Oleh : Tammasse Balla
Ketika keberhasilan mengetuk pintu, tak jarang iri menjadi sahabat terdekat. Seperti bayangan di siang bolong, ia tak terlihat, namun senantiasa ada, merasuk ke dalam kalbu. Iri, sebuah perasaan yang memakan hati dan membakar asa, mengubah senyum manis menjadi senyum penuh kepalsuan. Namun, di balik setiap senyum palsu, ada sorak-sorai kegembiraan yang tersembunyi saat melihat kita tergelincir dalam lubang kegagalan.
Pada saat kegagalan menghampiri, tepukan tangan menggema, seperti irama hujan yang menyambut tanah gersang. Bukan tepukan untuk menyemangati, melainkan untuk merayakan terjunnya kita dari puncak yang selama ini kita daki dengan susah payah. Mereka yang dulu meminta pertolongan kini berdiri di barisan terdepan, memandang dengan mata dingin dan hati kosong. Seolah-olah keberhasilan kita adalah sebuah kejahatan, dan kegagalan adalah hukuman yang pantas kita terima.
Ketika hidup menuntun kita pada keberhasilan, ramai orang datang menghampiri, mengeluh akan beban hidup mereka, dan tanpa ragu meminta uluran tangan. Kita menjadi tempat bersandar, dinding yang kokoh, pelindung dari badai. Namun, ketika badai itu berlalu dan matahari kembali bersinar, mereka yang pernah meminta bantuan lenyap tanpa jejak. Mereka lupa, seolah-olah tak pernah ada tangan yang terulur, tak pernah ada bahu yang rela basah oleh air mata mereka.
Saat langkah kita terhenti oleh sebuah kesalahan, sekecil apapun itu, dunia seolah-olah berhenti sejenak untuk menyaksikan lakon itu. Mereka yang dulu diam kini menjadi pembicara paling lantang, mengabadikan kesalahan kita dalam ingatan kolektif. Kesalahan kita diviralkan, dibesarkan hingga menutupi segala kebaikan yang pernah ada. Mereka lupa bahwa kita pernah menjadi penyelamat, menjadi teman setia di saat gelap datang.
Namun, hidup adalah rangkaian pembelajaran yang tak pernah usai. Dari keberhasilan kita belajar tentang arti kerendahan hati, dari kegagalan kita belajar tentang keteguhan hati. Dari mereka yang iri, kita belajar tentang pentingnya menjaga jarak, dan dari mereka yang lupa, kita belajar bahwa kebaikan tak perlu diingat atau diungkit. Kebaikan adalah cahaya yang akan selalu menemukan jalannya, meski tersembunyi dalam gelap.
Dalam heningnya malam, saat bintang-bintang menjadi saksi bisu, kita merenung tentang perjalanan ini. Bahwasanya kesuksesan bukanlah akhir dari segalanya, dan kegagalan bukanlah kiamat. Keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama, mengajarkan kita tentang keseimbangan dalam hidup. Ketika kita berhasil, ingatlah bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dari sorak sorai orang lain, tapi dari ketenangan hati yang tahu bahwa kita telah berusaha dengan segenap jiwa.
Kita akan selalu bertemu dengan mereka yang hanya ada di saat senang, dan lenyap di saat susah. Namun, jangan biarkan hati kita menjadi pahit karenanya. Biarkanlah mereka berlalu, karena sejatinya hidup ini bukan tentang mereka, tapi tentang bagaimana kita menjalani setiap detik dengan penuh makna.
Pada akhirnya, ketika kita menutup mata di akhir hari, apa yang kita ingat bukanlah sorak-sorai atau tepukan tangan, bukan pula celaan atau kebencian. Yang tersisa adalah rasa damai, bahwa kita telah memberikan yang terbaik, menjalani hidup ini dengan keberanian dan cinta. Biarkanlah dunia berjalan dengan segala hiruk-pikuknya, sementara kita melangkah dengan tenang, membawa serta pelajaran yang telah kita pelajari sepanjang perjalanan ini.
Hotel Shangri La Jakarta, 19 September 2025
Pk. 01.00 WIB
