Nilai falsafah bugis dapat berfungsi sebagai dinamisator terhadap keberhasilan bagi orang Bugis, memacu semangat mereka bersaing dalam melakukan kegiatan-kegiatan usaha yang memungkinkan mereka untuk berhasil.
mursalim teluk Bone (2021)
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia, manusia dibekali secara utuh alat-alat indera, akal, dan hati yang dapat digunakannya untuk memahami hakikat keberadaannya.
Alat-alat epistemologis itu mempunyai peranan penting bagi manusia untuk mengembangkan diri dalam mewujudkan potensi cipta, rasa, dan karsa yang ada pada diri manusia itu sendiri.
Berbekal indera, akal, dan hati itu secara aktual manusia telah membuktikan keberadaannya. Berbagai progresivitas hidup yang telah terbangun dan terpelihara sejak ribuan tahun yang silam.
Manusia wajib bersyukur, di mana untuk saling mengenal antara satu dengan yang lainnya, Tuhan menciptakannya berbagai rupa, kelamin, suku dan ras. Bayangkan, andai kata misalnya semua sejenis, habislah kita semua.
Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai.Luas dan kedalaman sebuah sungai dapat diketahui ketika kita telah menyeberanginya, maka manusia bugis selalu ingin mencoba tantangan kehidupan ini.
La sudi
Demikian pula manusia sebagai makhluk berkebudayaan, di mana budaya dalam setiap masyarakat tentunya berbeda-beda, karena kebudayaan lahir dari hasil pikiran manusia yang beraneka ragam dan tersebar ke seluruh pelosok semesta.
Di semenanjung Sulawesi Selatan dikenal terdapat beragam kebudayaan dari yang paling primitif hingga yang paling modern. Di Jazirah ini didiami empat suku bangsa, yakni: Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Meskipun terdapat empat suku berbeda akan tetapi masih mempunyai ikatan kultural yang masih kuat antara suku yang satu dengan lainnya.
walaupun masih ada ikatan kultural tetapi masing-masing suku mempunyai adat kebiasaan masing-masing yang terbangun dan terpelihara sejak dahulu kala. Untuk membedakan jatidirinya, mereka membangun sebuah peradaban kehidupan yang menjadi tolok ukur dan anutan bagi generasi selanjutnya.
Para tetuah masing-masing suku menurunkan tatanan dan berbagai falsafah yang kelak menjadi pegangan hidup bagi anak cucunya dalam melakoni berbagai tantangan hidup kini dan ke depannya.
Seperti halnya suku Bugis yang sebagian besar mendiami Sulawesi Selatan mempunyai banyak falsafah yang terangkum dalam PASENG DAN PANGAJA.
Dalam paseng dan pangaja tersebut memuat rangkaian petuah dan nasihat yang mengutarakan tentang norma-norma adab baik yang menyangkut hubungan sosial, pemerintahan, ekonomi, politik, pemerintahan maupun semangat dalam menantang pergolakan hidup itu sendiri.
Masyarakat Bugis dikenal sebagai penganut adat-istiadat yang kental dan kuat. Ada enam falsafah Bugis yang kesohor dan masih dianut sampai saat ini,dan bisa dijadikan sebagai pelajaran berharga dalam menjalani kehidupanmu.(mursalim bone:2021)
1) Ininnawa
Secara harfiah, ininnawa berasal dari kata nawa atau nawa-nawa yg berarti sebuah perencanaan yg masih relatif, entah itu baik atau buruk. Jika itu baik, Maka disebut ININNAWA
Makna dari konsep ini adalah mengajak kita untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nalar dan kata hati yang tentu saja memiliki niat yang luhur. Keinginan hati yang tak pernah dusta
2) SITINAJA
Dalam budaya masyarakat Bugis, dikenal juga istilah sitinaja yang artinya kepatutan. Dalam konsep sitinaja, kepatutan ini berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya.
3) SIRI NA PACCE
Secara harfiah, siri artinya rasa malu sedangkan pacce artinya pedih. Secara istilah, falsafah ini artinya hidup dengan menjunjung tinggi harkat, martabat, dan harga diri, dan rasa kasihan yang timbul dari dalam hati ketika melihat penderitaan orang lain.
Dalam buku ‘The Miracle of Pride’ karangan Venantius Dwi Riyanto (2014:2), disebutkan bahwa masyarakat Bugis Makassar sangat menjunjung tinggi budaya siri.
Mereka sangat mengutamakan ideologi harga diri. Maka tak heran apabila mereka sangat malu apabila harga dirinya tercoreng.
4). Resopa temanginggi’ namalomo naletei pammase Dewata
Falsafah ini menegaskan bahwa untuk mencapai sebuah tujuan, diperlukan kerja keras dan ketekunan. Dengan begitu, maka akan mudah mendapatkan rida dari Yang Maha Kuasa.
Sipakainge, sipakatau, dan sipakalebbi
Sipakainge berarti saling mengingatkan, sipakatau artinya saling memanusiakan manusia dalam kondisi apapun, dan sipakalebbi artinya saling menghargai satu sama lain.
6). Taro ada taro gau
Pepatah tersebut mengartikan apa yang terucap dari mulut haruslah seiring dengan perbuatan. Makna dari pepatah ini mengajak kita untuk senantiasa menjaga konsistensi antara perbuatan dengan ucapan.
Nilai budaya lokal tersebut sebagai prinsip berfungsi sebagai dinamisator terhadap keberhasilan bagi orang Bugis, memacu semangat mereka bersaing dalam melakukan kegiatan-kegiatan usaha yang memungkinkan mereka untuk berhasil, baik di rantau maupun di kampung sendiri. Maka sompe lah wahai anak muda ogi.
Tellui somperenna lino: Lempuu, Getteng, Ada Tongeng na Appasikua. Narimakkuannanaro aja’ lalo musala panguju, aja’to mutettangngi sempajangmu, aja’ lalo mucapa-capai pappasekku, nasaba’ anu maddupa tu matti
Ada tiga hal terpenting dalam mengarungi dunia, yakni; Kejujuran, Keteguhan hati, tutur kata yang berlandaskan kebenaran dan keikhlasan menerima apa adanya. Sehingga, janganlah kamu salah rencana dan salah melangkah, dan juga janganlah kamu pernah meninggalkan sembahyang lima waktu, serta janganlah kamu memandang remeh petuah ini
karena itu mengandung kebenaran yang akan menjadi kenyataan kelak.
Urgensi peran adat (ade’) sebagai falsafah hidup, di antaranya tercermin melalui kalimat di Kabupaten Wajo: “Maradeka To WajoE Adenami Napopuang” (hanya tanah atau negeri yang abadi yang siempunya tanah merdeka semua, hanya adat yang mereka pertuan).
Hal ini sejak lama menjadi prinsip dan kewajiban dalam kontrak sosial antar Arung Matowa (raja) dengan rakyat Wajo.
Eksisnya nilai sosio-kultural yang terkandung dalam pangaderrang, sehingga tetap bertahan dan menjadi pandangan hidup manusia Bugis, menurut Ahmadin Umar ada dua faktor: 1).Pertama, bagi manusia Bugis yang telah menerima adat secara total dalam kehidupan sosial budaya atau lainnya, konsisten atau percaya dengan teguh bahwa hanya dengan berpedoman pada adat, ketentraman dan kebahagiaan setiap anggota dapat terjamin.
2).Kedua, implementasi dengan berpedoman pada adat itulah yang menjadi pola tingkah laku dan pandangan hidup bermasyarakat.
Mari jaga ade dan perilaku kita sebagai wujud cinta kita sebagai suku Bugis.
Orang tua kita dulu mappaseng :
Singereng mu pada bulu, ada(n) mu si lappaE ruttungen manengngi. (Walau jasamu sebesar bukit, tapi seutas katamu (yang kasar) meruntuhkan semuanya. jaga lisan dan perkataan kita khususnya dalam dunia digital sekarang ini.
Bijak bermedsos lawan Hoaks.
Sau lo’ bessi te’ sau lo’ ininnawa. (Luka bekas tikaman besi dapat sembuh, tapi luka hati karena ucapan kasar, tak dapat sembuh
Prof. Dr. Hamka Haq, MA.
Soppeng, Juli 2022
Disunting dan diberdayakan :

Dr.Sudirman, S. Pd., M. Si.
(wija Ogi Soppeng)
Sumber :
https://www.kompasiana.com/ahmadin/55000266a33311fe6f50f98b/falsafah-hidup-orang-bugis-antara-nostalgia-sejarah-dan-realitas-sekarang

Sangat menarik.