Buku yang sangat menarik dan memberi jawaban kepada masyarakat ketika demokrasi di Indonesia dianggap mengalami kemunduran. Kebebasan berpendapat saat ini mulai terancam sebagaimana yang sering disuarakan oleh netizen di dunia maya.

Mereka sangat berharap kepada pers yang independen, mandiri, dan berani menyampaikan suara publik atas nama kebenaran. Keberadaan pers dalam sistem demokrasi sangat dibutuhkan agar tujuan bernegara dapat diwujudkan.

Buku ini hadir memberi penjelasan yang mendalam dan komprehensif mengenai peran pers di tengah dunia yang semakin terbuka dan terhubung satu dengan yang lain. Tidak hanya itu, buku ini juga menyoroti bagaimana seharusnya pers berpegang kepada prinsip kemandirian dan independensi dalam memberitakan kebenaran kepada publik. Apalagi dalam konteks politik hari ini, tidak sedikit pers yang ikut terlibat menjadi bagian dari kekuasaan untuk mempropagandakan kepentingan kelompok tertentu.
Apa yang dibahas dalam buku ini membuka apa yang selama ini terselubung ketika warga negara terus mencari makna terhadap kebebasan dan keterbukaan informasi dalam berdemokrasi.

Dr. Asrinaldi, M.Si.
Plt. Ketua Program Doktor Studi Kebijakan Universitas Andalas

***

Keran kebebasan pers yang dibuka oleh Presiden B.J. Habibie tahun 1998 ternyata tidak banyak memberi pengaruh kepada fungsi pers sebagai kontrol sosial. Pada era Orde Baru, pembungkaman pers terjadi atas nama stabilitas nasional. Namun, pada era reformasi, model pembungkaman pers justru dilakukan para pemilik modal yang berkolaborasi dengan para politisi.

Sulit membayangkan peran pers sekarang ini untuk mendorong tumbuhnya demokrasi yang sesuai harapan masyarakat Indonesia dan konstitusi. Karena itu, tidak salah jika di dalam buku ini dinyatakan pers telah menjadi racun demokrasi. Bisakah pers kembali menjadi madu demokrasi untuk meng-energizer kekuatan demokrasi?

Buku ini akan menjawab kegelisahan kita semua tentang masa depan demokrasi di Indonesia. Membaca buku ini, diyakini akan memberi perspektif dan referensi baru tentang hubungan pers dan demokrasi di Indonesia. Selamat membaca!

Muh. Iqbal Latief
Sosiolog Universitas Hasanuddin
Wakil Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI)

***

Melihat isi yang dibahas dalam buku ini sebagai karya akademik yang sangat dinantikan untuk dapat mencerahkan kondisi demokrasi kita saat ini, serta posisi pers sebagai civil society yang semestinya merupakan pilar utama demokrasi. Hal ini menjadi penting karena pers yang tidak netral menjadi awal dari matinya demokrasi.

Buku ini menjadi outokritik dari kondisi demokrasi serta dunia pers saat ini, seiring dengan pers tidak lagi lantang bersuara untuk mengontrol hegemoni penguasa.

Dr. Suparman Abdullah, M.Si.
Wakil Dekan Bidang Perencanaan dan Sumber Daya
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

***

Buku yang ditulis oleh Ruslan Ismail Mage dengan judul “Pers Madu Racun Demokrasi” ini sangat menarik untuk dibaca, ditelaah, kemudian didiskusikan. Terutama bagi mereka yang mengemban pers sebagai kekuatan untuk membangun dan mendewasakan suatu yang sedang berkembang.

Dari masa kolonial, masa perjuangan, hingga saat kemerdekaan, pers memegang peran penting dalam mewujudkan bangsa yang kita cintai ini. Meski dalam masa kolonial yang ketat dengan pendudukan bersenjata, pers Indonesia tetap bergerak dengan bahasanya yang disesuaikan dengan keadaan, tanpa takut dibredel oleh penguasa. Apalagi di masa perjuangan, pers menjadi alat yang efektif setajam bayonet yang siap menancapkan pisaunya. Demikian pula di masa kemerdekaan, pers menjadi bunga-bunganya demokrasi untuk membangun bangsa.

Bahasa pers kadang-kadang halus, membawa pembacanya ke dalam suasana menyenangkan dan penuh kedamaian. Tetapi, di saat-saat tertentu bahasa pers bisa galak dan menusuk setajam bayonet yang siap menembus dada-dada pengkhianat.

Pers, dalam kondisi apa pun, akan selalu hadir tampil terdepan. Ia akan mendobrak apa pun yang menghalanginya demi mewujudkan kebenaran yang diembannya.

Dalam ruang demokrasi yang sedang dibangun, pers akan tampil membawa misi membenahi berbagai kekurangan yang ditangkapnya. Pers kadang-kadang bersahabat untuk membimbing ruang demokrasi yang sudah terbentuk. Akan tetapi, kadang-kadang pers keras dan tajam dengan kekhasan bahasanya. Namun, kehadirannya tentu selalu membawa misi untuk membangun lebih baik lagi.

Jadi, kalau Bang Ruslan Ismail Mage memberi judul bukunya dengan bahasa yang nyeleneh, yaitu “Pers Madu Racun Demokrasi” adalah tepat sekali. Karena, bahasa pers kadang-kadang terasa manis bagi penguasa, tetapi di kesempatan lain demi meluruskan yang bengkok-bengkok kadang-kadang tajam, setajam bayonet yang siap menancap di dada.

Selamat menikmati tutur kata yang ada dalam buku yang sedang Ibu/Bapak pegang ini.

Dr. Gugun Gunardi, M.Hum.
Akademisi, Penulis, Ketua Unfari Press Bandung

***

“Dari buku-buku di zaman kita, ragamnya begitu banyak, dan mereka mengikuti begitu cepat dari pers sehingga orang harus menjadi pembaca yang cepat untuk memperkenalkan dirinya bahkan dengan judul-judulnya, dan bijaksana untuk membedakan apa yang layak dibaca.” (Amos Bronson Alcott)

Buku yang ada di tangan sahabat pembaca ini adalah karya cerdas seorang akademisi ilmu politik yang melakukan riset tentang pers dan politik. Itulah kemudian buku ini lebih fokus dan tajam menyoroti peran pers dalam perkembangan demokrasi di Indonesia.

Diutas dalam lima chapter secara gamblang dengan bahasa simple yang sangat enak dicerna. Setiap pembahasan bukan hanya untuk insan pers, tetapi juga penting bagi seluruh pecinta literasi agar mengetahui apakah berita yang kita baca atau tonton itu mengandung madu atau racun.

Buku karya pak RIM ini bukan hanya membahas teoritis, fenomena kehidupan demokrasi, tetapi juga dengan analisis yang sangat tajam, tentu dengan solusi yang tepat. Terlebih ditambah lampiran dengan suguhkan fakta-fakta dan data terpercaya sebagai referensi pembuktian pers sebagai pencerah atau pers sebagai alat kekuasaan rezim.

Intinya, selama lima tahun terakhir, media massa di Indonesia sudah terang-terangan partisan. Ini ditandai dengan bergabungnya pemilik media besar menjadi tim sukses kandidat presiden. Akibatnya, pers yang sejatinya menjadi kekuatan keempat demokrasi setelah institusi eksekutif, legislatif, dan yudikatif, justru faktanya menjadi racun demokrasi dengan memilih menjadi partisan.

Untuk memahami madu racun pers di alam demokrasi, buku ini wajib sebagai bahan referensi, baik sebagai suntingan akademik maupun secara khusus bagi jurnalis, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Sangat recommended.

Coba bayangkan berita-berita dan sumber yang tidak jelas tersaji di setiap saat. Ketika kita cerna, maka akan menjadi suplemen otak, pikiran, tindakan, perilaku, bahkan karakter kita.

Buku akan abadi jika kita rajin membacanya, digital berlalu seiring dengan angin kencang peristiwa, dan dunia semakin terlipat dari satu peristiwa akan ditutupi berita lain. Pers berperan sebagai pemberi informasi kepada masyarakat, sekaligus penyuara kritis kepada penguasa. Pers independen memiliki kemerdekaan untuk memperoleh, mengolah, dan menyampaikan pikiran melalui lisan maupun tulisan.
Buku ini bagian dari pencerahan dan pencerdasan bagi kita semua. Semoga menjadi kado istimewa di Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2022. Saatnya mengembalikan pers sebagai kekuatan keempat demokrasi.

Dr. Sudirman, S.Pd., M.Si.
Akademisi Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) Makassar

***

Buku ini sangat fenomenal sebagai hasil pemikiran seorang akademisi yang terus mencari jalan dan jawaban dalam kehidupan pers di masa depan agar tetap eksis sebagai suara rakyat. Terlebih dalam dinamika percaturan politik, media massa terus mendapat ruang terbuka untuk tarik-menarik antara menjadi pers partisan atau konsisten menjadi pers independen.

Pemikiran sesorang akademisi tentu sangatlah berguna bagi kehidupan negara dan kebangkitan pers di masa depan. Sangat dibutuhkan alur pikir dan kritikan yang positif bagi kelangsungan hidup sebuah negara yang masyarakatnya heterogen.

Selamat atas terbitnya buku ini. Teruslah berkarya dan bersuara untuk kejayaan bangsa.

Dr. Harun Umar, M.Si.
Akademisi Universitas Nasional Jakarta

***

Buku dengan ulasan lima bagian ini menarik untuk diselami. Gugusan kata dan hamparan kalimat memicu dan memacu semangat untuk terus menikmati paragraf demi paragraf. Bingkai makna yang tersaji secara sederhana, tidak membutuhkan kerutan kening untuk sekadar menafsirkan maksud dari setiap narasi tulisan. Buku ini recommended untuk siapa saja pencinta literasi yang ingin membuka cakrawala berpikir perspektif eksistensi pers saat ini.

“Pers Madu Racun Demokrasi” karya inspiratif dari kedalaman berpikir seorang akademisi dan inspirator ini mengantar pembacanya untuk mafhum betapa pers berada dalam tarikan dua kutub yang saling bertentangan. Fenomena dan fakta yang tersajikan diperhadapkan pada negasi dan legasi. Serupanya kepentingan telah membingkai berita menjadi eufemisme.

Keberadaan buku ini akan memperkaya pengetahuan dan mengasah logika pembacanya untuk menarik simpulan pers saat ini: apakah madu atau racun bagi demokrasi?

Selamat membaca dan teruslah mencerahkan!

Dr. Ahmad Rijal Arma, S.E.,M.M.
Birokrat Muda Pemerintah Kota Palu

***

Pers adalah pilar kekuatan keempat dalam tatanan negara dan bangsa yang memilih demokrasi sebagai acuannya. Sebagai salah satu pilar kekuatan, banyak orang berharap pers berperan aktif sebagai penyeimbang untuk melakukan kontrol terhadap pemerintah.

Peran tersebut seharusnya menjadi tugas utama lembaga legislatif. Namun, belakangan ini muncul gejala banyak pihak yang  apatis terhadap peran legislatif. Legislatif seharusnya menjadi partner bagi eksekutif dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun, dengan banyaknya partai yang berkoaliasi dan merapat dengan pemerintah maka korelasi tidak maksimalnya peran legislatif sebagai penyeimbang terhadap pemerintahan seakan menjadi pembuktiannya.

Di sinilah pers sejatinya mengambil alih peran sebagai penyeimbang sekaligus dan melakukan peran pengendali jalannya demokrasi di Indonesia. Alih-alih pers berperan sebagai penyeimbang berjalannya sebuah negara demokrasi, justru yang terjadi saat ini adalah polarisasi dalam segala bentuknya.
Seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini, beberapa media melalui berita yang dikemasnya membawa pesan khusus dari pemiliknya yang menjadi pendukung salah satu kandidat presiden atau kepala daerah tertentu. Lebih gila lagi, media atau pers tertentu mengikhlaskan dirinya untuk melakukan black campaign terhadap kandidat lain.

Dalam kondisi demikian, maka benar apa kata dalam buku ini, “Pers telah menjadikan dirinya sebagai racun dalam berdemokrasi”. Pemberitaannya semakin jauh dari nilai-nilai independensi dan objektivitas.
Karena itu, sudah saatnya para jurnalis kembali ke khitahnya, yaitu meletakkan prinsip-prinsip dasar dan kaidah jurnalisme untuk mewartakan kebenaran atau menghindari informasi yang bias dari keliru atau salah. Tidak ada salahnya rekan-rekan jurnalis menengok kembali prinsip-prinsip “The Element of Journalism” Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001).

Sumardi, S.E., M.Si.
Asisten Komisioner KASN RI

***

Noam Chomsky berkata, “Rational discussion is useful only when there is a significant base of shared assumptions”. Diskusi rasional hanya bermanfaat bila ada basis asumsi bersama yang signifikan. Kalimat tersebut bisa bermakna bahwa kekuatan diskusi terletak pada kemampuan bernalar dan berargumentasi. Basis argumentasi yang kuat adalah rasionalitas yang terukur dan cara berpikir bertanggung jawab.

Indonesia sebagai negara demokrasi tidak ada pilihan lain kecuali memfasilitasi media/pers yang bisa menyalurkan ide-ide rasional tersebut. Maka, dalam alam demokrasi, setiap individu memiliki hak yang sama untuk berpendapat. Idealnya, tentu saja berpendapat yang sehat, jujur, sportif dan outcome base-nya secara signifikan dirasakan lingkungan sosialnya.

Membaca tema-tema kunci dalam buku karya pegiat hak-hak sipil ini tidak saja perlu dan penting. Selain itu juga memberi inspirasi konstruktif untuk mengeksplorasi sisi-sisi lain bahwa berdemokrasi bukanlah sekadar pergantian sistem, juga membangun kesadaran baru multidimensi dari seluruh warga negara!

Selamat membaca buku ini. Semoga bermanfaat.

Gatut Priyowidodo, Ph.D.
Dosen Ilmu Komunikasi UK Petra, Asesor BAN-PT Kemristek Dikti

(Visited 69 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: