Besse RismawatiBesse Rismawati

Oleh: Besse Rismawati

Ketika lebaran tinggal menghitung hari, mereka sibuk memikirkan untuk mudik. Tetapi berbeda dengan diriku si tukang jahit. Aku selalu sibuk dengan tamu-tamuku yang membawa pakaian yang robek, pakaian baru yang tidak pas di badan, dan bahkan kain yang belum siap pakai. Saat itu pula aku sibuk meluruskan benang kusutku, mengasah gunting kainku.

Lalu adakah yang mengerti dilema tukang jahit? Tukang jahit juga ingin mudik, tukang jahit juga ingin liburan, ingin kumpul keluarga, tetapi ia lebih mengedepankan kebahagaian orang lain. Tukang jahit tak pernah lupa bahwa dirinya pahlawan sandang manusia yang ada di bumi Pertiwi.

Meski usaha kecil, tetapi cukup menjadikan modal pejuang rupiah. Bangganya aku si tukang jahit, karena dengan menjahit membuatku mengerti kesabaran, menjahit bukan hanya tentang skill semata terapi harus dibarengi kesabaran dan ketelatenan. Dengan kesabaran bisa menyempurnakan kain yang koyak, bahkan kain yang terpisah.

Terima kasih jarumku, terima kasih benangku. Aku bisa menikmati proses jahitan demi jahitan ini. Walaupun engkau menusuk dan menyakitkan, tetapi engkau bisa menyatukan yang terpisah. Aku bangga menjadi tukang jahit.

Sahabat literasi, nampaknya kira harus banyak belajar kesabaran dan ketekunan kepada tukang jahit, setiap jelang Hari Raya Idul Fitri. Mulai dari menyerasikan warna benang dan kain, hingga meluruskan benang-benang kusut. Ikutilah jejak tukang jahit, saat ia mencintai pekerjaannya itu ibarat menyunting sekuntum mawar. Ketika ia menciumnya kadang kala harus merasakan bisa duri mawar yang menusuk. Begitulah ia mencintai pekerjaannya dan selalu ingin membuat pemakai jasanya tersenyum. Baginya, ia bahagia ketika melihat orang-orang pemakai jasanya bahagia menikmati hasil kerjanya.

Dari tukang jahit, ia telah mengajarkan bahwa, “Tidak ada kesempurnaan dalam ketergesaan.” Menjahit ibarat merangkai kehidupan, yang bermula kita harus merancang, mendesain, lalu kemudian mengukur besar kecilnya usaha yang digeluti. Semua pasti melewati hal yang sama, penuh suka duka. Suka kita maknai dengan syukur dan duka kita maknai dengan sabar.

Selamat bekerja sahabat tukang jahit. Mari kita selalu berbahagia menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga hubungan silaturahmi kita bertambah berkah dan selalu dalam lindungan Allah Swt. Amin.

*Penulis adalah pegiat literasi Kolaka Utara.

(Visited 78 times, 1 visits today)
One thought on “Balada Tukang Jahit Jelang Lebaran”
  1. MasyaaAllah Bunda,sampai hari ini,H-2 lebaran masih bxk kantongan berisi pakaian dan kain blum tersentuh.semoga bisa selesai tepat pada waktux🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.