Oleh : Rosita Samad, SP
Tulisan ini saya dedikasikan kepada semua bunda hebat di mana pun berada.
Sepenggal kisah perjalanan hidup yang tentu saja tak sama dengan bunda-bunda lainnya, karena genggaman takdir memang tak pernah serupa.
Sabtu, 20 Juni 1998 Masehi, bertepatan dengan 25 Safar 1419 Hijriah, 27 tahun yang lalu, di tengah hiruk pikuk Piala Dunia Prancis (Coupe du Monde de Football 1998) yang saat itu mempertemukan laga Spanyol vs Paraguay dengan skor masih imbang 0–0, rasa sakit mulai menjalari sekujur tubuhku, tak tertahankan. Seisi rumah panik dan kami segera berangkat ke rumah sakit.
Proses berjalan begitu panjang hingga akhirnya tangismu memecah keheningan malam di Massenrempulu, sekitar tiga jam kemudian. “Alhamdulillah, anaknya laki-laki dan sempurna secara fisik,” kata sang bidan. Bahagia luar biasa terpancar dari raut wajah ayahandaku dan ayah Sabir, anak dan cucu yang telah lama dinanti kehadirannya. Rasa sakit itu seketika lenyap, berganti deraian bahagia atas nikmat Allah yang menganugerahkan amanah dan menjadikanku ibu bagi putra kecilku yang sangat menyejukkan hati.
Waktu berlalu, mengubah helaian benang kehidupan dan memintal kenangan tumbuh kembang putraku, yang kini telah menyelesaikan lima tahapan pendidikan formalnya dengan torehan yang baik dan mengesankan. Putra kecilku yang dulu tak mau memulai acara syukuran kelahirannya jika sahabat-sahabat kecilnya belum datang, kini telah menjadi remaja yang dewasa dan memilih sendiri minat serta talenta untuk menapaki jalan kariernya.
Kini, seiring pergantian waktu dari hari ke pekan, bulan, dan tahun yang merangkak pergi menorehkan jejak, 27 tahun sudah engkau hadir, menghiasi dan menyempurnakan bahtera rumah tangga kami. Usia yang kian dewasa, dan menyadarkan ayahbunda akan satu hal: bahwa kelahiran dan perjalanan hidupmu adalah rangkaian takdir yang terus tertapaki bersama, manis dan pahit ataupun rasa di antara keduanya.
Juni 1998 adalah Juni yang indah bagi Bunda, karena hadirmu benar-benar menjadi buah hati pelipur lara ayahbunda, sekaligus cucu pertama Kakek Nontji.
Sebait doa senantiasa kupanjatkan kepada Sang Pencipta, kiranya putraku dilimpahi keberkahan hidup dan menjadi anak yang saleh, yang senantiasa istiqamah dalam kebaikan. Bunda berharap percikan indahnya Juni 1998 tetap berpijar sepanjang bulan dalam setahun, hingga waktu pupus oleh masa.
Barakallah fii umuriq Putra pengganti nama ayah dan ibu, Juni 2025
