Pada suatu hari, seorang penulis mengirim pesan WhatsApp. “Kang, apakah Elfatih Media Insani ada menerbitkan buku dalam bentuk elektronik (ebook, red)?”

Pertanyaan yang menarik, pikirku. “Belum, Pak. Selama ini kami menerbitkan buku dengan pengajuan ISBN buku tercetak, bukan ebook.”

“Tapi kan bisa saja dijadikan ebook?” lanjutnya.

“Bisa saja, tetapi kami patuh pada regulasi. Kalau mau menerbitkan ebook, pengajuan ISBN juga untuk ebook, bukan buku tercetak.” Jawabanku mungkin terkesan sangat idealis.

Akhirnya, kami terlibat diskusi tentang perbandingan antara buku tercetak dan ebook. Dia mengeluhkan bahwa orang-orang lebih memilih ebook ketimbang buku tercetak. Hal tersebut agak membuatnya gamang.

Kemudian, aku sempatkan bercerita tentang komunitas Bengkel Narasi. Bersama Ruslan Ismail Mage atau Bang RIM, founder Bengkel Narasi, kami berkomitmen untuk memajukan literasi sebagai sahabat penulis. Kami berprinsip bahwa buku adalah “kartu nama” yang bisa kita bagikan pada publik. Tidak lagi berbagi kartu nama kertas berukuran 9 x 5,5 cm atau share contact melalui smartphone. Lebih jauh lagi, buku adalah “kado” untuk orang-orang yang kita sayangi. Ini tidak bisa kita lakukan jika formatnya adalah ebook, bukan?

Pada kenyataannya, Bengkel Narasi hadir sebagai komunitas pemelajar literasi membaca dan menulis yang sangat istimewa. Ia berbeda dengan komunitas lainnya. Ingat betul di awal membentuk Bengkel Narasi, Bang RIM mengulurkan tangannya, “Sahabat menjadikanmu pegangan, bukan pijakan.” Itu bukan sekadar lips service, tetapi betul-betul ia terapkan hingga saat ini.

Dua tahun menggerakkan Bengkel Narasi, belum pernah sekali pun kami berkonflik. Kok bisa? Karena Bang RIM mengajarkan manajemen satu rasa. Sepertinya halnya sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, ”Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.

Selain itu, Bang RIM tetap berprinsip bahwa Bengkel Narasi adalah wadah untuk memunculkan para anggotanya ke permukaan, bukan menjadikan anggota sebagai followers-nya semata. Ketika penggerak literasi masih sibuk menghasilkan buku, Bang RIM sudah sibuk melahirkan penulis. Aku sendiri adalah “produk” pertamanya di Bengkel Narasi yang dimunculkan ke permukaan. Siapa yang menjadikan Iyan Apt hebat? Bang RIM orangnya.

Kembali ke diskusi tentang buku vs ebook, aku sendiri merasa agak miris dengan kecenderungan ebook saat ini. Jauh dari filosofi “kartu nama” atau “kado”, ebook cenderung menjadi mesin pengumpul cuan dengan dalih transformasi digital perbukuan. Bahkan, di sebuah kesempatan mengikuti proyek pengadaan ebook, aku merasa miris melihat kualitas ebook yang diajukan. Isi dan tata letaknya asal-asalan. Bahkan, ada kecenderungan memecah naskah buku menjadi beberapa judul ebook. Yang dikejar adalah target jumlah judul ebook, tidak lebih dari itu.

Bagiku, buku tercetak tetap menjadi pilihan. Aku sudah terbiasa membaca buku sebagai referensi sejak masa sekolah dan kuliah. Bagiku, membaca buku lebih fleksibel. Aku bisa menemukan bahasan-bahasan yang penting dan mudah untuk diingat. Selain itu, aku pun bisa menandai bagian mana yang sudah dibaca. Tidak seperti membaca ebook, membaca buku tidak menyebabkan mata lelah dan pusing karena terkena radiasi layar gawai. Bahkan, dengan sedikit kreativitas, deretan buku-buku pada rak dapat berfungsi sebagai hiasan rumah. Semakin betah di rumah, kan?

Hingga saat ini, aku termasuk orang yang lebih menyukai membaca buku secara konvensional. Bagiku, membaca sudah identik dengan buku. Buku memiliki romantisme tersendiri: mengelilingi rak-rak di toko buku saat membelinya, memegangnya, membuka lembar-lembar kertasnya, dan mencium aroma bookpaper itu sangat menggairahkan.

Terakhir, membaca buku konvensional bisa mengalihkan mata dan perhatian kita dari gawai. Cobalah menyeduh secangkir kopi untuk menemani kita membaca. Bandingkan antara membuka lembaran buku konvensional dengan mengusap ebook melalui layar smartphone. Apa yang terjadi? Aku bisa bertahan berjam-jam membaca buku konvensional di kedai kopi. Namun, ketika membaca ebook, aku selalu tergoda oleh notifikasi Facebook, Instagram, dan WhatsApp. []

(Visited 79 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Buku Vs Ebook: Romantisme yang Tak Tergantikan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.