Murad oğlu Ahmed atau Murad IV adalah Sultan Turki Utsmani antara 10 September 1623-9 Februari 1640, terkenal karena perbaikan otoritas negara dan kebrutalan metodenya. Ia adalah anak dari Sultan Ahmed I dan Sultan Kosem yang berdarah Yunani.
wikipedia

A. Sebuah Kisah Inspiratif
Di dalam buku hariannya
Sultan Turki Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kegalauan yang sangat,
ia ingin tahu apa penyebabnya.
Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu
apa yang dirasakannya.
Sultan berkata kepada kepala pengawal,
_”Mari kita keluar sejenak.”_
Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan di malam hari dengan cara menyamar.
Mereka pun pergi,
hingga tibalah mereka
di sebuah lorong yang sempit.
Tiba-tiba, mereka menemukan seorang
laki-laki tergeletak di atas tanah.
Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu, ternyata ia telah meninggal.
Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.
Sultan pun memanggil mereka, mereka tak menyadari kalau orang tersebut adalah Sultan.
Mereka bertanya,
_”Apa yang kau inginkan?_
Sultan menjawab,
_”Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya?
_Siapa dia?_
_Di mana keluarganya?”_
Mereka berkata,
_”Orang ini Zindiq,
suka menenggak minuman keras dan berzinah.!”_
Sultan menimpali,
_”Tapi . .
bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?_
_Ayo angkat jenazahnya,
kita bawa ke rumahnya”_
Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya.
Melihat suaminya meninggal,
sang istripun pun menangis.
Orang-orang yang membawa jenazahnya langsung pergi, tinggallah sang Sultan
dan kepala pengawalnya.
Dalam tangisnya sang istri berucap pada jenazah suaminya,
_”Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah…_
_Aku bersaksi bahwa
engkau termasuk orang
yang sholeh.”_
Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget..
_”Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya.?”_
Sang istri menjawab,
_”Sudah kuduga pasti akan begini…”_
_”Setiap malam suamiku
keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras, dia membeli minuman keras
dari para penjual sejauh yg ia mampu.
Kemudian minuman-minuman itu di bawa ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin.”_
_”Dia juga slalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata:
“Malam ini kalian sdh dlm bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.”_
_”Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata:
“Alhamdulillah, malam ini aku tlah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam.”_
_”Orang -orang pun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur, lalu mereka menuduhnya dengan berbagai tuduhan dan menjadikannya buah bibir.”_
Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku,
_”Kalau kamu mati nanti, tak akan ada kaum muslimin yg mau memandikan jenazahmu
mensholatimu dan menguburkan jenazahmu”_
Ia hanya tertawa, dan berkata,
_”Jangan takut, bila aku mati, aku akan dishalati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Wali.”_
Mendengar itu semua, Sultan Murad pun menangis, dan berkata,
_”Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad, dan besok pagi kita akan memandikannya,
menshalatkannya dan menguburkannya.”_
Demikianlah, akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri oleh Sultan, para Ulama, para Wali Allah dan seluruh masyarakat.
****
(Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhary dari _Mudzakkiraat Sultan Murad IV_)
****
Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini:
1). Jangan suka menilai orang lain dari sisi lahiriahnya saja. Atau menilainya berdasarkan ucapan orang lain.
Terlalu banyak yang tidak kita ketahui tentang seseorang.
Apalagi soal yang tersimpan di tepian paling jauh di dalam hatinya.
2). Kedepankan prasangka baik terhadap saudaramu.
Boleh jadi org yg selama ini kita anggap sebagai calon penduduk neraka, ternyata penghuni Firdaus yang masih melangkah di bumi.
Jadi, berhentilah berprasangka dan menggunjing seseorang sekalipun orang itu sangat kita kenal.
Sumber :
(https://bacautas.com/1526514256329736192)

B. Biografi Singkat Sultan Turki Murad IV
Naik tahta melalui sebuah konspirasi pada tanggal 10 September 1623, ia menggantikan pamandanya Sultan Mustafa pada usia 11.
Pada masa yang panjang Murad IV berada dalam kendali kerabat-kerabatnya, dan selama tahun-tahun pertama pemerintahannya sebagai sultan, ibundanya (Valide Sultane), Kösem, memegang kekuasaan. Negaranya jatuh dalam keadaan anarki: serangan Savid terhadap khilafah yang begitu cepat, pergolakan di Turki Utara dan serbuan yeniceri ke istana pada tahun 1631 yang membunuh wazir agung.
Murad IV takut akan nasib kakandanya Osman I, memutuskan untuk menuntut kekuasaanya. Ia mengeluarkan perintah untuk membunuh saudaranya Beyazid pada tahun 1635, diikuti oleh eksekusi terhadap 2 saudaranya setahun kemudian.
Ia mencoba memberantas korupsi yang telah berkembang semasa pemerintahan sultan terdahulu. Terhadap hal ini ia mengubah sejumlah kebijakan, seperti membatasi pengeluaran tak berguna. Ia juga melarang alkohol, kopi dan tembakau Ia memerintahkan hukuman mati bagi mereka yang melanggar aturan ini. Ia akan meronda di jalanan dan kedai seluruh Istambul dengan berpakaian seperti rakyat biasa di malam hari, menyaksikan penegakan hukum ini. Jika saat meronda di dalam ia menyaksikan prajurit merokok atau mabuk-mabukan, ia akan membunuhnya di tempat.
Secara militer, pemerintahan Murad IV terkenal akan perang terhadap Persia di mana pasukan Turki menaklukkan Azerbijan dan Tabriz Bagdad takluk pada tahun 1631 setelah mengepungnya. Perjanjian perdamaian ditandatangani pada tahun 1639 (perjanjian Kasr-i Shirin) sebelum kematiannya.
Murad IV sendiri memerintahkan serbuan terhadap Mesopatamia dan terbukti menjadi panglima tertinggi handal.
Selama gerakannya ke sana, ia meredam semua pemberontakan di Anatolia. Sebagai akibatnya, banyak nama tempat sekitar yang dinamai menurut namanya.
Ia mangkat pada usia 27 tahun akibat Sirosis hepatis pada tahun 1640. Sebelum mangkat, ia memerintahkan hukuman mati terhadap adindanya Ibrahim, yang berarti akan memangkas garis keturunan Turki Usmani (Ibrahim sendiri adalah satu-satunya lelaki di keluarga kesultanan bila Murad IV meninggal), namun perintah itu tidak dilaksanakan.
Di sunting dan di berdayakan kembali oleh:
Makassar 18, Mei 2022.


Sudirman Muhammadiyah
(Bengkel Narasi)

Saya juga suka baca sejarah para Sultan Daulah Utsmaniyah….