Oleh: Nurhaeda

Menulis merupakan proses menuangkan kreativitas atau gagasan kedalam bentuk bahasa tulisan yang biasa disebut karangan yang di dalamnya ada ungkapan isi pikiran, ide, pendapat, dan lain-lain.

Kata Bang Iyan” Menulislah yang baik baik saja, jangan menyesatkan sebab setiap karya kita kelak akan dimintai pertanggung jawaban.Karena tulisan dan lisan itu sama yang membedakan dari kata verbal dan nonverbal saja. Seperti kata Imam Nawawi bahwa kita tidak pantas berbicara kecuali berbicara yang baik dan jelas mengandung maslahat, bila diragukan kemaslahatannya maka diam adalah langkah yang utama. Olehnya itu, kami Pena Barru yang bergabung dalam Bengkel Narasi akan terus berusaha menorehkan tinta di atas kertas dengan perkataan-perkataan yang baik dan benar.

Oh ya, masih ingat nggak kisah Lupus karangan Hilman Wijaya tahun 90-an? Seru banget tuh. Isi ceritanya lucu dan enak dibaca cocok bagi kita yang suka baca yang isinya ringan-ringan saja seringan kerupuk yang gizinya nihil tapi disukai karena gurih dan garing. Soalnya, kalo baca buku pelajaran tuh berat banget bagi kami yang otaknya berfungsi cuma seperempatnya saja, jadi mau tak mau buku pelajaran jadi pajangan dan buku novelnya jadi pegangan. He he he he.

Balik ke Bang Hilman Wijaya, di benakku ,..nih orang ringan banget ya nulisnya sampe bisa bikin novel dan releasenya booming di kalangan anak muda di masanya. Sejak itu terbersit cita-cita dalam hati ingin jadi penulis hebat seperti beliau tapi karena situasi dan kondisi saat itu belum ada Bang Ilham yang mengarahkan akhirnya jadilah cita-cita terpendam.

Waktu pun berlalu, berpuluh-puluh tahun menjalani hidup hingga menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak dan suami melewati banyak problematika hidup berumah tangga dan pekerjaan. Kadang ketika ada masalah biasanya buat coretan di kertas dan buang, efeknya setelah coretannya dibuang masalah yang dihadapi cepat tuntas, wah efeknya banget, mungkin nulisnya sembari doanya melangit.

Hebatnya menulis, kita bisa menuangkan semua rasa yang tidak bisa diungkapkan langsung dengan lisan tapi dengan mudah orang lain dapat memahami. Makanya ketika salah satu teman yang sekarang koordinator Pena Barru mengenalkan komunitas Bengkel Narasi, saya langsung bersemangat ingin bergabung. Ya itung-itung saya bisa belajar gratis kepada mereka yang sudah mumpuni di bidang menulis dan tentunya hobbi menulis saya bisa tersalurkan dan bisa bertemu orang-orang yang satu frekuensi itu adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku.

Sebagai makhluk sosial tentu saya membutuhkan pertolongan orang lain seperti saudara, sahabat,teman yang siap menanggapi perasaan kita dalam keadaan senang, sedih ataupun marah.

Olehnya itu buat teman-teman Pena Barru, saya senang bisa bertemu di komunitas ini, meski jumlah anggota saat ini masih minoritas, semoga efek menulisnya memberi pengaruh yang baik bagi orang-orang di sekitar kita dan juga mereka yang ada di luar sana. Serta bisa menarik minat teman seprofesi untuk bisa bergabung di Pena Barru dengan karya-karya terbaiknya.

Wassalam

(Visited 154 times, 1 visits today)
One thought on “Pena Barru”
  1. Waoh keren…
    Membaca karya diatas rasanya sangat mewakili apa yang saya alami dulu duluuu sekali…… Sampai saat ini
    “Cita-cita jadi Penulis yang terlewati…
    Jika memulai goresan pena diatas kertas…. Entah kenapa goresan itu berakhir ditong sampah…. Masalahnya
    Aku Belum percaya diri jika goresan itu bermanfaat bagi orang lain”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.