Oleh : Soni Putra*
Hari Jum’at adalah hari istimewa bagi umat muslim sedunia dan hari yang penuh barokah. Bukan berarti hari lain tidak baik dan barokah, cuma hari Jum’at hari kaum lelaki yang diwajibkan salat Jum’at di masjid.
Pada Jumat 18 November 2022, saya dihadapkan pada dua pilihan yang derajat kepentingannya sama. Pertama, jadwal tetap mengunjungi anak sulung yang sedang belajar di salah satu pondok pesantren di Bukittinggi. Kedua, ada komitmen ke kampus yang tidak bisa ditinggalkan juga. Kedua pilihan ini sama-sama penting dengan waktu yang sama di kota yang berbeda.
Terjadi anomali dalam jiwa yang membuatku harus merenung untuk menemukan jalan paling bijak agar keduanya bisa terlaksana dengan baik. Dalam proses perenungan itulah, batinku menemukan jawaban bahwa mengunjungi anak yang lagi mondok adalah suatu kewajiban dan tanggung jawab bagi seorang ayah. Rasa rindu dan sayang kepada anak sesungguhnya tidak bisa dibendung. Namun, di sisi lain urusan kampus tidak bisa ditunda juga. Karena itu, saya harus memilih salah satunya.
Akhirnya, dalam perjalanan saya memutuskan untuk menyelesaikan urusan kampus. Saya menyimpulkan ilmu dan pembelajaran tidak dapat ditunda sedangkan menengok anak dengan tabungan rindu yang besar masih bisa dilakukan di lain waktu.
Dalam mobil di simpang jalan, lahir kesepakatan. Istri saya dan adik ipar melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi menengok anak sulung di pondok. Sementara saya melanjutkan perjalanan ke kampus di Kota Padang. Sampai di kampus tepat waktu dan langsung kumpul dengan teman-teman untuk menemui sang dosen inspiratif kami bapak Ruslan Ismail mage (RIM).
Sahabat, saya memilih ke kampus karena saya ingin menuntut ilmunya, bukan sebatas menginginkan gelar akademik. Sebagaimana pesan pak RIM, kalau ingin menuntut ilmu maka wajib mematuhi hukum proses yang mengajarkan, “Tidak ada kesuksesan dalam sehari dan tidak ada kemenangan dalam semalam”.
*Wali Nagari dan penikmat literasi menulis.
