang-gang di kiri-kanan masjid penuh sesak dengan ribuan jama’ah yang hadir.
Shalat Taraweh di sini hanya 20 rakaat. Hanya saja dalam semalam ada sekitar 5 jadwal pelaksanaan Shalat Taraweh di masjid-masjid yang berbeda mulai dari jam 8 malam hingga jam 2 dini hari. Sehingga seseorang bisa Shalat Taraweh hingga 100 rakaat. Bukankah Nabi Muhammad saw tidak pernah membatasi bilangan Shalat Taraweh? Sayyidah Aisyah r.a. meriwayatkan:
«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ : قَدْ رَأَيْتُ الَّذِى صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِيْ مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّى خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ »
“Sesungguhnya Rasulullah saw pada suatu malam (di bulan Ramadhan) melaksanakan Shalat di Masjid (Nabawi) sehingga orang-orang ikut melakukan Shalat. Esok malamnya beliau juga Shalat hingga orang-orang semakin banyak. Kemudian mereka berkumpul di malam ketiga atau keempat, lantas Rasulullah saw tidak keluar. Keesokan paginya Rasulullah saw bersabda: “Aku sudah melihat apa yang telah kalian lakukan, hanya saja tak ada yang mencegahku untuk keluar (Shalat) bersama kalian melainkan karena aku khawatir Shalat (Taraweh) akan diwajibkan pada kalian”. HR. Al-Bukhari (no. 882) dan Muslim (no. 1819)
Bukankah Rasulullah saw sangat menganjurkan Umatnya untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah? Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah saw bersabda:
((أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وُتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ وَفِيْهِ لَيْلَةٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا
فَقَدْ حُرِمَ)) رواه أحمد والنسائي والبيهقي
“Telah datang Bulan Ramadhan kepada kalian bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasanya pada kalian. Di situ pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Setan-setan diborgol. Dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa tak mendapatkan kebaikannya maka dia sungguh tak mendapatkannya“. HR. Ahmad (no. 7.148), An-Nasa’i (no. 2.106), dan Al-Baihaqi (no. 3.600)
Dalam riwayat lain disebutkan :
((فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ))
“Barang siapa yang berpuasa (Ramadhan) dan mendirikan (malam)nya karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), maka dia keluar dari dosanya seperti terlahir dari ibunya“. HR. An-Nasa’i (no. 2.222), Ibnu Majah (no. 1.389), Ath-Thayalisi (no. 221)
Bersambung ke Mendadak Ke Tarim Bagian 5
