The kind of relatedness to the world may be noble or trivial, but even being related to the basest kind of pattern isimmenselypreferable to being alone. Death is never sweet, not even ifitissuffered for the highest ideal.
(Erich Fromm 1941)
Dalam bukunya yang berjudul Escape From Freedom, Fromm mencoba menganalisis kondisi psikologis dari masyarakat Eropa Modern yang telah “terbebas” dari jerat Abad Pertengahan.
Melalui analisisnya, Fromm menyatakan bahwa kebebasan terkait erat dengan kesadaran akan individualitas.
Dalam masyarakat Abad Pertengahan, seseorang menyadari dirinya tidak dengan mengamati langsung siapa dirinya, melainkan melalui posisinya dalam masyarakat.
Hal tersebut dapat mengantar kita pada pengertian, yaitu, bahwa kebebasan adalah keterlepasan individu dari sebuah sistem.
Menurut Fromm, kesadaran akan individualitas merupakan hal yang wajar pada manusia.
Hal tersebut terjadi karena manusia memiliki suatu hal yang istimewa, yaitu akal.
Akal adalah pembeda manusia dengan hewan lainnya. Setiap tindakan yang dilakukan hewan bermula dari insting.
Bila seekor harimau merasa lapar, maka ia akan menerkam apa saja yang dirasanya dapat memenuhi rasa laparnya.
Hal semacam itu tidak dimiliki oleh manusia.
Akan tetapi, akal bukan lantas menjadi simbol bahwa manusia lebih baik daripada hewan lainnya. Manusia mendayagunakan akalnya karena, secara biologis, manusia tidak lebih baik dari hewan; Manusia tidak sekuat harimau untuk membunuh mangsanya dalam sekali terkam.
Nah, akal inilah yang menjadi awal bagi lahirnya kebudayaan. Kebudayaan merupakan buah dari upaya manusia untuk memahami realitas, termasuk memahami dirinya serta hal-hal di sekitarnya.
Bila kita perhatikan, akal, dan upaya menyadari diri, telah membawa manusia berpindah dari keterikatan pada hukum alam (natural) menuju keterikatan pada hukum adat (kultural).
Sebagai contoh: seseorang, yang mendapat kehidupan awalnya dari manusia lain yang berjenis kelamin perempuan, ternyata bisa menganggap perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Dalam kebudayaan semacam ini, melahirkan adalah simbol kepasifan.
Menurut Fromm, upaya manusia untuk memahami realitas, diri, dan segala hal lain terus berlangsung dalam diri manusia. Hal inilah yang menyebabkan kebudayaan selalu bergerak.
Akan tetapi, seringkali, akal seseorang bergerak lebih cepat dan dinamis daripada kebudayaannya. Hal tersebut menjadikannya memiliki pemahaman yang berbeda dari masyarakat budayanya. Semakin cepat dan dinamis akal seseorang, maka ia akan semakin berbeda dari masyarakat.
Dengan demikian, kebebasan dapat menghasilkan dua hal yang terjadi secara nyaris bersamaan. Kebebasan adalah jalan agar akal menjadi lega dan tidak terkungkung oleh sistem eksternal, yaitu kebudayaan. Namun, kebebasan juga mengantar manusia pada keterasingan.
Pada akhirnya, rasa senang yang dimiliki seseorang ketika merasakan kebebasan akan segera berubah ketika ia menyadari betapa ia terasing, sendiri, dan kesepian. Kebebasan selalu memberikan ketidakpastian dalam hidupnya dan pada akhirnya ia akan merasakan anxiety.
Di tengah ketidakpastian dan keterasingan tersebut, seseorang yang bebas harus memiliki cukup keberanian. Akan tetapi, bila ia merasa takut, maka ia butuh untuk kembali pada kebudayaan yang telah ada sebelumnya.
Di tengah keadaan itu, menurut Fromm, manusia dapat memilih satu dari dua solusi berikut, yaitu memilih pasrah dan tunduk pada masyarakat budaya atau bertahan dalam keterasingan dan berupaya menemukan solidaritas antara sesama orang yang terasing.
Manusia tidak dapat menghindari hal tersebut. Pembebasan adalah konsekuensi dari aktifnya akal sedangkan akal adalah apa yang membuat kita menjadi manusia.
Jadi, apa artinya kebebasan? Kebebasan berarti terlepas dari ikatan dan hidup dalam keterasingan dan ketidakpastian.
Beranikah kita?
Diberdayakan :

Sudirman Muhammadiyah
Sumber:
Escape From Freedom (Erich Fromm)
(Treat Logos id.)

Good to read.
Bener sekali pak👍😊
Kebebasan akan membuat seseorang terasingkan, kesepian dan merasa sendiri. Tapi byk yg memilih jalan demikian ,karena mereka merasa pengekangan,dn perbedaan itu BS membuat mereka merasa bahwa “AQ harus klr dari ketidaknyamanan ini” pemberontak dalam diri , membuat seseorang menginginkan sebuah kebebasan. TPI ,kembali LG apakah ia siap akan smw konsekuensi nya dan bgmn ia membuat keterasingan dn kesepian menjadi sebuah situasi yang mana ia ydk merasakan nya. Bebas atau ttp bertahan dalam kebudayaan dn bersosialisasi ada pada pilihan setiap orang mau seperti apa.
Mohon maaf kiranya apa sy utarakan salah,terimakasih bacaannya pak. Sangat bermanfaat 👍🙏😊