Gegara ayahnya tidak memberi biaya untuk menikah. Seorang anak  sebut saja RS (17) nekat membakar rumah yang ditinggali ayahnya di Kabupaten Tebo, Jambi.

Mengutip sosial media kompas menurut  keterangan Kanit reskrim Polsek Tebo Tengah, Aipda Doma, pelaku ini berniat untuk membakar rumah yang ditinggali bapaknya itu pada malam hari. Cuma memang niat pelaku bukan mau mencelakakan bapaknya. Akhirnya, niat membakar rumah yang mereka tinggali terlaksana pada pagi saat bapaknya berangkat kerja.

Kebakaran terjadi di rumah Amri, yang beralamat di Kelurahan Tebing Tinggi, Kecamatan Tebo Tengah, Kabupaten Tebo, Jambi pada Sabtu (4/2/2023).

Sebelumnya, RS si pelaku pembakaran rumah itu ditangkap warga karena membawa lari seorang gadis. Warga pun meminta mereka dinikahkan. Berawal dari desakan warga tadi kemudian RS meminta biaya nikah kepada ayahnya.

Lantaran ayahnya belum mempunya biaya, salah satu anggota keluarga sempat “menawarkan” untuk menjual rumah ayahnya tersebut buat modal nikah.

Namun tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh ayah RS. Amri, menolak karena rumah itu satu-satunya tempat tinggal mereka.

Komitmen ayahnya menolak menjual rumah, sang anakpun gagal menikah dengan wanita pujaan hatinya. Bukannya menyadari alasan ayahnya enggan menjual satu-satunya rumah tempat mereka berteduh dari terik matahari dan hujan. Justru memicu RS naik pitam. Anak tak tahu diri ini melampiaskan amarahnya dengan membakar rumah Amri, yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.

Membakar rumah orangtua sungguh sebuah perbuatan konyol, namun desakan salah satu keluarganya untuk mereka menikah dan menjual rumah tanpa memikirkan dampak psikologis, boleh dikatakan nasehat provokatif sekaligus salah sasaran.

Alangkah baiknya, anak tadi diberi motivasi untuk sekolah lalu bekerja/buka usaha sendiri, setelah siap lahir dan bathinnya, baru memikirkan menikah. Niscaya, orang yang memiliki pekerjaan dan penghasilan, jodoh itu pasti datang dengan sendirinya.

Perbuatan anak ini memang salah, tapi lebih salah orang disekitar pelaku, karena menyarankan menjual rumah orang tua dan memaksakan mereka menikah saat orantuanya kesulitan ekonomi, akan menambah permasalahan baru.

Untungnya pernikahan itu belum terjadi. Nggak terbayang kengeriannya biduk rumah tangga mereka dengan latarbelakang perekonomian serumit itu.

Andai anak ini berfikiran waras, bahwa kehidupan setelah menikah lebih berat, jika dibandingkan dengan kehidupan sendiri atau jomblo, tanpa harus memikirkan kehidupan anaknya orang. Artinya, siap nikah berarti siap menafkahi anaknya orang secara lahir dan bathin.

Setelah mengulas kisah memilukan tadi, saya terngiang pribahasa jawa ‘Anak Polah, Bopo Kepradah.’

Kiasan dalam Bahasa Jawa itu berarti, apa yang dilakukan oleh seorang anak, akan menimbulkan dampak yang harus ditanggung oleh bapaknya.

Singkatnya jika anak melakukan perbuatan buruk, maka orangtua yang akan mendapatkan hukumannya.

Memang manusia diciptakan berbeda-beda sesuai kapasitasnya masing-masing. Hhmmm renungkanlah!.

(Visited 28 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.