Disudut sebuah Caffe Taman Sudiang Indah, semua nampak indah di mata. Aku menemukan ketenangan jiwa. Jumat, 3 Mei 2022.

Meski itu harus kulalui sendirian rasanya seperti banyak kawan bukan memperbanyak lawan, padahal hanya segelas kopi vietnam dan kacamata tua, hati ini rasanya nyaman banget.

Lupakan sejenak aktivitas kerja, plus omelan mentah si pengurus rumah tangga, hanya gegara alpa setengah hari menginput kehadiran kerja.

Memang manusia tempatnya khilaf dan salah, lupa itu hal manusiawi. Yang buat kesal dirinya, kenapa menginputkan kehadiran teman, tapi lupa kehadiran sendiri. Begitu mendengar aku lupa input kehadiran mengamuk tujuh turunan.

Tetapi kalau saya lupa sholat wajib lima waktu, tenang-tenang ae, seolah tidak terjadi apa-apa. Apakah ini yang dinamakan Kamis Manis, Jumat Ganteng….hahahaha jangan memuji diri sendiri.

Ya maaf, kalau ibu-ibu lain mungkin sebaliknya, kalau suaminya lupa sholat wajib lima waktu dibentak-bentak, begitu lupa input kehadiran kerja podho adem, ayem, tentrem kertorahadjo, apakah demikian bunda muslimah, maaf ya.

Aku tidak mau melawannya, dipastika akan terjadi perang dunia kedua. Terkadang rasa marah itu, ingin ku lampiaskan, namun sebangun tidur aku segera wudhu ambil sajadah lalu sholat subuh kesiangan, setengah tujuh. Sekedar menenangkan jiwa, agar tamu berupa setan tidak berkecamuk dalam dada. Sengaja berteman segelas kopi vietnam tanpa sianida, melenyapkan amarah nyonya di rumah.

Melepas lelah bersama kepulan kata-kata antah brantah, menyampaikan pesan, jangan lampiaskan amarahmu. Lebih baik berwudhu lalu sholat agar setan minggat dari benak dan pikiran, terlebih dendam sama orang rumah itu dilarang.

Lebih baik bincang bincang santai, memandang jauh ke sana, siapa tahu ada bidadari yang singgah menenangkan diri di hari Jumat berkah ini.

Acapkali aku pusing selalu duduk di sana. Sembari merangkai kata mengisi waktu sambil membaca media sosial yang tanpa sengaja membuatku tertawa sendirian, kemudian menuliskan bait- bait sastra yang tak pernah tertata layaknya pujangga maupun ahli bahasa.

Memang diakui kopi bagaikan racun membuat senang sekaligus memberikan nuansa berbeda kepada setiap orang yang meneguknya.

Seperti saya yang menikmati kopi di Jumat pagi, sebagai cara melepaskan kemarahan istri di rumah sekaligus relaksasi otak kanan dan kiri, dimana diriku yang mempunyai riwayat epilepsi, seharusnya terhindar dari tekanan baik di kantor maupun di rumah tangga.

Kemungkinan beberapa teman beranggapan lain, meminum kopi untuk meredakan stress, sebagai teman ngobrol, teman menghisap rokok, atau hanya sebagai cara untuk bergaul melupakan kepenatan, dan menurut saya itu benar adanya.

Selain beribadah wajib dan sunnah, meminum kopi saat ini sudah menjadi gaya hidup masa kini. Dengan menikmati secangkir kopi sambil berbincang mampu menghangatkan suasana, melunturkan kelelahan dan ketegangan dalam rumah tangga, tapi pasti tidak semua pria sependapat dengan saya.

(Visited 19 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: