Oleh: Ruslan Ismail Mage
Kobaran api cinta sang pangeran flamboyan yang tampan rupawan ternyata tidak pernah padam, baik di laut terlebih di darat. Ketika sudah turun dari perahunya untuk melanjutkan pengembaraan di daratan Cina mencari cintanya, dia berpapasan dengan iring-iringan pengusung jenazah.
Sang pangeran kemudian memerintahkan salah satu pengawalnya untuk bertanya siapa yang meninggal. Dari informasi yang di terima, pengawal melapor ke Sawerigading bahwa yang meninggal adalah seorang putri tercantik dari kampung sebelah.
Seketika Sawerigading kaget dengan raut mukanya gelisah. “Jangan-jangan yang meninggal itu dan sedang dimasukkan ke dalam liang lahat adalah We Cudaiq,” katanya membatin. Bukankah menurut rombongan pengusung jenazah yang meninggal itu seorang putri tercantik di kampungnya? Lagi-lagi akal sehatnya tercabut kekuatan cinta yang terus membara dalam jiwanya.
Ketika jenazah putri itu sudah dimasukkan ke dalam liang lahat untuk ditimbun tanah, secepat kilat Sawerigading melompat masuk dan ikut terkubur bersama jenazah putri yang dikiranya We Cudaiq itu. Setelah para pengantar jenazah pulang, sesaat kemudian dengan kesaktiaannya Sawerigading sudah berdiri di tengah-tengah pengawalnya sambil berkata bahwa jenazah itu bukan We Cudaiq. Pengembaraannya pun mencari We Cudaiq kembali dilanjutkan.
Sebenarnya, isyarat alam tentang kedatangan putra mahkota Kerajaan Luwu di negeri Cina sudah sampai ke istana Raja Cina. Paginya, ketika matahari mulai merekah, Ratu Cina melihat sebuah matahari bergerak di depan matahari yang sedang naik ke Horison. Ternyata, matahari yang bergerak itu adalah I La Walenrennge, perahu induk Sawerigading yang sedang mendekati bibir pantai Cina.
Sekarang, Sawerigading sudah terdampar di negeri Cina. Apakah perjalanannya mencari cinta sudah mulus? Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dia masih harus melewati sejumlah ujian dan rintangan berliku untuk bisa menemukan dan memiliki cintanya.
Sawerigading masih harus menempuh perang penghancuran untuk menggiring We Cudaiq ke pelaminan. Terlebih setelah mengetahui We Cudaiq sudah bertunangan dengan seorang Settia Bongah yang dikalahkannya dalam pertempuran di tengah laut.
Karena itu, untuk melihat langsung kecantikan wajah We Cudaiq, Sawerigading memutuskan untuk menyamar menjadi seorang pedagang berkulit hitam pekat. Pangeran tampan rupawan ini kemudian menyulap dirinya menjadi pedagang berkulit hitam, lalu pergi menuju istana.
Setibanya di istana, ia sempat melihat sekilas wajah We Cudaiq dan langsung membenarkan dalam batin apa kata adiknya We Tenriabeng bahwa We Cudaiq teramat sangat cantik. “Perawakan dan kecantikan keduanya benar-benar mirip serupa, bagaikan pinang dibelah dua,” kata Sawerigading lagi-lagi membatin.
Setelah menyaksikan kecantikan We Cudaiq, Sawerigading tidak mau lagi buang-buang waktu. Ia segera menghadap Raja.
“Ampun, Baginda Raja. Mohon waktunya sejenak. Ananda ingin menghadap memperkenalkan diri. Ananda adalah Sawerigading, Putra Raja Luwu Batara Lattu dari tanah Bugis Sulawesi Selatan. Ananda datang membawa amanat Ayahanda, sudilah kiranya Baginda menerima Ananda sebagai menantu Baginda,” Kata Sawerigading penuh hormat.
“Hai, anak muda! Siapa gerangan engkau berani mengaku-ngaku? Apakah engkau mempunyai bukti anak dari saudaraku Raja Luwu Batara Lattu? Tanya Raja Cina.
Sawerigading pun segera memperlihatkan titipan We Tenriabeng berupa sehelai rambut dan sebuah gelang dan cincin. Sang Kemudian, sang raja memanggil anaknya We Cudaiq untuk mencocokkan rambut dan memasang gelang dan cincin tersebut. Hasilnya sangat sempurna, ternyata cocok semua.
Raja Cina kemudian berdiri mendekati Sawerigading lalu berkata, “Baiklah! Sekarang aku percaya bahwa engkau adalah keponakanku. Ayahandamu dulu pernah mengatakan kepadaku kalau ia mempunyai anak kembar emas. Anaknya yang perempuan bernama We Tenriabeng sama persis dengan We Cudaiq, dan anaknya yang lelaki bernama Sawerigading yang sekarang sudah berada di depanku. Raja Cina pun langsung menerima lamaran Sawerigading (Si Hitam Pekat) untuk mempersunting We Cudaiq.
Lalu, bagaimana reaksi We Cudaiq yang kecantikannya melebih bidadari itu ketika dilamar seorang pemuda berkulit hitam pekat? Mari bersabar menungggu kelanjuta ceritanya besok. [Bersambung]
