12 November 2021 – 12 Novembeer 1995, walau telah lewat sehari taggal pernikan kami, tapi tak mengapa sekedar membuka satu lembar memori indah dalam satu fase perjalanan kehidupan kami. 26 tahun telah terlewati, bukanlah rentang waktu yang singkat untuk dilalui, penuh lika liku, sesekali onak dan duri membentang, sesekali tersandung batu cadas yang merintangi langkah menuju pulau bahagia. pun sesekai angin, ombak dan badai mengantarkan diri kami membentuk pribadi kami menjadi lebih tangguh.
Dua puluh enam tahun, sebuah perjalanan panjang yang melelahkan dan membosankan bila tidak diisi dengan hal yang bermakna dan penuh keikhlasan. Masih hangat diingatanku dan masih selalu terngiang-ngiang kala bibirmu mengucapkan ijab qabul di depan penghulu dengan orang yang sama memandu kakek nenekku, ayah ibuku yang menjadikan penghulu tiga turuan di keluargaku, sebagai tanda sahnya dua insan bersatu dalam satu tali pernikahan menurut syariat agama islam. Sejak itulah engkau menjadi nahkoda dalam bahtera rumah tangga kita. Meski di awal perjalanan layar bahtera yag kita kembangkan aku meragukannya karena di dalamnya, diantara kita tak ada kata janji manis dan rayuan, sebagaimana pasangan muda lainnya sebelum menikah. Ikatan peernikahan yang kita jalin semata-mata karena kesepakatan kedua keluarga kita sehingga kita dipersatukan dalam satu bahtera rumah tangga.
Dalam perjalanan panjang yang telah lewat, kadang tiang layar hampir terkulai, angin merobek layar bahtera, juga gelombang-gelombang ombak menghantam, bahkan sesekali badai menghempaskan bahtera rumah tangga kita. Tapi engkau piawai menegakkan tiang layar, memainkan angin , ombak, dan badai itu, menyelamatkan bahtera yang engkau nahkodai. Ketika kumengeluh, selalu saja kemudi kau arahkan dengan sabar dan piawai bahwa “itu ujian yang Allah berikan karena Dia teramat sayang pada kita untuk mengangkat derajat taqwa kita dan menempa pibadi kita agar makin tagguh.” Ketika kumarah, lagi-lagi kaupun selalu memutar kemudi dengan sabar dan piawai bahwa “takkan pernah ada masalah terselesaikan dengan baik bila ada kemarahan, bahkan akan menambah masalah baru.” Segera kusadarkan diri dari segala khilaf dan salah. Kami selalu berupaya berbenah dari segala ketidak sempurnaan dan kekurangan.
Kami selalu saling mengingatkan bahwa apa yang kami miliki hanyalah titipan , yang sewaktu-waktu dengan gampang diambil Nya. Maka berbahagialah bila masih dititipi, semoga amanah. Walau kami sadar mungkin ada yang mencibir tapi selalu kami tepis untuk segera melangkah lagi kea rah yang lebih baik dan menuju sempurna. Berharap agar kami tetap langgengg hingga menua dan terpisah hanya sebab maut.
Semoga anak-anak yang terlahir dari darah daging kita dan anak-anak sekitarnya dapat tumbuh menjadi penyejuk hati kita, kebanggan dunia kita, dan penyelamat di akherat yang akan selalu menengadahkan tangannya untuk keselamatan kita. Buat kalian anak-anakkua, maafkan diriku yag belum mampu menjadi ibu yang baik bagi kalian. Buat nahkodaku, maaffkan diriku yang belum mampu menjadi pendamping yang sempurna bagimu. Semoga jalan panjang ke depan, Allah menuntun kita ke jalan yang diridhai Nya dan melindungi setiap langkah kita dari hal yang dimurkai Nya. Aamiin.
