Pappaseng adalah salah satu bentuk sastra klasik Bugis yang hingga kini masih dihayati oleh masyarakat yang berlatar belakang budaya dan bahasa Bugis.

Isi pappaseng mengandung bermacam-macam petuah yang dapat dijadikan pegangan dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan, baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi.

Secara etimologis
pappaseng berasal dari kata dasar paseng yang berarti pesan yang harus dipegang sebagai amanat, berisi nasehat, dan merupakan wasiat yang perlu diketahui dan di indahkan.

Dalam tulisan punagi (1983:1) dinyatakan bahwa pappaseng adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya (orang banyak) yang harus selalu diingat sehingga amanatnya perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas rasa tanggung jawab.

Mattalitti (1980:5) juga mengemukakan bahwa pappaseng bermakna petunjuk-petunjuk dan nasihat dari nenek moyang orang bugis zaman dahulu untuk anak cucunya agar menjalani hidup dengan baik.

Jadi, pappaseng adalah wasiat orang-orang tua dahulu kepada anak cucunya (generasi berikutnya) yang berisi petunjuk, nasihat, dan amanat yang harus dipatuhi dan dilaksanakan agar dapat menjalani hidup dengan baik.

Salah satu pappaseng yang saya dapat dalam medsos, bagus untuk anak kita memahami dan memaknainya, pesan ini saya sunting dari sumber : unknown yang sudah diteruskan berkali kali perlu kiranya di share agar bermanfaat.

“Anakku, Aku Sudah Tua…Tolong Maklumi Aku ya…!” Mendengar Kalimat Ini, Aku Cuma Bisa Banjir Air Mata…😭😭😭

Untuk anakku terkasih.
Kalau suatu hari nanti, kamu melihatku perlahan menjadi tua, tidak bisa lagi merespon dengan cepat, tubuhku juga semakin lemah, tolonglah bersabar dan cobalah mengerti aku.

Ketika aku makan dengan belepotan, bahkan tidak memakai baju, tolong jangan tertawakan aku, bersabarlah padaku dan tolong ingat, aku juga pernah mengajarimu semua hal ini.

Dengan sabar aku mengajarkanmu cara makan, berpakaian dan menghadapi kehidupanmu sendiri.

Ketika aku terus mengulangi kata-kata yang sama dan tak bisa lagi menyampaikan keinginanku, tolong beri aku sedikit waktu untuk berpikir, karena aku pun juga tidak bisa apa-apa.

Jangan terburu-buru berbicara denganku, karena bagiku yang terpenting bukanlah berbicara, melainkan waktu bersama denganmu.

Ketika aku tidak mau mandi, tolong jangan menyalahkan aku, cobalah ingat berapa kali aku harus terus menyuruhmu mandi sewaktu kamu kecil?

Ketika aku keluar rumah dan tidak menemukan jalan pulang, tolong jangan marah dan membiarkan aku di luar, bawalah aku pulang. Apa kamu ingat sewaktu kecil aku selalu khawatir kalau kamu tersesat dan tidak bisa pulang?

Ketika aku sering berbuat ulah, tanpa sengaja memecahkan piring, tolong jangan marah dan menyalahkanku. Coba kamu ingat berapa piring dan sayur yang kamu buang ke lantai sewaktu kamu kecil?

Ketika kakiku tidak lagi bisa berjalan, tolong papahlah aku, sama seperti aku memapahmu untuk melangkahkan kakimu pertama kalinya.

Ketika aku mendekatimu, janganlah marah atau sedih, tolong bersikap lembut padaku, sama seperti aku pernah melakukannya sewaktu kamu baru lahir ke dunia ini.

Suatu hari nanti, kamu akan menyadari, walaupun aku ini tidak sempurna, tapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu.

Ketika aku hampir berada di akhir hidupku, tolong temani aku, jangan membenci aku. Kamu perlu tahu, untuk membesarkanmu menjadi anak yang baik dan terdidik, aku juga telah bersusah payah.


Saat ini, aku juga takut. Tidak kusangka meninggalkan bumi ini ternyata begitu menakutkan, aku hanya berharap kamu bisa ada di sampingku sampai aku pergi. Aku tidak ingin sendirian.

Cobalah untuk mengerti dan membantuku, gunakanlah kasih dan kesabaranmu untuk membantuku mengakhiri hidup ini, aku akan menggunakan segenap hati dan cintaku untuk membalasmu. Aku mencintaimu, anakku!

Sahabat… pernahkan kamu memeluk ayah dan ibumu dan juga mengatakan hal yang sama? Kalau kamu juga mencintai mereka dan akan merawat mereka sampai akhir hayat. (Sumber: group WA. 2021)

Semoga pesan ini dapat bermanfaat. Pesan berantai di medsos ini merupakan Pappaseng Tomatoata lao ri ana’na (Wasiat orang tua kepada anak) inilah yang penulis akan sampaikan kepada seluruh pembaca mengingat pesan-pesan ini penuh makna yang sangat dalam.

Sangat banyak pappaseng tao riolo di masyarakat bugis yang perlu dihimpun dalam bingkai tulisan.
Pappaseng ini kuperuntukkan buat anak saya.
1). Raihan Ilmi Sastra Gibran
2). Ravika Ressova Sastra Raihanuun

Ayah & ibu
Koleksi pribadi sdm
(Visited 1,936 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

3 thoughts on “Pappaseng Tomatoa”
  1. Aku terharu membaca petuah ini terasa air mata mau menetes jasa Ayah dan bunda yang tiada terbalaskan kini hanya merenung dan berdoa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.