Di balik setiap tawa pelaku, ada air mata korban yang sering kali tak terlihat oleh dunia
A. Pendahuluan
Perundungan (bullying) adalah fenomena yang tidak hanya terjadi di sekolah atau tempat kerja, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial yang lebih luas.
Di balik tindakan perundungan, terdapat struktur budaya, norma, dan nilai-nilai yang secara tidak langsung membentuk perilaku pelaku, respons korban, dan sikap masyarakat terhadapnya. Dalam konteks ini, perundungan bukan semata-mata masalah individu, tetapi juga cerminan dari budaya kita sebagai masyarakat.
B. Perundungan dan Budaya Kekuasaan Relasi Kuasa: Perundungan sering kali terjadi karena adanya ketimpangan kekuasaan.
Budaya hierarkis yang menekankan dominasi dan kekuatan dalam masyarakat kita memungkinkan pelaku merasa berhak untuk menindas pihak yang dianggap lebih lemah.
- Contoh: Di sekolah, siswa yang populer atau memiliki status sosial tinggi cenderung menjadi pelaku perundungan terhadap siswa yang dianggap berbeda atau “tidak sesuai.”
- Budaya Kompetisi:
Masyarakat yang terlalu mengglorifikasi kompetisi sering kali menciptakan tekanan untuk “mengalahkan” orang lain. Dalam konteks ini, perundungan menjadi alat untuk menunjukkan superioritas dan mempertahankan status.
Perundungan dan Norma Sosial
- Perilaku yang Dinormalisasi:
Dalam beberapa budaya, perilaku agresif, seperti ejekan atau kekerasan verbal, sering kali dianggap sebagai “biasa” atau “hanya bercanda.” Hal ini membuat perundungan sulit dikenali dan bahkan diterima sebagai sesuatu yang wajar.- Contoh: Istilah seperti “anak laki-laki memang suka berkelahi” atau “itu kan cuma candaan” sering digunakan untuk membenarkan tindakan perundungan.
- Stigma terhadap Korban:
Korban perundungan sering kali diberi label negatif, seperti “lemah,” “tidak tahan banting,” atau “bermasalah.” Stigma ini membuat korban merasa terisolasi dan enggan melaporkan kejadian perundungan.
Budaya Digital dan Perundungan
- Cyberbullying:
Dengan berkembangnya media sosial, perundungan kini tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Budaya digital yang sering kali kurang memiliki regulasi etika memperbesar ruang bagi pelaku untuk bertindak tanpa konsekuensi.- Contoh: Komentar negatif, body shaming, atau penyebaran hoaks di media sosial menjadi bentuk perundungan yang semakin marak terjadi.
- Anonimitas dan Impunitas:
Budaya internet yang memungkinkan anonimitas membuat pelaku perundungan merasa “kebal hukum” dan bebas melakukan tindakan agresif tanpa takut dikenali atau dihukum.
Peran Budaya dalam Mencegah Perundungan
- Membangun Budaya Empati:
Salah satu cara untuk mengurangi perundungan adalah dengan menanamkan nilai-nilai empati dan penghormatan terhadap perbedaan sejak dini.- Contoh: Program pendidikan karakter di sekolah yang menekankan pentingnya menghargai keberagaman.
- Mengubah Narasi Kekuasaan:
Budaya yang menekankan kolaborasi daripada kompetisi dapat membantu mengurangi perilaku agresif. Ketika masyarakat lebih menghargai kerja sama, perundungan sebagai bentuk dominasi akan kehilangan relevansinya. - Mengatasi Sikap Apatis:
Dalam banyak kasus, perundungan terus terjadi karena masyarakat sekitar memilih untuk diam dan tidak bertindak. Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya intervensi dapat membantu menghentikan siklus perundungan.
C. Kesimpulan
Perundungan adalah refleksi dari dinamika budaya kita sebagai masyarakat. Ketimpangan kekuasaan, normalisasi perilaku agresif, dan budaya kompetisi yang berlebihan semuanya berkontribusi pada munculnya fenomena ini. Namun, dengan membangun budaya empati, menghormati perbedaan, dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melawan perundungan, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan bebas dari kekerasan sosial.
Tawa dan air mata” dalam konteks perundungan mengingatkan kita bahwa apa yang dianggap lucu oleh sebagian orang bisa menjadi luka mendalam bagi orang lain. Sudah saatnya kita berhenti menertawakan penderitaan dan mulai membangun budaya yang lebih manusiawi.
Penutup
Perundungan bukan hanya tindakan, tapi cerminan budaya yang mengizinkan kekuasaan berbicara lebih keras daripada empati.
Perundungan adalah masalah bersama yang membutuhkan perhatian dan aksi nyata dari setiap elemen masyarakat. Sebagai cerminan budaya kita, perundungan menunjukkan bahwa masih ada nilai-nilai yang perlu diperbaiki, terutama terkait penghormatan terhadap perbedaan, empati, dan relasi kuasa.
Melalui pemahaman yang lebih mendalam, kita dapat bergerak bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat, di mana tawa tidak lagi menyakiti, dan air mata tidak lagi menjadi simbol penderitaan. Saatnya kita menjadi bagian dari perubahan, karena budaya yang kita bangun hari ini akan menentukan masa depan generasi berikutnya.
“Mari hentikan perundungan, mulai dari diri sendiri, hingga akhirnya budaya kita menjadi lebih ramah, adil, dan penuh empati.”
Penulis

Dr.Sudirman, S. Pd, M. Si.
Pengampu Matkul Sosiologi Pendidikan
Budaya yang sehat adalah budaya yang menertawakan kebahagiaan bersama, bukan penderitaan orang lain.
