Oleh : Tammasse Balla
Buaya selalu dituduh sebagai lambang kebuasan, keserakahan, dan kelicikan. Orang menyebut lelaki hidung belang sebagai “buaya darat.” Orang yang licik dalam bisnis sering dikatakan “sebuaya-buayanya manusia.” Ia jarang dipuji, hampir tak pernah dijadikan simbol kasih sayang. Buaya jadi makhluk yang hanya pantas dimusuhi. Padahal, siapa yang berani menatap matanya lebih lama, akan menemukan ada ketenangan purba di sana, seakan-akan mewarisi rahasia umur bumi yang lebih tua dari manusia.
Kulit buaya, ironisnya, justru menjadi rebutan manusia. Begitu bernilai ketika sudah dipisahkan dari tubuh empunya. Tas bermerek, dompet mahal, ikat pinggang prestisius, semua lahir dari “penghinaan” kepada buaya. Kita benci buaya ketika masih bernapas, tapi kita berebut kulitnya ketika ia sudah mati. Betapa mirip dengan cara manusia memperlakukan sesamanya: diabaikan ketika hidup, dirayakan ketika sudah tak ada.
Namun, jangan salah. Buaya yang katanya buas itu bisa jinak juga. Mereka yang sabar menemaninya, mengusap kepala bersisiknya, akan tahu bahwa kebuasan hanyalah satu sisi. Ada ruang untuk kasih sayang, bahkan pada rahang yang sanggup meremukkan tulang. Buaya bisa diajak bermain, bisa menjadi sahabat yang setia, asalkan kita tahu cara mengusap amarah purbanya.
Menaklukkan buaya, sebenarnya, bukan urusan fisik. Bukan karena kita lebih kuat, lebih pintar, atau lebih cerdik dari hewan purba itu. Menaklukkan buaya berarti menaklukkan ketakutan kita sendiri. Seperti banyak hal dalam hidup: ketakutan itu sering lebih berbahaya daripada objek yang ditakuti. Buaya di sungai mungkin hanya satu, tapi buaya di kepala bisa seribu jumlahnya.
Ada orang yang menaklukkan buaya dengan tali, rantai, dan pukulan. Ada juga yang menaklukkannya dengan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang. Buaya tidak berbeda jauh dengan manusia. Semakin kita sakiti, semakin ia menggigit. Semakin kita sabar, semakin ia luluh. Menaklukkan buaya bukan hanya soal keberanian, tapi soal cara kita mengelola kelembutan di tengah ancaman.
Jika kita jujur, buaya hanyalah cermin besar bagi manusia. Kita sendiri sering lebih buas dari buaya. Kita melahap tanah, menelan hutan, membunuh sesama demi kekuasaan. Kita pandai berkamuflase seperti buaya yang berdiam tenang di permukaan sungai, lalu tiba-tiba menerkam. Hanya saja, buaya tidak pernah pura-pura suci. Ia jujur dengan kebuasan dirinya, sementara manusia sering menutupinya dengan seribu topeng moral.
Menaklukkan buaya sejati bukan berarti menundukkan reptil purba itu, melainkan menundukkan buaya dalam diri kita sendiri. Nafsu serakah yang menganga, keangkuhan yang membusung, kelicikan yang menyelinap. Kalau kita bisa menaklukkan itu, maka buaya sungguhan yang bersisik di sungai pun akan merasa segan. Keberanian bukanlah soal menguasai yang lain, tetapi menaklukkan monster yang diam di dada kita sendiri.
Thamrin City Jakarta, 21 September 2025
Pk. 12.02 WITA
