Pembuktian Pernyataan I Mangkawani
Bangga menjadi orang Indonesia. Para pendiri bangsa mewariskan ideologi dan dasar negara Pancasila yang mampu mempersatukan rakyat di atas begitu banyaknya perbedaan. Mampu menciptakan persamaan rakyat di atas tingginya keanekaragaman.
Para tokoh kebangsaan mengajarkan kepada kita bagaimana mengemas begitu banyaknya perbedaan menjadi suatu irama yang melagukan simfoni kedamaian. Para pejuang kemerdekaan menunjukkan bagaimana mendesain keaneragaman di atas kanvas kebersamaan menjadi tenun kebangsaan yang tidak muda terkoyak oleh serbuan liberalisasi ideologi.
Bangga menjadi orang Sulawesi Selatan. Filosofi hidup Siri’ na Pacce menempatkan harga diri di atas segalanya. Tidak akan tertukar dengan nilai benda apa pun untuk mempertahankan jati diri sebagai manusia beradab dalam membangun peradaban di belahan bumi manapun berada. Itulah sebabnya empat suku besar yang mendiami Sulawesi Selatan ini menjelma menjadi manusia penjelajah yang melampaui batas-batas wilayah, bahkan benua.
Terkenal dengan tagline-nya, “Di mana ada laut dan hutan, di situlah manusia Bugis akan meletakkan pondasi dasar kehidupan untuk membangun peradaban.” Begitulah nenek moyang kita para pelaut berfilosofi, “Di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung.”
Bangga dilahirkan, bertumbuh, berkembang, dan membesar di Soppeng. Di sini tempat pertama kali saya menangis saat keluar dari kandungan ibu. Tempat ini memiliki “dua energi turbo” penggerak tak tertandingi yang mampu mendorong setiap warganya muncul ke permukaan sebagai pemenang.
Energi turbo pertama adalah “Sumpah La Temmamala.” Saat itu, ketika La Temmamala menerima pengangkatan dengan gelar “Datu Soppeng”, La Temmamala mengangkat sumpah di atas batu yang diberi nama “Lamung Patue.” Sambil menggenggam padi, La Temmamala mengucapkan kalimat yang artinya, “Isi padi ini tidak akan masuk melalui tenggorokan saya bila berlaku curang dalam menjalankan pemerintahan selaku Datu Soppeng.”
Subhanallah, inilah sumpah seorang pemimpin yang paling menggetarkan bumi dan mengguncangkan jiwa-jiwa rakyat yang dipimpinnya. Sumpah seorang pemimpin yang hanya menjadikan rakyat sebagai satu-satunya majikan yang harus dilayani. Sumpah seorang pemimpin yang 24 jam waktunya bertasbih untuk kepentingan rakyat. Sumpah seorang pemimpin yang menyadari benar bahwa sekecil apa pun kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt. Jadi, sejatinya setiap pemimpin harus melakukan Sumpah La Temmamala.
Energi turbo kedua adalah pernyataan I Mangkawani, seorang putri bangsawan Bugis yang merasa kecewa karena kekasihnya dibunuh dalam suatu pertarungan badik (sigajang) dalam sarung dengan saudara lelakinya sendiri. Ia terpaksa meninggalkan daerahnya, pergi membuang diri.
Dari tiga daerah yang pernah ditinggali, I Mangkawani kemudian mengeluarkan pernyataan yang bernilai historis sangat tinggi. “Tau warani tau Bone, tau sogi tau Sengkang’nge, tau acca tau Soppeng’nge.”
Ruslan Ismail Mage
Sekali lagi, “Tau acca tau Soppeng’nge.” Kalau pernyataan I Mangkawani itu dikonstruksi, maka pesannya adalah, “Orang Soppeng dilahirkan menjadi orang pintar (manusia-manusia pemelajar yang tidak pernah berhenti belajar). Ending-nya, orang pintar biasanya selalu menjadi pemenang. Itu artinya orang Soppeng dilahirkan menjadi pemenang.
Pernyataan I Mangkawani ini kemudian terbukti lagi bahwa orang Soppeng itu pintar. Adalah siswa-siswi Soppeng yang tergabung dalam komunitas Pena Anak Indonesia (PAI) kembali membuktikan bahwa orang Soppeng dilahirkan menjadi pemenang. Dalam website menulis khusus untuk anak-anak Indonesia, siswa-siswa Soppeng terus memunculkan karya-karya tulisnya hingga membahana di angkasa melampui batas-batas kota, negara, bahkan benua.
Kini, kita bisa membaca setiap saat tulisan mereka yang sudah diterbitkan menjadi buku oleh Pena Anak Indonesia (PAI). Penerbitan buku ini didukung sepenuhnya oleh Sipil Institute Jakarta, Bengkel Narasi Indonesia, RIM-YAN Academy, dan Elfatih Media Insani.
Selamat kepada Pena Anak Indonesia (PAI) Cabang Soppeng. Semoga ke depan semakin banyak anak-anak Bumi Latemmanala yang muncul ke permukaan sebagai penulis besar dan mengharumkan tanah kelahirannya.
Selamat kepada Bunda PAI Soppeng—Bunda Gusnawati—yang berhasil membimbing siswa-siswinya menulis, kemudian menyunting naskah buku ini. Insyaallah Bunda telah menyalakan lilin dalam jiwa mereka.
Ruslan Ismail Mage
Inspirator dan Penggerak


Terima kasih atas apresiasi dan sambutan Bang RIM yang luar biasa.