Oleh : Gusnawati Lukman

Tidak ada yang abadi, begitu pula kehidupan. Tidak ada yang mengetahui kejadian yang akan datang, begitu pula takdir yang sudah ditetapkan-Nya. Tidak ada seorang pun di malam hari, yang benar-benar percaya bahwa dia akan hidup selamanya. Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan, tidak ada yang abadi. Dan karena pada akhirnya, yang benar -benar kamu miliki hanyalah kenangan.

Kenangan,…ah terpaksa aku buka kembali arsipku untuk mengenang hadirmu. Aku menyambutmu dengan salam penuh kasih layaknya seorang ibu kepada anaknya. Engkau pun membalasnya dengan emoji malu-malu,emoji sayang, dan emoji penghormatan. Itu menandakan bahwa engkau adalah anak yang baik, penuh kasih dan sayang.

Di awal hadirmu, engkau telah merontokkan kesombongan kami. Sekali lagi, tidak ada yang abadi. Engkau menggilas kami para tetuamu yang sudah lama bertahta di zona nyaman. Karyamu membuat kami tersentak. Aku membaca narasi-narasi yang tersusun rapi dengan diksi-diksi yang menggetarkan layaknya seorang penulis besar kenamaan. Aku Takjub. Aku mengakui kehebatan dirimu. Engkau anak yang masih bau kencur, namun memiliki talenta yang luar biasa.

Kami pun semua memujimu. Karena engkau anak yang baik, engkau pun membalasnya dengan kata-kata halus, penuh kerendahan hati bahwa kamu masih butuh bimbingan dari kami para seniormu. Bertahan dan bertahta sebagai yang terbaik di komunitas kita tentu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Para senior pun engkau kalahkan. Dan saat itu pula engkau berjanji untuk terus memperbaiki diri, belajar dan berkarya.

Tidak lama berselang, engkau pun tampil kembali dengan karya yang memikat hati. Maafkan aku anakku. Aku sempat membicarakan dirimu dan selalu bertanya-tanya bagaimana cara engkau tetap eksis di zona paling nyaman. Aku pun mengakui bahwa hadirmu melecutkan semangat untuk aku lebih bergairah lagi dalam melahirkan karya-karya. Dalam hati, aku merasa kalah.

Tapi sudahlah anakku. Semoga engkau tenang dan damai di sisi-Nya. Tak ada yang abadi. Setiap yang kita miliki pasti akan pergi. Tapi tak akan ada kesedihan jika kita rela untuk melepaskan. Kami pun sudah merelakan dan ikhlas melepas kepergianmu. Keluarga Besar Bengkel Narasi berduka atas kepergianmu.

#Tribute to Fitriani Kadir

(Visited 143 times, 1 visits today)
One thought on “Kami pun Kalah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.