Oleh: Artati Latif*

Pasca melewatkan musim tanam pertama dan kedua tahun 2025 bagi tanaman padi di seantero negeri, kini komoditas strategis nasional tersebut kembali untuk dibudidayakan di musim ketiga pada periode sisa tanam gadu bulan Agustus-September 2025. Upaya penekanan penanaman padi hingga demikian masif dilakukan petani sebagai titah pemerintahan saat ini untuk mewujudkan swasembada pangan nasional.

Visi swasembada pangan yang dituangkan dalam berbagai program dan kegiatan khususnya pada subsektor tanaman pangan mencakup optimasi lahan, perluasan areal tanam baru, cetak sawah rakyat hingga peningkatan indeks pertanaman padi dari satu atau dua kali tanam dan diintervensi hingga menjadi tiga kali penanaman dalam setahun pada bidang lahan yang sama. Kegiatan sosialisasi maupun penyuluhan diberbagai level masyarakat pun dilakukan dalam rangka memberi pemahaman terhadap para pelaku pertanian untuk mendalami tujuan produksi pangan berkelanjutan.

Kesinambungan sistem produksi pangan utamanya komoditas padi sebagai tanaman tradisionalis petani hingga kini terus diupayakan peningkatan luas tanamnya dari berbagai sumber lahan potensial. Sejak kebiasaan berusaha tani padi hanya pada musim tertentu dan mungkin dibatasi oleh beberapa kendala seperti ketersediaan air, sarana pupuk atau benih, dan yang lebih penting adalah restu pemilik lahan yang terkadang membutuhkan izin khusus untuk proses kelanjutan penggarapan sawah oleh petani. Namun saat ini, fenomena yang berkembang adalah keluwesan atau adanya chemistry antara para penguasa lahan dan penggarap untuk bersinergi melanjutkan usaha tani padi musim tanam ketiga tahun 2025.

Pengarahan spesial kelanjutan musim tanam ketiga dilakukan oleh Kepala Pusat Pendidikan Pertanian selaku Pj. LTT Padi Kabupaten Barru sejak 3 bulan terakhir, menekankan target LTT Padi khusus pada bulan Agustus 2025 seluas 2.100 hektare agar bisa dicapai. Sebagai tindak lanjut atas arahan tersebut maka pada hari libur sekalipun yaitu Ahad, 24 Agustus 2025 dilakukan aksi gerakan tanam padi bersama untuk yang ketiga kalinya pada lokasi persawahan kelompok tani Soreang Jaya I di Kelurahan Tanete (Tanete adalah salahsatu WKPP di Kecamatan Tanete Rilau). Penanaman padi pada MT.III merupakan yang pertama kali dilakukan di wilayah tersebut pada hamparan sawah tadah hujan berpompanisasi seluas 48,0 hektare dari luas baku sawah 220 hektare. Penggunaan varietas genjah Cakrabuana Agritan atas atensi dari Pusat Pendidikan Pertanian, Kementerian Pertanian sebanyak 10 ton yang tersebar di wilayah penganut MT.III tahun 2025.

Penerapan musim tanam ketiga adalah merupakan hal yang tak lazim di kalangan petani. Budidaya padi di luar musim kebiasaan bagi para pelakunya adalah pekerjaan yang tidak lumrah dan diluar kendali penyelenggaraannya karena dominasi faktor alam yang terkadang menjadi bumerang di lapangan. Walaupun demikian, penyikapan terhadap anasir yang menghambat kenormalan pertanaman telah dilakukan usaha antisipasi seperti penggunaan varietas padi genjah dan eksplorasi sumberdaya air. Terkait materi perlindungan tanaman, pemerintah telah menyiagakan bahan pengendali organisme pengganggu tumbuhan.

Nuansa MT.III di Kabupaten Barru telah mulai menyebar ke lokasi-lokasi persawahan potensial milik petani. Frekuensi indeks pertanaman hingga tiga kali tanam dalam setahun sudah mulai menyasar lokus-lokus penumbuhan padi sampai di pelosok daerah irigasi atau sawah tadah hujan berpengairan semi teknis pompanisasi. Teknologi pengairan berselang-intermitten, aktivasi sumur tanah dangkal atau sumur suntik dan rumah pompa semakin digiatkan untuk mendukung ketersediaan air manakala kemarau menjadi ancaman bagi IP-300.

Segenap perangkat musim tanam ketiga terus disiagakan sebagai penjamin keselamatan pertanaman. Terlebih sikap petani didalam menjaga dan merawat sistem budidayanya. Perangkat pendukung lain yang cukup menjanjikan adalah HPP gabah yang sangat layak ketika masa panen tiba. Transisi musim akan mengantarkan kepada suasana pasar beras semakin kondusif karena waktu panen musim ketiga akan jatuh pada awal bulan desember dimana hari-hari besar keagamaan dan akhir tahun akan meningkatkan permintaan pangan tinggi seperti beras.

Aktualisasi MT.III di Kabupaten Barru dimulai dari hamparan kecil hingga potensi tanamnya akan meluas. Walaupun hanya ditanami satu, sepuluh atau seratus hektar namun jika dilakukan oleh 100 atau 1.000 petani dalam musim yang sama pada setiap kampung dan desa, maka pertanaman padi ketiga di wilayah ini akan bertambah luas dan peluang produksi gabah menjadi besar. Musim tanam ketiga adalah suatu keniscayaan dan menjadi nyata dilakukan di Kabupaten Barru sebagai penopang dalam mencapai swasembada pangan nasional.

Tanete, 24 Agustus 2025

*PPL WKBPP Tanete Rilau

(Visited 55 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.